BELAJAR IMAN DARI TONG SAMPAH

Judul kok aneh bener to? Sabar dulu brow n sista …sambil nunggu kiriman opornya saya mau cerita sedikit ya. Lebaran ini, pembantu dan pegawaiku kan libur. Rencananya broo.., libur lebaran tuh mau males-malesan. Tapi ternyata gak bisa, karena ada bau menyengat. Mau diabaikan saja bau itu tapi justru makin menyengat. Akhirnya dicari sumbernya. Ternyata sumbernya dari tempat sampah yang sampahnya gak dibuang sejak beberapa hari lalu, karena tukang sampahnya libur lebaran.

Nah, saat membersihkan tempat sampah itu, ‘mak njegagik’ (kalau bahasa Indonesianya, “sekonyong-konyong”) tersadar ada beberapa makna yang disampaikan tempat sampah itu kepada saya:

  1. Tempat sampah itu seperti diri kita sendiri yang menampung segala masalah hidup, yang apabila kita berusaha mencari solusinya maka sampah masalah hidup kita akan terbuang atau terpecahkan masalahnya, sehingga tempat sampah atau diri kita sendiri tidak berbau, dalam arti tetap terjaga bersihnya. Tetapi apabila kita tidak berusaha mencari solusi pemecahan masalahnya atau diabaikan saja, maka masalah itu akan menjadi semakin busuk sehingga efek busuknya adalah emosi kita menjadi tidak stabil, kita gampang marah, pelupa, dan jadi mudah sakit.
  2. Tempat sampah juga mengingatkan kita pada saat kita bergaul dengan sesama, saat teman atau saudara kita “curhat” tentang masalah pribadinya, atau juga bercerita tentang gosip yang menarik. Saat itu kita menerima “sampah” di dalam lubuk “tong sampah hati” kita. Rasanya ingin secepatnya berita aktual tersebut kita bagikan ke teman-teman lainnya, sehingga makin rame pergunjingan di grup yang kita ikuti. Nah ini kebalikan dari yang disampaikan di atas (no 1). Karena saat kita menyebarluaskan gosip yang kita terima, saat itu pula tempat sampah di lubuk hati kita membusuk. Semakin semangat menyebar gosip, semakin busuk pula tempat sampah hati kita karena sadar atau tidak, dengan menyebarkan gosip itu kita telah menyakiti hati teman yang telah mempercayai kita. Selain itu, gosip itu sebenarnya hanya menyebarkan bau busuknya saja dari cerita yang gak jelas kebenarannya. Makin kita sebarkan sesuatu yang gak jelas kebenarannya itu, lama-lama kita dapat meyakininya sebagai “kebenaran”. Kalau kita hanya menyimpan curhatan dari teman-teman kita lalu mendoakannya, tanpa ada niatan sedikit pun untuk menceritakan pada orang lain, maka cerita itu akan lenyap dengan sendirinya. Alhasil tempat sampah di hati kita semakin bersih dan sekeliling kita pun jadi bersih dari sampah gosip.
  3. Tempat sampah juga menunjukkan kepada kita suatu bentuk pelayanan, yaitu dengan suka rela menampung segala sesuatu yang tidak benar, yang kotor di sekeliling kita, agar lingkungan sekitar kita menjadi bersih. Yang dimaksud menampung segala sesuatu yang tidak benar atau yang kotor adalah saat kita melihat ketidakbenaran atau hal-hal yang menyimpang, maka kita berkewajiban memberi nasehat atau bertindak menyadarkan orang tersebut agar sadar dari perbuatan yang gak benar atau salah tersebut.
  4. