PENDIDIKAN IMAN SEJAK USIA DINI DALAM KELUARGA, PAROKI DAN SEKOLAH (bagian-2)

Bagaimana seharusnya?

Konsili Vatikan II dalam Deklarasi tentang Pendidikan Kristiani (Gravissimum Educationis) menyatakan tujuan pendidikan secara umum, dan pendidikan Kristiani secara khusus, demikian:

1. Secara umum

“Tujuan pendidikan dalam arti sesungguhnya ialah: mencapai pembentukan pribadi manusia dalam perspektif tujuan terakhirnya dan demi kesejahteraan kelompok-kelompok masyarakat, di mana ia  sebagai manusia, adalah anggotanya, dan bila sudah dewasa ia akan mengambil bagian menunaikan tugas kewajiban di dalamnya.” ((Konsili Vatikan II, Gravissimum Educationis, 1))

Tujuan terakhir manusia yang dimaksud di sini adalah kehidupan kekal bersama Allah di Surga. Dengan demikian, pendidikan secara umum harus mengarah kepada pembentukan (formation) pribadi manusia secara utuh, baik dari segi fisik, moral, intelektual agar anak- anak dapat menjadi manusia yang bertanggung jawab di dalam menghadapi kehidupan ini, agar kelak dapat masuk dalam Kerajaan Surga.

2. Secara khusus

a. Pendidikan Kristiani bertujuan untuk pendalaman misteri keselamatan, iman, makna kekudusan, memberi kesaksian tentang pengharapan Kristiani.

“Pendidikan Kristiani itu tidak hanya bertujuan pendewasaan pribadi manusia seperti telah diuraikan, melainkan terutama hendak mencapai, supaya mereka yang telah dibaptis langkah demi langkah semakin mendalami misteri keselamatan, dan dari hari ke hari makin menyadari kurnia iman yang telah mereka terima; supaya mereka belajar menyembah Allah Bapa dalam Roh dan kebenaran (lih. Yoh 4:23), terutama dalam perayaan Liturgi; supaya mereka dibina untuk menghayati hidup mereka sebagaimanusia baru dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Ef 4:22-24); supaya dengan demikian mereka mencapai kedewasaan penuh, serta tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (lih. Ef 4:13), dan ikut serta mengusahakan pertumbuhan Tubuh Mistik. Kecuali itu hendaklah umat beriman menyadari panggilan mereka, dan melatih diri untuk memberi kesaksian tentang harapan yang ada dalam diri mereka (lih. 1Ptr 3:15) serta mendukung perubahan dunia menurut tata-nilai Kristiani …” ((Ibid))

b. Pendidikan Kristiani harus menanamkan nilai- nilai esensial di dalam hidup manusia

“Bahkan di tengah kesulitan- kesulitan karya pendidikan, kesulitan- kesulitan yang kadang lebih besar dewasa ini, para orang tua harus dengan yakin dan berani mendidik anak- anak mereka tentang nilai- nilai esensial di dalam hidup manusia. Anak- anak harus tumbuh dengan sikap yang benar tentang kemerdekaan [ketidak- terikatan] terhadap barang- barang materi, dengan menerapkan gaya hidup yang sederhana dan bersahaja, yakin bahwa “manusia itu lebih berharga karena apa adanya dia daripada karena apa yang dia miliki.” ((Paus Yohanes Paulus II, Apostolic Exhortation, Familiaris Consortio 37))

Adalah suatu permenungan, sejauh manakah hal- hal yang disebutkan di atas dilakukan di dalam keluarga, di sekolah dan di paroki?

Pendidikan iman Katolik di dalam keluarga

a. Orang tua adalah pendidik pertama dan utama anak- anak

“Karena orang tua telah menyalurkan kehidupan kepada anak-anak, orang tua terikat kewajiban amat serius  untuk mendidik anak-anak mereka. Maka orang tualah yang harus diakui sebagai pendidik yang pertama dan utama bagi anak- anak mereka” ((Konsili Vatikan II, Gravissimum Educationis 3, lihat juga KGK 1653 dan Familiaris Consortio 36)). Dengan demikian, orang tua harus menyediakan waktu bagi anak- anak untuk membentuk mereka menjadi pribadi- pribadi yang mengenal dan mengasihi Allah. Kewajiban dan hak orang tua untuk mendidik anak- anak mereka tidak dapat seluruhnya digantikan ataupun dialihkan kepada orang lain. ((lihat Paus Yohanes Paulus II, Familiaris Consortio 36))

Pendidikan Iman-2.jpgOrang tua sebagai pendidik utama dalam hal iman kepada anak- anak berarti orang tua harus secara aktif mendidik anak- anak dan terlibat dalam proses pendidikan anak- anaknyaOrang tua sendiri harus mempraktekkan imannya, berusaha untuk hidup kudus, dan terus menerapkan ajaran iman dalam kehidupan keluarga di rumah. Ini adalah sangat penting, agar anak melihat bahwa iman itu bukan hanya untuk diajarkan tetapi untuk dilakukan, dan diteruskan lagi kemudian, jika anak- anak sendiri membentuk keluarga di kemudian hari.

