SETELAH BERADA PADA TITIK TERENDAH

Kamis Pekan Biasa XV, 20 Juli 2017

“Sabda Allah pula kepada Musa, “Katakanlah ini kepada orang Israel, Tuhan, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu,’ itulah nama-Ku untuk selamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.”(Kel 3:13-20). Allah mengenalkan Diri kepada Musa sebagai “Sang Aku”. Sama artinya dengan “Aku ada, Aku hidup, Aku menyertai Abraham, Iskak dan Yakub.” Sama sebutan dengan menunjukkan Allah hidup menyertai. Di dalam perjalanan hidup Abraham, Iskak dan Yakub, Allah ada..Allah “ora sare”. Itulah keyakinan baru yang ditawarkan kepada Musa yang sedang mengalami titik terendah dalam hidupnya. Dia terasing dari bangsanya sendiri, membangkitkan hasrat melawan Firaun bangsanya menolaknya. Akhirnya ia lari dan mengasingkan diri. Di padang gurun ia menemukan hidupnya pada titik terendah. Tetapi Allah hadir. Allah hidup menyertai. Seorang ibu telah melaksanakan semua tugas rumah tangganya. Baik urusan kebersihan rumah, pendidikan anak-anaknya, melayani suaminya. Namun saat bersama pada senja, tiada ajakan bicara dari suaminya. Tak ada sapa, malah cela dan hujat. Tentu sakit hati dan bisa berada pada titik rendah meskipun belum terendah. Bagaimana ia akan mengalami Allah yang hidup? “Sang Aku?” Gusti ora sare? Soter@bdtoro.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s