PASUTRI M.E. BERBAGI PENGALAMAN EMPTY NEST SYNDROME

Pengalaman menghadapi Sindrom Sarang Kosong.

KELUARGA yang hangat, penuh kasih, penghargaan dan penerimaan bagaikan sarang burung yang nyaman. Dalam sarang itu, anak-anak burung mendapatkan kasih sayang dan bertumbuh menjadi dewasa. Akan tiba saatnya anak burung itu bisa terbang tinggi, meninggalkan sarangnya dan mengejar impian mereka. Begitu pula dengan kehidupan keluarga. Ada saatnya anak-anak meninggalkan “sarang keluarga” untuk terbang tinggi meraih impian mereka, bahkan membangun sarangnya sendiri. Orang tua biasanya akan merasa kehilangan, sedih dan kesepian, bahkan bisa berubah menjadi depresi. Pengalaman ini dinamakan Empty Nest Syndrome atau Sindrom Sarang Kosong.

Pasutri ME.jpg
Pasutri ME dari Paroki St. Yoseph dan Katedral Purwokerto mendalami tema ENS dalam pertemuan rutin Selasa, 4 Juli 2017

Tema Empty Nest Syndrome itulah yang didalami bersama oleh para pasutri Marriage Encounter (ME) paroki St. Yoseph dan Katedral Kristus Raja Purwokerto dalam pertemuan rutin di Ruang St. Anna Paroki St. Yoseph (Selasa, 4 Juli 2017). Kelompok kategorial ME ini rutin mengadakan pertemuan bulanan, yakni pada hari Selasa pertama pkl. 19.00, dengan tempat bergantian di dua paroki tersebut. Dalam pertemuan kali ini hadir 10 pasutri, 1 “pasijen” (istilah untuk mereka yang pasangannya telah meninggal), dan 2 orang suami yang pasangannya berhalangan hadir karena sedang keluar kota. Rm. Budi Prayitno, Pr sebagai pendamping juga berkesempatan hadir.

Pasutri ME-1.jpg
Pasutri ME mengadakan sharing BPS dengan metode 5 langkah (04/07/2017)

Pasutri Feri-Titik selaku KorMEP (Koordinator ME Paroki) memimpin lagu dan doa pembukaan untuk mengawali pertemuan. Kemudian seperti biasa, pasutri ME mengadakan sharing “BPS” (Bagaimana Perasaan Saya) dengan metode 5 langkah:

  1. Bagaimana “perasaan” saya?
  2. Bagaimana “pikiran”saya?
  3. Apa yang “kulakukan”saat itu?
  4. “Kebutuhan” apa yang ingin kukejar?
  5. Apa yang “kulakukan untuk lebih baik lagi” ?
Pasutri Nur-Wiwin.jpg
Pasutri Nur-Wiwin

Dengan metode itu, Pasutri Nur-Wiwin membagikan pengalamannya pada saat anak kedua mereka diterima di salah satu SMK Katolik di kota Bogor. Berikut inti sharing mereka:

Langkah 1 : “Perasaan” yang muncul saat itu adalah ketakutan dan kekhawatiran.

Langkah 2 : “Yang dipikirkan”adalah rumah akan menjadi sepi dan mereka akan sendirian tanpa ada anak-anak. Apakah nantinya anak mereka bisa hidup disiplin tinggal di dalam asrama? Apakah dia bisa menyesuaikan diri di sekolah barunya?

Langkah 3 : Dengan perasaan dan pikiran yang timbul saat itu, pasutri Nur-Wiwin berusaha untuk menghalang-halangi anak kedua mereka dengan berbagai cara: merayu, sedikit menakut-nakuti kalau di asrama nanti harus mandiri, harus misa pagi, kalau telat misa dapat hukuman membersihkan toilet, dll. Di sisi lain, pasutri Nur-Wiwin juga berusaha mencari informasi untuk memastikan keadaan sekolah dan asramanya.

Langkah 4: Atas peristiwa itu, pasutri Nur-Wiwin “menyadari dan menerima” kenyataan bahwa sebagai orang tua, saat itu “kebutuhan batin untuk dicintai” oleh anaknya tidak terpenuhi.