Sebagai pendidik utama, maka orang tua harus terlibat dalam proses pendidikan yang dilakukan oleh sekolah, dan orang tua bertugas membentuk  anak- anaknya. Orang tua harus mengetahui apa yang sedang dipelajari oleh anak- anaknya di sekolah, buku- buku yang mereka baca, bagaimana sikap dan tabiat anaknya di sekolah, siapakah teman- teman anak- anaknya, dan sebagainya. Tugas dan tanggungjawab ini ini tidak dapat dialihkan ataupun dipasrahkan kepada pembantu rumah tangga ataupun guru les. Orang tua tidak dapat memusatkan perhatian untuk urusan dan pekerjaan mereka sendiri, dan kurang mempedulikan atau kurang mau terlibat dalam pendidikan anak- anak. Mengirim anak- anak untuk les pelajaran, atau menyekolahkan anak di sekolah national plus, tidak menjamin pembentukan karakter anak dengan baik.

Demikian pula dalam hal iman. Banyak orang tua berpikir, asal sudah mengirimkan anak ke Bina Iman, maka tugasnya selesai. Pemikiran sedemikian sungguh keliru. Guru- guru di sekolah, guru les ataupun guru Bina Iman hanyalah membantu orang tua, namun orang tua tetaplah yang harus melakukan tugasnya sebagai pendidik utama. Mendidik anak dalam hal iman sesungguhnya tidak sulit, karena dapat dimulai dari hal- hal sederhana. Namun dibutuhkan komitmen dan pengorbanan dari pihak orang tua, misalnya: berdoa bersama anak- anak dan membacakan kisah Kitab Suci kepada mereka setiap malam, membawa anak- anak ikut Misa Kudus dan sesudahnya menjelaskan kepada anak- anak maknanya, mendorong anak- anak agar mempraktekkan suatu ajaran Sabda Tuhan, memberi koreksi jika anak berbuat salah namun setelahnya tetap merangkul dengan kasih, dst.

Orang tua juga harus mempunyai perhatian kepada pengaruh media massa ke dalam kehidupan anak- anak. Terlalu banyak menonton TV tidak memberikan efek yang baik pada anak, apalagi jika anak- anak menonton TV tanpa pendampingan dari orang tua. Demikian pula dengan terlalu banyak bermain video game, apalagi jika permainannya bersifat kekerasan yang sadis, seperti tembak- tembakan, pembunuhan, dst, yang secara tidak langsung merangsang sifat- sifat agresif pada anak- anak, seperti kemarahan, kekerasan, tidak mau mengalah, dst. Tak kalah seru, adalah kebiasaan ber FB (Face book) di kalangan anak- anak remaja. Jika memungkinkan, silakan orang tuapun ber FB, bukan untuk memata- matai anak, namun untuk mengetahui sekilas lingkungan pergaulan anak. Ada resiko yang umum terjadi, yaitu jika anak terlalu banyak ‘bermain’ sendiri dengan komputer, TV, atau sejenisnya, maka lama kelamaan ia menjadi tidak terbiasa untuk berinteraksi dengan orang lain. Ia menjadi kurang luwes di dalam pergaulan, kurang dapat membawa diri, dan terlalu berpusat kepada diri sendiri. Tidak berarti bahwa TV, game internet dan FB memberikan efek buruk semuanya. Efek negatif itu terjadi  jika yang ditonton, atau yang dimainkan tidak sesuai dengan ajaran iman dan moral; atau yang diajak berkomunikasi adalah orang- orang yang tidak membangun iman, atau malahan menjerumuskan mereka; atau jika hal menonton TV dan bermain komputer tersebut sampai menyita hampir semua waktu luang. Mengapa? Sebab jika ini yang terjadi, hati dan pikiran anak tidak lagi terarah kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya.

b. Orang tua berkewajiban untuk menyampaikan pendidikan dalam hal nilai- nilai esensial dalam hidup manusia.

Dari orang tualah anak- anak belajar akan nilai- nilai yang esensial dan terpenting di dalam hidup. Nilai- nilai esensial ini menurut Paus Yohanes Paulus II dalam Pengajaran Apostoliknya, Familiaris Consortio, adalah: 1) keadilan yang menghormati martabat setiap manusia, terutama mereka yang termiskin dan yang paling membutuhkan bantuan; 2) hukum kasih: memberikan diri untuk orang lain dan memberi adalah suka cita, 3) pendidikan seksualitas yang menyangkut keseluruhan pribadi manusia, baik tubuh, emosi maupun jiwa; 4) pendidikan tentang kemurnian (chastity); 5) pendidikan moral yang menjamin anak- anak bertanggungjawab. ((lihat Paus Yohanes Paulus II, Familiaris Consortio 37)).

