MENJADI ORANG TUA KATOLIK YANG BAIK MELALUI PEMBERIAN DIRI

Kasih sayang yang bertanggungjawab.

Tugas dan tanggungjawab orang tua bukan hanya diwujudkan dengan memenuhi kebutuhan anak-anak dengan materi. Mestinya orang tua Katolik dapat memberikan perhatian dan sentuhan kasih sayang kepada anak-anak mereka sejak dini, sebelum terlambat dan menjadi luka batin. Itulah sebagian sharing pengalaman dari Pasutri Agung dan Theodora Virene (anggota Tim Kerasulan Keluarga Keuskupan Agung Jakarta) di hadapan para peserta Sarasehan Keluarga yang diadakan oleh tim kerja Kerasulan Keluarga DPP Paroki St. Yoseph. Dalam sesi pertama, Pasutri Agung-Virene membagikan pengalaman dan kiat-kiat menjadi orang tua yang mampu memberikan kasih sayang secara bertanggung jawab di dalam keluarga.

Peserta sarasehan keluarga cukup antusias. Ada yang sudah datang pukul 13.15, padahal registrasi baru dimulai pukul 13.30. Sejumlah 76 peserta, ditambah 6 orang tim pujian dan 7 orang panitia terlibat dalam sarasehan yang mengambil tema “Menjadi orang tua Katolik yang baik melalui pemberian diri”.

Sarasehan Keluarga
Sambutan Rm Ag. Dwiyantoro Pr dalam Sarasehan Keluarga (28/10/2017)

Tepat pukul 14.10 WIB acara dibuka dengan pengantar oleh ibu Laurentina Nonie, dilanjutkan dengan pujian bersama yang dipandu oleh tim pujian perwakilan dari PDKK dan Waberkat. Selanjutnya Rm Agustinus Dwiyantoro Pr, dalam sambutannya mengapresiasi dan menguraikan tentang Sarasehan yang menurut Romo waktunya unik karena dimulai saat siang hari. Baru sekali ini dialami oleh Romo. Tentu butuh perjuangan dan komitmen dari peserta untuk hadir dan mengikuti sarasehan ini. Di akhir pengantar Romo Toro memberikan kuis berhadiah rosario. Pertanyaannya, berasal dari manakah asal salah seorang pembicara yang masih termasuk keuskupan Purwokerto?

Pemberian diri lewat memahami anak dan mengambil sikap yang tepat

Dalam sesi selanjutnya, Rm Alexander Erwin Santoso, MSF (Ketua Komisi Kerasulan Keluarga KAJ) memaparkan 5 Bahasa Cinta yang perlu dipraktekkan orang tua terhadap anaknya yaitu:

  1. Sentuhan
  2. Dipuji
  3. Waktu bersama
  4. Sering diberi hadiah
  5. Sering dilayani
Sarasehan Keluarga-1
Rm Erwin memberikan materi Sarasehan Keluarga dengan gaya komunikatif (28/102017)

Usia seksualitas anak itu ada pada rentang 4-12 tahun. Pada saat itu biasanya terjadi bipolaritas, yakni ketika anak bisa menginginkan 2 hal yang saling bertentangan (ya dan tidak). Dalam kondisi itu, orang tua perlu mengajarkan yang baik dengan membedakan antara sengaja dan tidak sengaja. Orang tua juga bisa menjelaskan pengertian dosa dan tingkatannya.

Dengan banyak contoh konkrit dan gaya kocak yang membuat para peserta tetap bersemangat, Rm Erwin juga mengajak para orang tua untuk memahami arti identitas diri dan bagaimana menumbuhkannya dalam diri anak. Ini menjadi sesuatu yang penting bagi anak remaja yang sedang mencari identitas dirinya. Identitas ditandai dengan adanya visi yang jelas mengenai nilai-nilai kebajikan, cita-cita dan tujuan. Orang tua mesti mengetahui apa yang muncul dalam diri anak-anak remaja mereka mengenai tujuan hidup. Kemudian, membimbing mereka untuk dapat merumuskan pernyataan tentang identitas diri. Selain itu, pada usia remaja pengaruh teman dan lingkungan cukup besar bagi pembentukan identitas diri. Karena itu, orang tua perlu membantu anak-anak remaja mereka untuk dapat menemukan aktivitas positif yang diminati dan komunitas yang mendukung.

