KISAH ORANG TUA ASUH BERBAGI SUKACITA DALAM DAYS IN DIOCESE

Berbagi Sukacita Dalam Days in Diocese of Purwokerto 2017

The 7th Asian Youth Day / Hari Kaum Muda se Asia ke 7, sebuah event pertemuan para kaum muda Katolik se Asia berlangsung dari 29 Juli sd 7 Agustus 2017. Indonesia menjadi tuan rumah. Puncak acara di Yogyakarta. AYD didahului dengan Days in Diocese atau live in di Keuskupan-keuskupan. DID of Purwokerto berlangsung dari tanggal 30 Juli sampai dengan 2 Agustus 2017. Selama tiga hari itu, 110 orang delegasi dari Thailand, Jepang dan Keuskupan Purwokerto tinggal bersama keluarga-keluarga di Paroki Katedral Kristus Raja dan Santo Yoseph Purwokerto Timur.

Sebagai salah satu orangtua angkat, kami pun mengalami sukacita dalam perjumpaan dengan para peserta. Sebelum mereka datang, kami sudah mendapat sekilas info bahwa yang akan menginap di rumah adalah peserta dari Thailand bernama Supinit Korprakong dan dari Indonesia Fransesco Laurentsius Simarmata.

Misa di Katedral Kristus Raja

Minggu tanggal 30 Juli 2017, para partisipan Days in Diocese of Purwokerto dan orang tua asuh mengikuti Misa di Gereja Katedral Kristus Raja Purwokerto pukul 17.00 WIB. Misa dipimpin oleh Romo Administrator Diosesan Tarcisius Puryatno, Pr beserta konselebran Romo-Romo dari Jepang, Thailand dan Indonesia, serta Mgr. Bernard Taiji Katsuya, Uskup Sapporo Jepang.

Saat kami berdua memasuki Gereja Katedral, di dalam Gereja sudah duduk partisipan baik dari Keuskupan Purwokerto, Jepang maupun Thailand di tempat yang sudah diatur oleh panitia. Kami pun para orang tua asuh juga sudah dipersiapkan tempat duduk. Yang pertama kami lakukan setelah kami berdoa dengan berlutut di bangku gereja adalah melihat ke masing-masing tempat duduk para partisipan. Kami bangga melihat para generasi muda Gereja yang masih belia, ceria dan energik, terpancar dari rona wajah ceria dan sukacita mereka. Kami berdua (saya dan istri) saling bertanya, “mana ya anak asuh kita nanti ?”

Partisipan dipertemukan dengan Orang Tua Asuh

Seusai Misa, para partisipan dan orang tua asuh dikumpulkan di Paschalis Hall untuk dipertemukan satu sama lain. Sebelum acara dimulai, para partisipan duduk di tempat yang telah disediakan, kumpul dengan pembagian negara masing-masing. Saat memasuki gerbang Paschalis Hall kami sudah disambut dengan alunan musik dari OMK Keuskupan Purwokerto (terdiri dari 5 orang; 2 diantaranya dari OMK Voltus: Abi dan Ewa).

Para orang tua asuh penasaran, siapa anak yang akan diasuh, sebaliknya para partisipan pun tengak-tengok ke arah para orang tua asuh. Satu persatu nama partisipan dan orang tua asuh dipanggil untuk dipertemukan.

Tibalah saatnya nama kami dipanggil untuk maju dan bertemu dua anak asuh kami dari Thailand dan Korea, dalam bahasa Banyumas Kroya (ha ha ha). Kami bersalaman dan saling memperkenalkan diri dengan senyum sapa kasih dan dipersilakan panitia untuk berfoto bersama anak asuh di atas panggung dilanjutkan makan malam, sambil berbincang. Untuk lebih mengenal mereka, kami pun memperhatikan bagaimana mereka makan dan apa yang disukai.