c. Orang tua harus mengusahakan suasana kasih di rumah

Maka para orang tua harus menciptakan suasana di rumah yang penuh kasih dan penghormatan kepada Tuhan dan sesama, sehingga pendidikan pribadi dan sosial yang menyeluruh bagi anak- anak dapat ditumbuhkan ((Konsili Vatikan II, Gravissimum Educationis 3)). Kasih orang tua adalah dasar dari pendidikan anak, sehingga kasih itu harus menjiwai semua prinsipnya, disertai juga dengan nilai- nilai kebaikan, pelayanan, tidak pilih kasih, kesetiaan dan pengorbanan ((lihat Paus Yohanes Paulus II, Familiaris Consortio, 36)). Dalam hal ini, komunikasi antara anak dan orang tua adalah sangat penting, sebab tanpa komunikasi akan sangat sulit menciptakan suasana yang penuh kasih di dalam keluarga.

d. Keluarga harus menjadi sekolah pertama untuk menanamkan kebijakan Kristiani dan orang tualah yang memberikan teladan.

Keluarga harus menjadi sekolah yang pertama untuk menanamkan nilai- nilai dan kebajikan Kristiani, seperti: memaafkan kesalahan orang lain, belajar meminta maaf jika berbuat salah, saling menghormati, saling berbagi, saling menolong, saling menghibur jika ada yang kesusahan, saling memperhatikan terutama kepada yang lemah, sakit, dan miskin, saling mengakui kelebihan dan kekurangan tiap- tiap anggota keluarga, rela berkorban demi kebaikan orang lain, dst. Orang tua selayaknya memberikan teladan dalam nilai- nilai Kristiani tersebut, dan bukan hanya dengan perkataan, tetapi terlebih dengan perbuatan. Anak- anak akan dengan lebih cepat belajar melalui teladan perbuatan orang tua daripada dari apa yang diajarkannya melalui perkataan saja.

e. Pengajaran tentang iman dalam keluarga dapat dilakukan di setiap kesempatan dan dapat dikemas menarik

Pengajaran tentang Allah dan perintah- perintah-Nya ini tidak harus diberikan dalam bentuk ‘kuliah’ bagi anak, yang pasti membosankan, tetapi hendaknya dikemas dalam bentuk yang lebih hidup dan menarik, sesuai dengan umur anak. Quiz/ bermain tebak- tebakan, ayah atau ibu membacakan Kitab Suci bergambar, atau sama- sama menonton DVD rohani dan dilanjutkan dengan diskusi singkat dapat menjadi suatu pilihan. Di samping itu, jangan dilupakan bahwa setiap kejadian yang paling sederhana sekalipun dapat dijadikan momen untuk pengajaran tentang iman. Contohnya pada saat anak jatuh ketika belajar bersepeda, dapat dijadikan momen untuk mengajarkan betapa kita sebagai manusia dapat jatuh dalam kesalahan dan dosa, namun Tuhan dapat menolong kita sehingga kita dapat bangkit lagi, sebelum akhirnya kita berhasil. Atau contoh lain, pada saat ada tetangga/ saudara yang membutuhkan pertolongan, itulah saatnya kita sekeluarga pergi menjenguk dan menghibur mereka.

Jika anak telah bertumbuh remaja, kemungkinan pengajaran tentang iman dapat dilakukan dengan lebih mendalam, misalnya, sharing tentang pengalaman dalam hari itu, tentang latihan kebajikan tertentu yang disepakati bersama sehari sebelumnya, misalnya tentang kesabaran. Dengarkan pengalaman anak dan ceritakan juga pengalaman kita sebagai orang tua sepanjang hari itu untuk menjadi orang yang sabar. Baik jika sharing ini ditutup dengan doa.  Jika hal ini terus konsisten dilakukan, baik orang tua maupun anak sama- sama bertumbuh dalam kekudusan.

f. Doa bersama sekeluarga merupakan hal yang harus dilakukan

Orang tua harus mengusahakan agar dapat melakukan doa bersama sekeluarga setiap hari, entah pada pagi hari atau sore hari. Mother Teresa pernah mengatakan, “A family that prays together, stays together” (Keluarga yang berdoa bersama, tetap bersatu bersama). Doa bersama juga dilakukan pada saat sebelum dan sesudah makan. Doa bersama dapat berupa Ibadat Harian, doa spontan, doa rosario, atau doa kaplet Kerahiman Ilahi, dan seterusnya, dan dapat juga dinyanyikan. Doa dapat dilanjutkan dengan renungan Kitab Suci, dan anak- anak dan orang tua dapat melakukan sharing iman sesuai dengan ayat- ayat yang direnungkan.

g. Orang tua mengarahkan anak- anak untuk bergabung ke dalam Gereja

Melalui keluargalah anak- anak secara berangsur- angsur diarahkan ke dalam persekutuan dengan saudara- saudari seiman yang lain di dalam Gereja. Orang tua berkewajiban untuk membawa anak- anak untuk turut mengambil bagian dalam kehidupan Gereja, baik dalam ibadah di paroki atau di lingkungan, ataupun kegiatan rohani dalam komunitas- komunitas Gereja. Persaudaraan sesama umat Katolik di dalam Kristus, harus juga diperkenalkan sejak dini kepada anak- anak. Orang tua juga harus memberikan dorongan kepada anak- anak untuk mengambil bagian dalam sakramen- sakramen Gereja, terutama Ekaristi dan Tobat.

