UMAT SANYOS SIAP KERJA BERSAMA WUJUDKAN BUDAYA KEHIDUPAN

HUT RI.jpg
Dekorasi panti imam gereja St. Yoseph Purwokerto dalam perayaan HUT Kemerdekaan RI k2 71 (17/08/2017)

Yang berbeda dalam perayaan kemerdekaan tahun ini

HUT Kemerdekaan RI ke 72 dirayakan umat Paroki St Yoseph Purwokerto dengan nuansa berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya (17/08/2017). Apa saja yang membuat perayaan kemerdekaan tahun ini menjadi berbeda? Pertama, dekorasi Gereja menampilkan nuansa merah putih (kain, bendera, umbul-umbul) dan hiasan bunga altar dari tanaman-tanaman hidup yang segar dan ditata apik. Ada juga 2 banner diletakkan di samping kiri kanan altar, satu berisi gambar dan pesan stop kekerasan, no drugs, no corruption, stop human trafficking. Satunya lagi bergambar beberapa orang berpakaian adat dari berbagai daerah dan bertuliskan “Paroki Sanyos Siap Bekerja Bersama”. Yang terutama membedakan adalah dekorasi dari tanaman hias yang hidup (di dalam pot), Pilihan dekorasi ini menunjukkan konsistensi dengan gerakan go green yang membela kehidupan dan sedang digalakkan di paroki Sanyos.

Bukan cuma itu, hal kedua yang membuat berbeda adalah busana yang dikenakan umat. Seluruh umat yang hadir dengan senang hati mengenakan busana dari berbagai daerah, berbagai profesi, pakaian perjuangan dan sebagian lainnya mengenakan busana bernuansa merah-putih. OMK Voltus yang bertugas koor pun tak mau ketinggalan terlihat lebih cantik dan ganteng menggunakan busana daerah dan perjuangan. Sungguh terlihat semarak dan menjadi ungkapan hati umat Sanyos yang bersyukur serta bergembira atas rahmat kemerdekaan bagi negeri tercinta ini. Terkandung pula pesan keberagaman atau kebhinekaan yang ingin turut dijaga oleh umat Sanyos agar tetap menjadi kekuatan bangsa Indonesia.

Dengan menyanyikan lagu-lagu perjuangan sambil mengibarkan bendera merah putih kecil di tangan, Umat menyambut perarakan petugas liturgi dan imam serta petugas pembawa bendera, pembaca teks proklamasi dan Pancasila.  Sesampai di depan altar, dilakukan prosesi penghormatan Sang Merah Putih sambil menyanyikan Indonesia Raya, kemudian mengheningkan cipta yang dipimpin oleh Rm Agustinus Dwiyantoro. Selanjutnya pembacaan teks proklamasi dan Pancasila oleh petugas yang berpakaian formal jas lengkap dan berseragam militer.

Tolak “budaya kematian” dan promosikan “budaya kehidupan”

Perayaan Ekaristi dengan selebran utama Romo Toro dan konselebran Romo Kristiadji ini berjalan dengan lancar dan khidmat. Lagu-lagu ekaristi dibawakan dengan merdu, padu dan penuh semangat oleh generasi muda milenial, OMK Voltus kebanggaan umat Paroki Sanyos.

Dalam homilinya rm Kristiadji mengajak umat untuk memaknai kemerdekaan ini dengan siap kerja bersama dalam memberantas “budaya kematian” yang digambarkan dalam banner di sisi kiri altar dan mempromosikan “budaya kehidupan” di tengah gereja dan masyarakat. Budaya kehidupan itu tidak lain adalah “budaya cinta” sebagai seluruh pola pikir, merasa dan bertindak yang didasarkan dan menjadi perwujudan cinta di tengah kehidupan. Dengan semangat pengorbanan diri seperti yang diteladankan Yesus di kayu salib, umat paroki Sanyos dipanggil untuk merekatkan hubungan dengan Allah (dimensi vertikal) dan sesama serta alam semesta (dimensi horisontal). Harapannya, terwujud kondisi harmonis yang ditandai kasih, damai, saling menghargai di tengah perbedaan, keadilan, kesejahteraan bersama dan kepedulian pada lingkungan hidup.

Umat yang berpakaian beragam juga membawa persembahan hasil bumi dan tumpeng yang beraneka model. Semua itu sebagai tanda syukur dan ungkapan pemberian diri umat dalam mencintai dan mengabdi pada Allah serta negara,  100% Katolik 100% Indonesia (ungkapan Mgr. Soegijapranata).

Menikmati tumpeng kemerdekaan dan kebersamaan yang berkesan

Setelah selesai misa umat diarak ke Aula gereja untuk ramah tamah dengan menikmati tumpeng kemerdekaan dan juga tumpeng Ultah Perkawinan ke 14 anggota DPP Harian, Bpk Andreas Sri Budiyanto yg ke 14 th dan Ultah Ibu Agustin Prodiakon St. Yosep.

Di sela-sela acara ramah tamah, bu Lily sempat mngungkapkan kesannya. “Luar biasa… Saya rasa umat juga sangat berkesan dan menyukai serta mau terlibat. Buktinya mereka mau berpakaian seperti yang sudah diumumkan sebelumnya dan mengikuti acara sampai akhir. Wajah-wajah umat juga sangat cerah. Acara ramah tamah di aula juga membuktikan keguyuban. Pertahankan keguyuban dan maju terussss… Merdeka!!!” Sedangkan Mba Sisca berpesan agar umat Sanyos “tetap hikmat, bersahaja dan sebagai warga Gereja juga tetap bisa menghayati keIndonesiaan”.

Indahnya kebersamaan dan kegembiraan atas rahmat kemerdekaan, mendorong umat Sanyos untuk terus mencintai dan mengabdikan diri bagi Allah, Gereja dan negara. Lewat berbagai tugas dan pelayanan yang berbeda-beda, umat Sanyos siap menyatukan hati dalam membangun budaya kehidupan berlandaskan iman, harapan dan kasih. Seluruh upaya dan karsa menjadi perwujudan nyata semangat memanggul salib kehidupan untuk menyongsong kemerdekaan sejati sebagai anak-anak Allah. Mari maknai kemerdekaan dengan membangun hidup dalam Kristus dan bekerja sama dengan semua pihak mewujudkan “budaya kehidupan” di tengah keragaman bangsa Indonesia. Berkah Dalem.

Penulis:

Mbak Titin
Ch. Endang Muriatin

 

 

 

 

 

 

Stop global warming : Pemanasan Global: dampak dan penanggulangannya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s