Malam di hari pertama : Saling mengenal dan penuh sukacita

Keluarga Pak Nunung-7
Sukacita keluarga baru (dari ki-ka: Pak Nunung, Frans, Bu Anik dan Namva (30/07/2017)

Perbincangan kami lanjutkan dalam perjalanan pulang dan sesampai di rumah dengan tawa dan sukacita. Kami saling mengenalkan keluarga masing-masing. Supinit Korprakong, dipanggil Namva, dari Thailand. Tinggal dan merupakan mahasiswa teknik elektro di salah satu universitas di Bangkok. Hobi bermain badminton dan renang. Juga suka menari. Namva anak pertama dari 2 bersaudara, adiknya perempuan kuliah di unversitas yang sama. Sedangkan Fransesco Laurentsius Simarmata, dipanggil Frans, dari Kroya dan masih studi di salah satu SMA Negeri Banyumas. Hobi menyanyi dan sains. Frans anak ke 2 dari 3 bersaudara. Kakaknya (perempuan) kuliah di Atmajaya Jogja, sedangkan adiknya (perempuan) masih belajar di SD Kroya.

Meskipun Frans agak pendiam, tetapi karena pengaruh Namva dan kami yang sering mengajak berbincang, dia menjadi lebih komunikatif.

Meski perbincangan kami dengan Namva kadang sulit nyambung karena perbedaan budaya dan aksen tetapi tidak menjadi kendala karena Frans dengan cekatan langsung bertanya kepada “mbah google translatein Thai. Sometimes, we have to spell the words to get easier.

Saat berbincang sering mengundang tawa, apalagi ketika istri saya meminta Namva untuk mengucapkan kalimat dalam bahasa Thai. Karena mendengar kalimat yang sama sekali tidak dimengerti dan dianggap aneh, maka meledaklah tawanya (bisa dibayangkan kalau istri saya tertawa, sulit dihentikan). Dan ini menambah suasana menjadi hangat.

Waktu menunjukkan pukul 22.00 ketika kami menanyakan sudah ngantuk atau masih mau keliling kota. Tak disangka mereka memilih keliling kota, karena belum merasakan kantuk dan lelah. OMG! It’s 10 pm and they wanted to go around Purwokerto…

Kami pun mengantar jalan-jalan keliling kota, lewat GOR dan menikmati jagung bakar pedes, sambil muter-muter kota dan tidak ketinggalan alun-alun. Malam makin larut. Mengingat besuk pagi harus ke Gereja pagi maka kami pulang dan tiba di rumah pkl. 23.15 WIB.

Sebelum tidur, kami berdoa bersama dan ditutup Salam Maria dalam bahasa Thai oleh Namva. Kebiasaan yang kami lakukan adalah memberi tanda salib di dahi sebelum tidur kepada anak-anak kami. Kami pun melakukan hal yang sama terhadap Namva dan Frans.

Senin 31 Juli 2017: Mengajarkan kesederhanaan namun menyehatkan dengan bersepeda

Keluarga Pak Nunung-3
Siap gowes setelah misa pagi di Gereja St. Yoseph Purwokerto  (31/07/2017)

Hari terakhir di bulan Juli, pada pagi hari, kami bertiga bersepeda ke Gereja mengikuti misa pagi, seperti yang biasa kami lakukan. Karena sepeda kurang (hanya ada 3), istri saya naik sepeda motor. Anak-anakpun setuju bersepeda dan malah senang. Terpancar dari responnya saat kami ajak. Saat misa, mereka kami ajak ikut koor bersama OMK yang bertugas pagi itu. Seusai misa, kami bersalam-salaman dengan umat, selfie sebentar bersama OMK, kedua Romo : Rm Toro dan Rm Kris dan sebagian umat.

Sebelum ke Gereja, istri telah menyiapkan sarapan. Maka sesampai di rumah, kami menikmati sarapan bersama yang  diawali dan diakhiri dengan doa oleh Frans dalam bahasa Indonesia.

Selesai makan, kami bersiap menuju ke Katedral, mengantar mereka untuk berangkat ke Wonosobo. Turun dari mobil sebelum mereka berkumpul untuk melakukan aktifitas, kami tidak lupa memberi tanda salib di dahi, sama seperti yang kami lakukan sebelum mereka tidur. We do it to remind them that God always be with them in whereever they go and whatever they do.