Pendidikan iman Katolik di sekolah

Pendidikan Iman-1
Perayaan Paskah dan Kartini @ TK. Santo Yosep Purwokerto, 20 April 2017 (photo by Stiffany Libriyanti

Sekolah melaksanakan peran yang penting di dalam membantu para orang tua mendidik anak- anak mereka. Dalam hal ini, sekolah tidak hanya bertugas untuk membantu pertumbuhan intelektual anak, tetapi juga kemampuan untuk bertindak dengan bijak, memilah hal- hal yang baik dan yang buruk, meneruskan tradisi yang baik dari generasi sebelumnya, dan untuk mempersiapkan anak- anak untuk kehidupan sesuai dengan profesi mereka di masa datang.

Berikut ini adalah masukan tentang “Apakah yang menjadikan suatu sekolah adalah Sekolah Katolik?” yang kami peroleh dari Maria Brownell, salah seorang kontributor situs Katolisitas. Maria berdomisili di Wisconsin, Amerika Serikat, dan ia aktif terlibat dalam penyusunan kurikulum salah satu sekolah Katolik di sana:

“Apakah yang menjadikan suatu sekolah adalah Sekolah Katolik?

1. Sekolah Katolik adalah sekolah yang bertujuan untuk membentuk anak menjadi kudus

Tujuan dari sekolah tersebut adalah tidak hanya mengajar, melainkan juga membentuk anak- anak menjadi pribadi yang utuh. Sekolah tidak hanya harus mengajar mereka secara akademis, tetapi juga untuk harus bekerja keras untuk membawa mereka kepada kekudusan. Manusia terdiri atas tubuh dan jiwa, maka sekolah Katolik yang baik harus tidak hanya mengisi ‘kepala’ murid- muridnya dengan informasi, tetapi harus juga mengisi hati murid- muridnya dengan iman Katolik dan kasih. Sekolah Katolik harus menanamkan dalam hati murid- muridnya, hati yang mengasihi dan melayani: pelayanan kepada sesama, kepada negara dan kepada Tuhan.

2. Semua guru/ pendidik di sekolah harus Katolik dan bekerja sama dengan para orang tua murid untuk mendidik anak- anak, terutama dalam hal iman.

a. Semua guru di sekolah harus Katolik dan mereka harus mengenal/ mengetahui tentang iman Katolik dengan baik, dan melaksanakan ajaran iman mereka. Mereka harus percaya, setuju dan mengasihi semua ajaran Katolik. Guru- guru juga harus mengejar kekudusan dalam kehidupan mereka sehari- hari.

b. Adalah ideal jika sekolah mempunyai juga imam pembimbing rohani yang turut aktif membina sekolah tersebut. Atau suster (biarawati) yang juga dapat mengajar para murid. Imam, biarawan ataupun biarawati yang mengajar di sekolah -misalnya untuk mata pelajaran Agama atau mata pelajaran lain sesuai dengan keahlian masing- masing- dapat menjadi tokoh panutan bagi murid- murid dan membantu mereka untuk semakin meneladani Kristus.

c. Para guru juga harus menerapkan ajaran iman Katolik di dalam pengajaran mereka di dalam setiap mata pelajaran. Mereka harus mencari kesempatan- kesempatan untuk meng-integrasikan iman dalam pengajarannya kepada murid- murid.

d. Setiap murid harus dihargai martabatnya sebagai anak Allah, dan sebaliknya semua murid harus menghormati dan menaati para gurunya.

e. Sekolah harus bersama- sama dengan orang tua mendidik anak- anak dan membentuk karakter mereka, sebab pada akhirnya, orang tua-lah yang merupakan pendidik pertama dan utama dalam hal iman bagi anak- anak. Orang tua harus juga mendukung para guru, dan tidak cenderung mempunyai sikap curiga kepada guru yang memberikan koreksi ataupun teguran kepada anaknya.

3. Kurikulum sekolah harus Katolik:
Pendidikan Iman.jpg
Anak-anak SD St. Yoseph Purwokerto tugas koor di Gereja Paroki (19/04/2017 photo by Stiffany L.J)

a. Liturgi harus dimasukkan di dalam kurikulum sekolah, seperti perayaan Misa Kudus, adorasi Sakramen Mahakudus, dst.

b. Buku- buku yang dipergunakan harus baik secara akademis, namun juga setia terhadap ajaran Gereja. Ini tidak berarti bahwa semua buku harus merupakan buku- buku Katolik. Namun demikian, buku- buku tersebut harus tidak bertentangan dengan ajaran Gereja. Semua buku harus mengajarkan semua mata pelajaran secara akademis dengan baik.

