GEREJA MESTI TETAP MENJADI “LUMEN GENTIUM”

*Rangkuman Hari Studi Para Uskup 2017: Gereja Mesti Tetap Menjadi “Lumen Gentium”

Dengan mempertimbangkan situasi kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini dan mengingat panggilan Gereja sebagai pewarta pengharapan, Hari Studi Para Uskup dalam Sidang Tahunan KWI 2017 selama tiga hari di Aula KWI, Jakarta Pusat membedah tema “Gereja yang Signifikan dan Relevan: Panggilan Gereja Menyucikan Dunia.”

Setelah mendengarkan pemaparan para narasumber dan melalui diskusi panjang di antara para Gembala serta debat-debat alot di antara mereka, akhirnya membuahkan hasil berupa sebuah rangkuman dari pengamat proses Hari Studi Para Uskup 2017. Pengamat proses tersebut adalah Rm. Dr. Peter C. Aman OFM, dosen Moral Kristiani STF Driyarkara.

Menurut pengamatan Direktur Komisi JPIC-OFM Indonesia ini di tengah carut-marut kondisi bangsa dan negara saat ini, Gereja Katolik tidak kehilangan asa dan gagasan untuk merajut kesatuan dan mengupayakan keadilan serta merawat keutuhan keluarga bangsa Indonesia. Gereja mesti tetap menjadi “lumen gentium” (terang bagi bangsa-bangsa -red.) dan mesti menegaskan peranannya di tengah dunia modern dengan mengintegrasikan “kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan masyarakat Indonesia zaman ini.” Atas dasar keprihatinan serta hasrat kuat demi bangsa dan Gereja itulah, tahun ini Gereja menegaskan gerak-langkahnya dalam tema: “Menjadi Gereja yang Relevan dan Signifikan: Panggilan Gereja Menyucikan Dunia.”

Lalu, pertanyaannya adalah bagaimana Gereja merumuskan perannya di tengah masyarakat Indonesia saat ini?

Lanjutnya, hal tersebut bisa dilakukan melalui langkah-langkah berikut ini:

Kondisi yang digambarkan para narasumber selama hari studi ini berpotensi menghancurkan bangunan kebangsaan, maka Gereja ditantang untuk menjadi kekuatan masyarakat warga dalam memperjuangkan kebersamaan dan merawat Pancasila, demi mewujudkan keluarga bangsa Indonesia atas dasar Pancasila.

1. Gereja perlu berjerih payah dan bekerja keras dengan semua yang berkehendak baik, serta mengoptimalkan potensinya sendiri untuk berkiprah dan terlibat di banyak bidang dan lembaga-lembaga publik. Gereja dalam sejarahnya dikenal karena memberi kontribusi besar bagi bangsa dan negara Indonesia di bidang pendidikan, kesehatan dan sosial-karitatif.

2. Mengupayakan pemurnian dan optimalisasi tugas Gereja menyucikan dunia melalui perjuangan perwujudan nilai-nilai Pancasila, dengan demikian Gereja akan tetap relevan dan signifikan bagi dunia, khususnya Indonesia.. Menyucikan dunia berarti menjadikannya selaras kehendak Bapa, maka di sini seruan Evangelii Gaudium mendekati kenyataan, menjadi “Gereja yang memar, terluka dan kotor karena telah keluar di jalan-jalan, bukan Gereja yang menutup diri dalam kenyamanannya sendiri” (bdk. EG 49). Lorong kemartiran mungkin mesti dilalui.

3. Para Gembala perlu semakin menyadari bahwa padang rumput Indonesia semakin gersang. Maka, para Gembala ditantang untuk tetap setia, menyerupai Sang Gembala Agung. Para gembala berbau domba adalah tuntutan nyata, merajut kesatuan dan hadir dalam kehidupan umat; bahkan memberi terang pengarah atau menjadi suara hati dunia, seperti kata Paus Paulus VI. Gereja diminta bersuara untuk keadilan dan perampasan hak-hak masyarakat, merevitalisasi organisasi-organisasi Katolik agar lebih terlibat dalam persoalan bangsa, serta meretas jalan bagi evangelisasi yang memperhitungkan soal-soal sosial, budaya serta keadilan sosial-ekologis.