Langkah 5: Melihat tekad dan kesungguhan anaknya yang tetap ingin sekolah di luar kota, pasutri Nur-Wiwin bersepakat sehati sepikir, membawa dan menyerahkan semuanya dalam doa. Akhirnya mereka “memutuskan” untuk melepas kepergian anak mereka ke Bogor. Mereka “memutuskan” untuk tidak egois terhadap anak dan tidak menjadi penghalang keinginan anak yang positif. Mereka percaya akan pemeliharaan Tuhan dan rencana-Nya yang indah. Mereka juga berharap, setelah kepergian anaknya ke Bogor, mereka dapat lebih mempunyai waktu untuk saling memperhatikan satu sama lain sebagai pasangan suami istri sehingga relasi cinta tetap terjaga.

Memanfaatkan keberduaan untuk semakin berbuah

Setelah sharing oleh pasutri Nur-Wiwin, Romo Budhi mengajak pasutri yang hadir untuk merenungkan bacaan kitab suci yang diambil dari Ulangan 32: 52 “Engkau boleh melihat negeri itu terbentang di depanmu, tetapi tidak boleh masuk ke sana, ke negeri yang Kuberikan kepada orang Israel.” Beberapa pokok renungan yang disampaikan adalah sebagai berikut:

  • Musa harus berpisah dengan bangsa Israel yang puluhan tahun dibimbing dan didampingi. Bagaimana perasaan Musa saat itu, kita tidak tahu.
  • Demikian juga ketika Yesus telah berusia 30 tahun, Yesus berpamitan kepada bunda Maria untuk keluar dari rumah, untuk mewartakan kerajaan Allah.
  • Walau mungkin situasi berbeda, yang jelas pada saatnya pasutri akan mengalami hal yang sama. Berpisah dengan anak-anaknya yang meninggalkan rumah untuk studi, bekerja atau menikah.
  • Pada awal tahun 1970-an, para pakar dan pemerhati relasi memopulerkan “empty nest syndrome” (sindrom sarang kosong). Maksudnya adalah saat di mana depresi dan kehilangan arah melanda orang tua, terutama kaum ibu, ketika anak-anak mereka meninggalkan rumah untuk studi, bekerja atau berumahtangga. Namun banyak juga orang tua yang dapat memanfaatkan keberduaan mereka dengan membangun relasi yang lebih berbuah dan semakin aktif dalam pelayanan di Gereja.
Pasutri ME-3.jpg
Pak Djarwo
Pasutri ME-2.jpg
Pasutri Piet-In

Setelah Romo Budhi memberikan renungan, sedianya akan dilanjutkan dengan sharing dalam kelompok, namun atas permintaan para pasutri akhirnya sharing dilakukan terbuka. Ada 2 pasutri senior (Pasutri Djarwo-Dini dan Pasutri Piet-In) maju untuk  mensharingkan pengalaman ketika ditinggal anak mereka bekerja di luar kota dan menikah. Intinya, kedua pasutri ini tetap berbahagia dalam hidup berdua meskipun telah ditinggal anak-anak.

Karena jarum jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB, pertemuan yang hangat itu akhirnya ditutup dengan persembahan, pengumuman, doa penutup dan berkat oleh Romo Budhi. Setelah itu pasutri yang hadir bersama-sama menyanyikan lagu “Ada Dunia Baru”. Sebelum meninggalkan tempat, mereka menikmati makanan ringan, lalu berfoto bersama.

Sayonara… We Love You. We Need You.

Info Penting sekitar ME :

  1. Pertemuan ME berikutnya pada hari Selasa, 8 Agustus 2017 di Paroki Kristu Raja Katedral Purwokerto dengan tema: “Bagaimana perasaanku ketika pasanganku dipanggil Tuhan”
  2. Weekend ME: Jumat-Minggu, 21-23 Juli 2017 di Hening Griya, Baturraden. Contact Person: Pasutri Feri-Titik (081215275581) & Pasutri Wirya-Lia (08128198580)

 

Liputan oleh KorMEP Santo Yoseph & Katedral

( Pas Feri❤Titik, Rm Budhi Prayitno, Pr dan Pas Wirya❤Lia)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s