c. Kurikulum harus mengajarkan kepada para murid, “Bagaimana untuk BELAJAR” dan “Bagaimana untuk BERPIKIR”, dan bukan hanya sekedar memberikan kepada mereka banyak informasi. Kurikulum harus mengajar anak- anak untuk berpikir kritis, analitis dan jika memungkinkan secara filosofis. Pada akhirnya, setelah luus SMA anak- anak harus dapat menjawab beberapa pertanyaan fundamental, seperti: Siapakah aku? Mengapa saya ada di dunia? Apakah tujuan hidupku? Siapakah Tuhan dan apakah rencana-Nya bagi dunia dan saya?

d. Iman harus diintegrasikan ke dalam kurikulum, di dalam semua mata pelajaran. Semua mata pelajaran berhubungan dan saling mendukung satu dengan lainnya. Sebagai contohnya, ketika mereka belajar sejarah, mereka perlu juga melihat sejarah dari sudut pandang Katolik. Kurikulum pelajaran sejarah harus juga mengajarkan tentang sejarah keselamatan dari Tuhan, peran para Santa/ Santo dalam kurun waktu/ sejarah tertentu.

e. Literatur dan buku- buku bacaan harus memasukkan buku- buku Katolik dan kisah- kisah klasik yang mengajarkan nilai- nilai kebajikan dan membedakan antara yang baik dari yang jahat, yang benar dari yang salah. Di mata Tuhan, pada akhirnya orang- orang yang baik akan menang dan mereka yang jahat selalu kalah. Contohnya, buku kisah the Chronicles of Narnia adalah lebih baik daripada Harry Potter, karena karena pada kisah Narnia, tokoh- tokoh utamanya adalah anak- anak yang baik, dan bukan penyihir. Dewasa ini banyak buku yang ingin mengacaukan konsep yang baik dan yang jahat pada anak-anak. Kejahatan dapat kelihatan bagus, menarik dan berani, namun kejahatan adalah kejahatan, dan kita tidak dapat membungkusnya dengan gula- gula seolah- olah itu baik.

f. Penekanan harus diberikan pada mata pelajaran dasar, seperti: membaca, menulis dan artimetika (matematika). Sekolah harus mengajarkan kepada anak- anak bagaimana membaca dengan baik, terutama buku- buku dengan banyak tulisan (bukan buku berupa komik yang memuat banyak gambar).

g. Contoh- contoh adalah sangat penting, terutama ketika guru mengajarkan matematika dan ilmu pengetahuan. Anak- anak dapat belajar dengan baik ketika mereka menggunakan indera mereka, tidak hanya dengan mata, telinga dan otak, tetapi juga dengan alat peraba (misalnya pengajaran penjumlahan, dipraktekkan dengan menghitung koin, dst). Kurikulum harus mengkaitkan buku- buku pelajaran dengan kehidupan nyata. Oleh karena itu, pengalaman praktis adalah sesuatu yang baik. Contohnya, ajarkan mereka untuk menghargai dan menyukai ilmu pengetahuan melalui pengalaman keluar melihat alam sekitar, tidak saja dari buku. Saat -saat seperti ini, adalah saatnya bagi para guru untuk mengajarkan tentang Tuhan dan keajaiban alam ciptaan-Nya.

4. Lingkungan di dalam sekolah harus Katolik:

a. Harus ditekankan dan dipelihara, suatu lingkungan sekolah yang menyatakan kasih dan saling menghormati, di antara para guru, murid dan staf di sekolah. Tidak diperkenankan saling berteriak/ marah- marah/ kasar satu sama lain (di antara guru, antara guru dan murid- murid ataupun di antara para murid). Jika seorang murid berbuat salah, jangan dipermalukan: tidak diperkenankan mengkoreksi murid di hadapan para murid yang lain.

b. Para murid harus merasa bahwa mereka dikasihi dan dihargai. Guru- guru ada di sana untuk membantu mereka untuk menjadi seseorang seperti yang dikehendaki oleh Tuhan.

c. Tidak perlu menghargai mereka dengan banyak kado/ bingkisan. Para murid seharusnya di harapkan untuk melakukan yang terbaik menurut kemampuan mereka, dan untuk memberikan apa yang terbaik dari diri mereka kepada Tuhan.

d. Para Santa/ Santo harus menjadi teladan mereka, dan bukan para bintang film/ selebriti. Maka adalah tugas para guru untuk memperkenalkan teladan para Santa/o kepada para muridnya.

e. Para guru harus mengajar anak- anak bagaimana untuk berpikir sendiri, dan untuk memberikan dorongan/ inspirasi agar mereka menjadi yang terbaik bagi Tuhan, mencintai Tuhan dan sesama, dan mencintai Gereja. Ketentuan disiplin harus berdasarkan kebajikan. Ketentuan tersebut harus mendorong para murid untuk menjadi semakin berbudi dan kudus.

f. Persaingan dalam sekolah harus tidak hanya di bidang akademis, olah raga dan musik, tetapi juga dalam hal pembangunan karakter. Sebagai contohnya, penghargaan juga harus diberikan terhadap murid- murid yang mempunyai hati yang melayani, pekerja keras/ rajin, dan suka menolong, dst.”

Dengan demikian, memang ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk menjadikan sekolah benar- benar sekolah Katolik, yang sungguh- sungguh mengajarkan iman Katolik dan mengintegrasikannya di dalam seluruh kegiatan belajar dan mengajar di sekolah.