Mengajarkan saling berbagi dan memperhatikan

Setiap kali mereka berangkat untuk beraktivitas, kami selalu membawakan sedikit bekal untuk perjalanan mereka. Dan hal yang tak disangka-sangka, saat mereka pulang, mereka menyisihkan “snack” yang didapat dari panitia selama perjalanan untuk kami berdua. Sungguh mengharukan, ternyata mereka pun memiliki kepedulian dan perhatian terhadap kami untuk berbagi.

Malam di hari kedua: menikmati berada di luar rumah dan saling belajar bahasa yang mengundang tawa

Meskipun bis tiba terlambat datang dari Wonosobo alias tidak sesuai jadwal yang telah ditentukan karena macet, tidak membuat Namva dan Frans merasa lelah. They enjoyed their experiences.

 

Kami makan malam di sebuah tempat makan yang antik / kuno arsitekturnya. Hal ini membuat Namva tertarik karena setiap ruangan didisain dengan arsitektur yang berbeda. Setelah makan, kami mengajak anak-anak ke Baturaden menikmati suasana malam dengan medang “ronde”. Saat kami menawarkan mendoan, Namva langsung berkata “No, no. no…. I’am full”. Dan saat istri saya berkata “You mean that you don’t like it ?” Namva pun menjawab, “Yes, that’s what I mean”. Namva pernah mencoba makan itu di rumah. Ketika kami tawarkan ke Frans, jawabannya pun sama, kurang suka. Kebetulan Frans tinggal di Kroya, jadi tahu pasti mendoan.

Setelah menikmati suasana dan pemandangan di malam hari kami pun berfoto bersama dan pulang. Sampai di rumah, kami masih berbincang, penuh canda. Apalagi saat belajar bahasa Thai dan Indonesia serta Jawa. Salah satu yang kami pelajari, ungkapan sederhana yang biasa diucapkan yaitu kata “terimakasih”. Lagi-lagi kami tertawa saat Namva mengucapkan “matur nuwun” dan “sami-sami” dengan aksen Thai. “Sami-sami“ diucapkan “semi-semi”. Dan karena nampak lucu, istri saya malah meminta dia mengulang berkali-kali. Kami pun tertawa. Dan gantian, saat istri saya menirukan kata “terimakasih” dalam bahasa Thai “Khxbkhun”, Makan = “Kin”, Minum = “Nam” dsb. Anak-anak tertawa, karena istri kesulitan mengucapkan, dan dia malah tertawa dan tawanya khas sehingga kami pun makin tertawa.

Akhirnya karena capai tertawa dan sudah ngantuk, kami berdoa bersama sebelum tidur. Giliran saya memimpin doa. Setelah itu anak-anak masuk kamar dan menuliskan “refleksi”, lalu tidur.

Selasa 01 Agustus 2017: ke Gereja pagi tetap bersepeda

Meskipun di jadwal acara tidak ada kegiatan mengikuti  misa di Gereja, tetapi kami tetap ke Gereja pagi dan pastinya masih bersepeda. Sepulang dari Gereja kami masih ada waktu untuk sarapan pagi di rumah yang diawali dan ditutup dengan doa menggunakan bahasa Inggris oleh istri saya. Selesai makan kami bersiap kembali untuk mengantar mereka ke Katedral untuk mengikuti acara Eksposure ke Adipala dan Purwokerto. Tidak lupa tetap kami bawakan sedikit bekal untuk perjalanan. Sebelum mereka berangkat bersama rombongan, kami berikan tanda salib di dahi kepada Namva dan Frans.

Keluarga Pak Nunung-kunjungan ke ketua Lingkungan
Kami berkunjung ke Keluarga Pak Darmawan, Ketua Lingkungan St. Ignatius (01/08/2017)

Sore hari pukul 15.00 kami menjemput di Katedral. Bis datang tepat waktu,  dalam perjalanan pulang kami tawarkan untuk singgah mengunjungi salah satu warga Lingkungan Ignatius dan they agreed. Kami pun berkunjung ke rumah Ketua Lingkungan Ignatius pak FX Darmawan. Kami berbincang-bincang sebentar penuh keakraban, lalu pulang. Istirahat beberapa menit, setelah mandi, kami bersiap-siap menuju Kaliori. Kami mampir makan “empek-empek”, memperkenalkan makanan khas Palembang ini pada Namva. Dia sangat suka, katanya, ”It’s delicious, I like it.” Kata istri, “Then you can add more” diiringi gelak tawa…. Tapi karena waktu, maka kami melanjutkan ke Kaliori.