Sarasehan Keluarga-6
Salah seorang peserta menanyakan seputar cita-cita anak dan harapan ortu (28/10/2017)

Beberapa peserta mengajukan pertanyaan terkait cita-cita atau impian masa depan anak. Terkadang apa yang dianggap baik oleh orang tua tetap bisa diarahkan untuk menjadi cita-cita anak-anak mereka. Keseharian orang tua yang adalah seorang dokter atau pedagang, misalnya tentu secara tidak langsung akan menjadi pengalaman yang juga diakrabi oleh anak mereka. Maka tidak heran, banyak anak yang mempunyai cita-cita untuk menjadi seperti orang tuanya di masa mendatang. Tapi orang tua juga tidak boleh memaksakan diri bila anak mereka mempunyai impian atau cita-cita yang berbeda. Tugas orang tua lah untuk membimbing dan mendukung agar potensi anak berkembang dan dapat meraih cita-citanya itu.

Dari “iman warisan” ke “iman yang dipercayakan pada diri”

Dengan contoh-contoh dialog antara orangtua dan anak remaja yang dipraktekkan Romo Erwin, para peserta sarasehan merasa pengalaman itu “gue banget”. Begitu pula dalam menjelaskan tentang pertumbuhan iman anak. Dalam konteks pertumbuhan iman, orangtua lah yang pertama-tama membimbing anak-anak remaja untuk beranjak dari “iman warisan” kepada “iman yang dipercakan pada dirinya”. Ada 3 tahapan atau proses yang perlu ditempuh, yakni:

  1. Merasakan imannya
  2. Membela imannya
  3. Menerapkan imannya

Anak-anak remaja diajak dan dikondisikan untuk dapat merasakan suasana doa, meditasi, merenungkan Kitab Suci dan refleksi agar semakin merasakan kasih dan kebaikan Tuhan yang telah mereka alami. Proses ini akan membuat anak merasakan imannya sebagai suatu pengalaman personal yang menyentuh afeksi, bukan sekedar rasional. Sentuhan batin mengalami perjumpaan Tuhan yang diimani pada masa remaja jauh lebih penting dari penjelasan rasional tentang ajaran-ajaran iman.

Proses selanjutnya, anak dibimbing untuk makin percaya diri dengan apa yang diimaninya karena sudah menjadi pengalaman pribadi. Rasa bangga dan memiliki imannya akan tumbuh perlahan-lahan. Kemudian mereka akan mampu membela imannya di hadapan tantangan yang ada.

Akhirnya orang tua mesti membimbing anak untuk dapat memasuki tahap berikutnya yakni menerapkan imannya dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman iman itu akan dipraktekkan dalam sikap, tutur kata dan perilaku mereka. Dampingi anak-anak dengan  dialog, tunjukkan sikap pengertian dan keteladanan agar anak-anak dapat mengambil keputusan yang tepat. Beri apresiasi atau penghargaan atas apa yang baik. Temani mereka dengan sabar tanpa memberi hukuman di saat ada kesalahan. Ajak mereka merefleksikan pengalamannya dan berdoa. Niscaya mereka akan lebih kuat, tetap optimis dan bisa memperbaiki diri. Di saat menghadapi masalah dan tantangan mereka akan dapat menghadapinya dengan tenang berkat keyakinan iman akan Allah yang penuh kasih.

Gunakan gawai secara cerdas

Di era teknologi informasi ini, orang tua juga ditantang untuk mendampingi anak-anak mereka dalam menggunakan gawai (gadget) dan sarana internet dengan cerdas. Orang tua perlu memahami beberapa hal penting terkait teknologi informasi dan konteks masyarakat kita. Pertama, konteks psikologis dan sosial anak Indonesia yang tumbuh dalam lingkungan yang cenderung represif (dengan banyaknya “larangan” atau aturan di ruang publik). Anak-anak akan mencari kesempatan menggunakan gawai dan internet di ruang pribadi untuk mencari tahu dan melakukan hal-hal yang “ditekan” di ruang publik.