Beberapa contoh konkret yang dapat dilakukan di Indonesia:

a. Doa bersama sebelum sekolah dimulai. Baik jika diterapkan doa Malaikat Tuhan (Angelus) pada jam 12 siang, dilanjutkan dengan renungan singkat Kitab Suci dan tentang kisah riwayat orang kudus (Santa/ santo) pada hari itu sesuai dengan kalender liturgi Gereja.

b. Diadakan Misa Kudus bersama minimal seminggu sekali (jika dapat diusahakan lebih sering lebih baik), dengan disediakannya kesempatan mengaku dosa dalam Sakramen Pengakuan Dosa sebelum Misa dimulai, dan Ibadah Tobat minimal sebulan sekali.

c. Diadakan kantin kejujuran (kantin tanpa penjaga, para pembeli harus dengan jujur membayar sesuai dengan jumlah yang dibeli). Tentu anak- anak perlu dilatih untuk dapat memahami cara kerja kantin ini.

d. Diadakan piket kebersihan digilir per kelas untuk melatih anak- anak saling melayani.

e. Pelajaran tentang iman Katolik diintegrasikan dengan seni: seni suara/ musik, seni lukis, menjahit, keramik, pidato dst.

f. Demikian juga pada pelajaran ilmu pengetahuan, hindari menggunakan buku- buku yang tidak sesuai dengan ajaran iman Katolik, seperti evolusi Darwin (makroevolusi), atau buku sejarah yang mengatakan bahwa Abad Pertengahan adalah Abad kegelapan; atau buku yang mengatakan bahwa dunia sudah terlalu penuh, sehingga orang harus membatasi jumlah anak. Jika pemakaian buku- buku tersebut tidak dapat dihindari, minimal para guru dapat memberikan penjelasan yang meluruskannya.

g. Pendidikan seksualitas pada anak- anak sesuai dengan umurnya, dengan menyampaikan nilai- nilai Kristiani sesuai dengan ajaran Gereja Katolik.

Pendidikan iman Katolik di paroki

Mengingat fakta secara umum, bahwa dewasa ini banyak orang Katolik tidak sungguh- sungguh mengenali imannya, maka pendidikan katekese sebaiknya dilakukan di semua lini, maksudnya adalah, kepada anak- anak, kaum muda, maupun orang tua. Katekese anak dapat dilakukan melalui Bina Iman, yang dilakukan sekali seminggu, menurut kelompok usia. Namun mungkin baik dipikirkan jika terdapat buku panduan dari pihak keuskupan setempat, agar memudahkan para guru untuk mempersiapkan pengajaran.

PIA Sanyos
Suasana pembinaan iman anak di Paroki St. Yoseph (14/05/2017 photo by Stiffany L.J)

Alangkah baiknya, jika pastor paroki menghimbau dan mendukung Bina Iman, juga dalam hal mencari para pengajar yang kompeten untuk mengajar Bina Iman. Mungkin kaum muda/ OMK dapat dilibatkan dalam hal ini, setelah mereka menjalani semacam pelatihan untuk menjadi guru- guru Bina Iman. Jika keuangan paroki memungkinkan, dapat pula diusahakan adanya staf khusus yang menangani hal katekese umat, dalam hal ini untuk menjadi koordinator guru- guru Bina Iman, yang memberikan pengarahan kepada para guru setiap minggunya (atau dua minggu sekali) sebelum mereka mengajar; ataupun juga mengkoordinasikan para katekis lainnya yang bertugas mengajar katekumen, calon Krisma ataupun calon penerima Komuni pertama. Alangkah baiknya jika dalam pendidikan iman anak- anak ini, pihak orang tua dilibatkan, misalnya dengan secara periodik mengadakan rekoleksi/ retret keluarga ataupun semacam seminar setengah hari yang melibatkan orang tua, ataupun yang disertai dengan acara rekreasi keluarga.

Di samping itu perlu diperhatikan adanya kesinambungan dalam pendidikan iman Katolik dari masa kanak- kanak sampai usia dewasa. Jika tidak ada kelompok khusus antara usia Komuni pertama sampai usia mudika maka perlu diusahakan komunitas ‘antara’ tersebut. Komunitas ini tidak selalu harus baru, tetapi bisa juga mendayagunakan komunitas yang sudah ada, seperti Putra- Putri Altar, Legio Maria Junior, Kelompok koor anak/ remaja, yang diberi pandampingan rohani.

omk voltusKomunitas OMK atau pasangan muda juga dapat disemangati dengan katekese tentang pendalaman iman Katolik. Selanjutnya, kelompok ini dapat didayagunakan untuk juga menjadi para guru Bina Iman Anak dan Remaja. Jika memungkinkan, dipupuk juga pelatihan OMK untuk menjadi kelompok yang berguna bagi kegiatan membangun kehidupan menggereja, seperti menjadi relawan yang mengunjungi  dan mendoakan umat paroki yang sakit, menjadi guru Bina Iman termasuk mengajar Bina Iman dalam bahasa Inggris, menggiatkan kelompok Bible Study/ Bible Sharing untuk pendalaman iman, kelompok diskusi apologetik, kelompok musik/ orkestra rohani dan seterusnya.