4. Gereja ditantang untuk keluar menebarkan kasih sayang tulus bagi masyarakat Indonesia, di tengah realitas masyarakat yang semakin eksklusif berdasar agama atau kepercayaan. Berdialog dengan tulus, berbagi kebaikan tanpa ingin menguasai adalah pintu lebar bagi dialog iman dan perwujudan kebersamaan persaudaraan. Untuk itu Gereja Katolik ditantang untuk mengintegrasikan spirit dialog dalam kebijakan pastoral dan formasi tenaga pastoral ke depan. Nilai-nilai Pancasila, yang memang sejalan dengan nilai-nilai Kristiani, dapat diangkat dalam pastoral dan refleksi teologis Gereja (teologi Pancasila).

5. Memajukan peran Gereja (kerja sama awam-hierarki) dalam pendidikan nilai-nilai Pancasila serta mendorong awam untuk terjun ke bidang politik, ekonomi dan pemerintahan. Mengasah kepekaan dan mendorong aksi: mewujudkan tugas dan tanggung jawab sosial awam Katolik agar menjadi pelaku keadilan dan pemulih keutuhan ciptaan. Menggalakkan usaha pembangunan ekonomi dengan memperhatikan hak-hak masyarakat (adat), keadilan dan perlindungan lingkungan hidup. Jurang kaya miskin mesti menjadi komitmen awam Katolik untuk mencegah semakin lebarnya kesenjangan itu dan pencabutan hak-hak masyarakat serta kecemburuan sosial. Kerasulan kepada awam-awam kaya perlu dilakukan. Kedamaian hanya dapat terwujud jika ada keadilan. Mewujudkan keadilan adalah saripati dari tugas mewartakan Injil. Pendampingan dan panduan pemimpin Gereja untuk awam agar berani terlibat di pelbagai lini kehidupan terasa makin perlu.

6. Para gembala Gereja diharapkan menjadi promotor utama untuk mendekatkan Gereja dengan masyarakat, agar Gereja tidak terkesan eksklusif, tetapi hadir dalam gerakan afirmatif melalui aksi sosial, pemberdayaan masyarakat serta membangun kebersamaan hidup demi mengikis kecemburuan, antipati dan penolakan. Kerja sama dengan pemerintah, pemimpin-pemimpin masyarakat/adat dan agama menjadi pilihan penting untuk pemimpin Gereja. Memajukan peran masyarakat awam, terutama tokoh-tokoh adat, yang sebenarnya masih signifikan, kendati sering diperalat korporasi.

Sumber : Dokpen KWI (PS). Foto: Komsos KWI

____

Catatan tambahan (kiriman email Rm Leo Sugiyono MSC di milis MSC Indonesia):

Sidang Tahunan KWI 2017 telah dimulai kemarin, Senin 6 Nopember 2017 dan akan berakhir tanggal 16 Nopember 2017. Sidang KWI dimulai dengan Hari Studi para Uskup yang kali ini temanya: Gereja Yang Relevan dan Signifikan: Panggilan Gereja Menyucikan Dunia. Sebagai narasumber: Bpk. Yudi Latif-Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (Lima Isu Strategis Membumikan Pancasila), Bpk. Yunarto Wijaya-pengamat politik Univ. Parahyangan (Politik Indonesia 2017-2018), Rm. Prof. Eddy Kristiyanto, OFM (Eksistensi dan Peran Gereja Katolik dalam Pembangunan Keindonesiaan), Bpk. Prof. Adrianus Meliala (Pengalaman Sebagai Awam Katolik terkait dinamika di Sektor publik), Rm. Felix Supranto, SSCC (Inspirasi Kebangsaan: Kisah Menenun Kebhinekaan), Bpk. Jeirry Sumampow, STH (Merawat Indonesia: Motivasi, Tantangan dan Harapan) dan Alissa Wahid-Jaringan Gusdurian (Islam Indonesia).
Sidang KWI kali ini juga dihadiri empat Uskup baru: Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Mgr. Samuel Oyyon Sidin, OFM, Mgr. Rolly Untu, MSC dan Mgr. Sunarko, OFM.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s