Kedua, memahami dinamika karakter ekstrovert dan introvert. Anak yang ekstrovert akan cenderung lebih terbuka, bebas mengomunikasikan dirinya dan mudah bergaul atau bersosial. Sedangkan anak introvert akan cenderung tertutup, tidak suka berkomunikasi secara verbal dan tidak banyak bergaul secara langsung. Dalam menggunakan gawai akan terjadi perbedaan antara anak ekstrovert dan anak introvert.

Ketiga, orang tua perlu bijak dalam menghadapi anak-anak yang suka games, medsos dan informasi. Anak-anak dibimbing untuk bisa memutuskan waktu, cara, konten dan manfaat dari penggunaan internet sehingga tetap mengindahkan nilai-nilai kristiani.

Keempat, dinamika psikologis “winner or loser” (pemenang atau pecundang/pihak yang kalah). Ada kebutuhan psikologis dalam diri anak untuk dihargai, diterima, dilibatkan dan menang. Seiring dengan itu anak-anak juga bisa merasa diri sebagai pihak yang kalah (loser), merasa tidak dihargai, tidak diterima dan tidak dilibatkan. Orang tua perlu memahami dinamika psikologis ini pada anak-anak mereka.

Kelima, online dan virtual abuse (penyalahgunaan/penyimpangan di dunia maya) berupa cyber crime dan cyber bully (kejahatan dan kekerasan yang menggunakan jaringan internet) juga perlu diwaspadai oleh orangtua dan anak-anak. Jangan sampai anak-anak menjadi korban maupun pelaku dari tindakan penyalahgunaan internet tersebut

Keenam, gejala kecanduan internet juga perlu diwaspadai agar tidak terjadi pada anak-anak remaja kita. Bila sudah sampai kecanduan, anak-anak bisa kehilangan gairah, atau ritme hidupnya jadi kacau, bahkan ada yang sampai bunuh diri bila koneksi internet terputus.

Pada intinya, romo Erwin mengajak para orang tua peserta sarasehan untuk membimbing anak-anak mereka agar dapat menggunakan internet dengan cerdas. Sikap waspada yang wajar dan pendampingan yang baik akan menjauhkan anak-anak dari timbulnya masalah psikologis dan perilaku akibat penyalahgunaan internet. Gangguan itu bisa berupa perilaku yang berubah (menjadi tidak wajar), intoleransi, asosial, terus menerus online dan sebagainya.

Proses mengenal, mengasihi dan melayani

Sebelum mengakhiri sesinya, romo Erwin memberikan rangkuman singkat dan menyanyikan sebuah lagu pop rohani berjudul “Kau mengasihiku”. Lagu yang dibawakan dengan penuh penghayatan itu menyentuh hati para peserta sarasehan, sehingga sebagian besar peserta ikut bernyanyi.

Di penghujung acara, romo Kristiadji mewakili seluruh DPP dan umat paroki St. Yoseph mengucapkan terima kasih dan apresiasi atas kerelaan Romo Erwin dan pasutri Agung-Virene berbagi “berkat” untuk umat Sanyos. Apa yang dibagikan oleh tim dari KAJ menyadarkan para orangtua untuk lebih mengenal/memahami (to know), mengasihi (to love) dan melayani (to serve) anak-anak mereka sebagai wujud kasih dan pemberian diri. Konteks perkembangan jaman juga perlu dipahami dengan baik agar cara atau pola pendekatan dalam membimbing anak-anak tetap up to date (atau sesuai dengan kondisi terkini). Bila itu tidak dilakukan, maka anak-anak kita bisa menjadi “the lost generation” (generasi yang hilang) karena terseret arus jaman. Tentu kita semua berharap, anak-anak di paroki Sanyos dapat bertumbuh dalam kasih, menemukan identitas diri sebagai anak-anak yang dikasihi dan berbakti pada Tuhan, keluarga, gereja serta masyarakat. Untuk itulah pemberian diri (hati, pikiran, tenaga, waktu, dll) dari orang tua sangatlah dibutuhkan. Siapkah para orang tua di paroki Sanyos melakukannya? Semoga.

Penulis:

Agus Gudyana Mbak Titin

Agus G & Ch. Endang Muriatin

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s