Hal yang juga dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas katekisasi adalah prinsip sponsor/ pendukung dalam proses katekumenat calon baptis. Sesungguhnya prinsip ini bukan hal yang baru, melainkan sudah diterapkan oleh Gereja sejak jaman dulu, dan kini diterapkan kembali di banyak paroki di negara- negara lain. Dalam  proses ini, setiap katekumen didukung oleh seorang sponsor (dari salah seorang umat yang sudah dibaptis), yaitu pendukung yang mendampingi katekumen sepanjang proses katekumenat. Tugas seorang sponsor adalah membantu agar katekumen dapat semakin memahami iman Katolik, membantunya menemukan motivasi yang lebih murni untuk menjadi Katolik dan mendampinginya dalam pergumulan yang mungkin dihadapi dalam proses katekumenat. Maka para sponsor adalah “mereka yang telah mengetahui dan membantu calon baptis dan berdiri sebagai saksi baginya dalam hal karakter moral, iman dan intensi”. ((Rite of Christians Initiantion for Adults, 10)). Kemungkinan, para lulusan kursus evangelisasi di paroki dapat diarahkan untuk menjadi sponsor bagi para katekumen. Selain sponsor, setiap katekumen juga mempunyai wali baptis yang mendampinginya, membantu pertumbuhan imannya dan selalu mendoakannya setiap hari. “Para wali baptis adalah orang- orang yang dipilih oleh para katekumen atas dasar teladan yang baik, persahabatan …. Adalah tanggung jawab dari para orang tua baptis untuk memperlihatkan kepada para katekumen bagaimana mempraktekkan Injil di dalam kehidupan pribadi dan sosial, untuk menguatkan mereka di saat- saat mereka ragu/ enggan dan kuatir, untuk menjadi saksi dan untuk membimbing kemajuan katekumen dalam kehidupan sebelum dan sesudah baptisan.” ((Rite of Christians Initiantion for Adults, General Introduction, 11)). Karena peran sponsor dan para orang tua baptis sangatlah penting, maka pentinglah pula dipersiapkan beberapa umat di paroki agar dapat melakukan tugas ini. Diperlukan katekese umat dalam hal ini, agar mereka dapat terpanggil untuk menjadi sponsor [dan wali baptis] dan melakukan tugas mereka dengan suka cita. Sponsor dan para katekis harus bersama- sama saling bahu- membahu untuk mempersiapkan calon baptis menerima Kristus dalam sakramen- sakramen Inisiasi. Perlu dipikirkan juga bagaimana menerapkan penggabungan para katekumen ke dalam kehidupan seluruh umat beriman dalam liturgi, seperti yang ditetapkan dalam the RCIA (Rites of Christian Initiation of Adults) yang disusun berdasarkan the Order of Christian Initiation of Adults yang dipromulgasikan oleh Paus Paulus VI pada tahun 1972.  Hal ini terlihat dalam beberapa ritual dalam liturgi yang mencerminkan beberapa tahapan dalam masa katekumenat, sejak masa penerimaan sampai dibaptis, seperti: Rite of Acceptance, Rite of Welcoming, Rite of Election, Rite of the Call to Continuing Conversion, Scrutinies, Sacraments of Initiation. Dan akhirnya, perlu dipikirkan bagaimana seluruh umat di paroki menyambut mereka, sehingga mereka dapat masuk ke dalam kehidupan menggereja. Untuk membantu umat yang baru dibaptis, maka mistagogi juga harus disusun secara serius.

Para katekis awam juga perlu terus memperdalam pengetahuan dan penghayatan mereka akan iman Katolik, sehingga mereka dapat mengajar sesuai dengan pengajaran Magisterium Gereja; setelah menerapkan ajaran tersebut dalam kehidupannya pribadinya sendiri. Alangkah baiknya jika seksi Katekese KWI secara berkala mengadakan sesi pengajaran khusus tentang beberapa topik khas Katolik secara mendalam (misalnya Maria, tentang Gereja, Sakramen, dst) yang dapat diikuti oleh semua katekis. Harapannya agar para katekis menjadi semakin memahami ajaran iman Katolik, yang selalu mengambil dasar dari Kitab Suci dan Tradisi Suci. Lebih lanjut, seksi Katekese KWI juga dapat memberikan kursus kepada para katekis, yang nantinya menjadi dasar untuk pemberian sertifikat mengajar kepada para katekis.

Selanjutnya, katekese lanjutan bagi kelompok umat yang baru dibaptis juga sangat penting. Mereka yang baru dibaptis sebenarnya adalah ‘anak- anak’ dalam hal rohani, yang memerlukan pembinaan iman lebih lanjut agar iman mereka dapat terus bertumbuh. Pembinaan lanjutan ini idealnya tidak hanya dilakukan satu atau dua kali, tetapi seterusnya, sampai mereka dapat menjadi sponsor bagi para calon baptis dalam angkatan berikutnya. Dengan demikian, harapannya proses katekese  dapat  berjalan berkesinambungan dan ada proses regenerasi dalam proses tersebut.