Acara Misa Perutusan dan Culture Night di Kaliori

Misa dipimpin Romo Administrator Diosesan Tarcisius Puryatno, Pr bersama uskup dari Jepang,  Romo – Romo yang lain termasuk Romo Franz Kristiadi, Pr, Romo Agustinus Dwiantoro,Pr. Koor dari SMP Susteran dan SD Santo Yoseph menyemarakkan misa dengan lagu-lagu dan suara merdu mereka diiringi musik tradisional kolintang.

 

Setelah misa, dilanjutkan culture night perform DID-AYD 2017 Keuskupan Purwokerto. Masing-masing partisipan menampilkan kreasi dari negara mereka. Tarian Jepang dan alunan lagu membuka acara ini. Dilanjutkan tarian dari Thailand. Sedangkan partisipan dari Indonesia menampilkan drama musikal dengan diiringi lagu-lagu daerah  antara lain lagu: Gundul-gundul pacul, Padang mbulan.

Saat acara demi acara ditampilkan, tiba-tiba mata saya tertuju ke sebuah sosok di kejauhan berjaket merah…dan ternyata saya mengenal sosok tersebut yg tidak lain adalah Romo AM Kristiadji Rahardjo,MSC   hehehe…

Acara ditutup dengan doa bersama di depan gua Maria dalam 4 bahasa: English, Indonesian, Thai, Japanese. Sebelumnya disenandungkan lagu “Bless the Lord, my soul” dan penyalaan lilin yang membuat suasana doa menjadi sangat khusyuk.

Go back home

Dengan membawa kesan mendalam dari Kaliori yang penuh keceriaan, kami pun pulang bersama sebagian anak-anak OMK Voltus yang makin menambah ramai suasana di dalam mobil. Guyonan, nyanyian, tawa, bercampur jadi satu… Kami  berpisah dengan OMK di gereja St. Yoseph Purwokerto.

Sesampai di rumah, kami masih berbincang di ruang tamu dan berselfie ria. Namva dengan antusias langsung memakai kostum tari Thai dan mempraktekkan cara memakainya. Unik dan menarik, cara memakai kain panjang berbeda dengan di Jawa. Jadi menambah pengetahuan kami. Karena malam itu malam terakhir bagi kebersamaan kami, maka kami pun memanfaatkan momen tersebut dengan berbincang, bercanda sampai larut malam. Kami bertukar kenang-kenangan dan saling berbagi jejaring sosial agar tetap terjalin komunikasi meski sudah berada di tempat tinggal masing-masing.

Mengantar ke Paschalis

Keluarga Pak Nunung-8
Namva dan Franz di depan Paschalis Hall sebelum berangkat ke Jogya (02/07/2017)

Purwokerto di hari Rabu pagi (02/08/2017) diguyur hujan rintik-rintik, kami mengantar anak-anak asuh ke Paschalis Hall. Selanjutnya mereka bersama partisipan yang lain, melanjutkan perjalanan ke Jogja untuk mengikuti acara AYD dengan partisipan lain se Asia.

Kesan

Sangat menyenangkan dan menarik bagi kami sebagai orangtua dengan adanya anak-anak asuh, apalagi mengasuh anak dari luar negeri. Kami bisa saling tukar pengalaman, mengenal budaya, menambah teman/keluarga, saling belajar, dan juga mengembangkan kemampuan berbahasa.

Penutup

Asian Youth Day 2017 telah menularkan suka cita kepada semua yang terlibat.

Kamipun menuliskan pesan kepada Frans dan Namva di “guide book” mereka masing-masing: “Always close to God and be a wise man”

Meski kini mereka sudah pulang ke rumah masing-masing, tetapi komunikasi di antara kami tetap terjalin. Mereka bagai anak-anak kami sendiri…

Syukur pada Tuhan karena telah mempertemukan kami. BERKAH DALEM GUSTI

Penulis:

Pak Nunung.jpg
Yohanes Avila Nunung Winarta
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s