Kesimpulan

Bahwa ada banyak umat Katolik yang tidak sungguh- sungguh mengenali imannya, menjadi tantangan bagi kita untuk memperbaiki proses katekese di dalam Gereja Katolik. Proses katekese atau pendidikan iman ini harus dimulai sejak dini, baik di keluarga, sekolah maupun di paroki. Di dalam semua proses tersebut, harus tetap dipahami dan diterapkan bahwa orang tua merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak- anak mereka dalam hal iman dan pembentukan karakter. Dalam melakukan tugas ini, orang tua memperoleh bantuan dari sekolah dan paroki dan ketiga pihak ini harus bersama- sama berusaha untuk membentuk anak untuk mengasihi Tuhan dan sesama, dan menjadi pribadi yang bertanggungjawab di dalam hidup ini, agar kelak dapat masuk dalam Kerajaan Surga. Dewasa ini  ada begitu banyak tantangan yang harus dihadapi untuk melaksanakan pendidikan iman sejak usia dini, karena ada banyak tawaran dunia yang dapat lebih menarik perhatian anak-anak dan generasi muda. Maka orang tua, pihak sekolah dan paroki harus bersatu padu untuk bersama- sama berusaha untuk malaksanakan tugas pendidikan iman ini, dengan memperhatikan isi dan cara penyampaiannya. Jika usaha terpadu ini dapat dilakukan secara berkesinambungan,  dari usia dini sampai dewasa, maka besar harapan kita bahwa semakin banyak umat Katolik dapat mengenal dan mengasihi imannya, dan dapat pula menjadi saksi- saksi iman yang hidup untuk membangun Gereja dan masyarakat. Janganlah kita lupa akan prinsip dasar dalam hal pendidikan iman ini : “Jangan biarkan dunia ini yang mendidik dan membesarkan anak- anak kita, sebab sebagai orang tua, guru dan Gereja, kitalah yang harus mendidik anak- anak agar mereka dapat masuk surga.” Mari kita bersama sebagai anggota Tubuh Kristus secara bahu membahu bekerja bersama Kristus sang Kepala kita untuk mewujudkan kehendak-Nya yang “mengendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1 Tim 2:4). Semoga pendidikan iman dalam keluarga, sekolah dan paroki mengarah kepada pengetahuan akan kebenaran ini, yang menghantar kita sampai kepada kehidupan kekal.

Catatan:
Artikel ini dibuat untuk acara Temu Darat Katolisitas 2, dengan tema “Pendidikan anak sejak usia dini di dalam keluarga, paroki dan sekolah”, yang diselenggarakan pada tanggal 29 Januari 2011 di Paroki Hati Kudus – Kramat, Jakarta.

Lampiran:

Beberapa contoh yang diterapkan dalam Sekolah Katolik St. Adalbert, Rosholt, Wisconsin, USA:

1. Liturgi:

a. Misa Kudus, (seminggu 3x)
b. Doa Rosario bersama (seminggu 2x)
c. Benediction/ penghormatan kepada Sakramen Maha Kudus (seminggu 1x)
d. Program berdasarkan kebajikan, menurut Santa/o dalam bulan itu
e. Pengakuan Dosa (sebulan sekali)

2. Program khusus:

a. Hari Para Orang Kudus 2 November (presentasi, buku laporan, dengan peragaan kostum para santa dan santo).
b. Menanam kebun sekolah (Planting garden for Mother Mary, bulan May)
c. Operation Baby Bottle, memberikan donasi bagi kegiatan pro-life sepanjang masa Prapaska (pada masa Adven).
d. Jalan salib/ Devosi Kerahiman Ilahi (Sepanjang masa Prapaska dan Paska)
e. Field trip yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan (contoh: ke Taman Kota, Kebun Binatang, dst)
f. Field trip yang berhubungan dengan iman (contoh ke tempat ziarah, gua Maria, dst)
g. Field trip yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan sosial (contoh: ke museum)
h. Minggu Kompetisi Sekolah (pameran ilmu pengetahuan, aneka perlombaan, dst)
i. Pelayanan masyarakat (contohnya menanam pohon- pohon, mengumpulkan sampah pada hari the Earth Day, mengumpulkan sembako untuk dibagikan ke warga miskin, etc)
j. Mengundang pembicara untuk memberikan pengarahan (i.e. Pastor, Polisi, pera petugas pelindung hutan, veteran/ pensiunan pegawai negeri).
k. Perlombaan olah raga
l. Membuat/ mencetak buku sekolah (anak- anak SMA)
m. Malam Dana bagi Sekolah (Harvest Dinner, Church Picnic, bake sales, dst)
n. Pertunjukan Natal
o. Pertunjukan bakat anak- anak

Penulis: STEFANUS & INGRID (www.katolisitas.org)

*images: hasil penelusuran google

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s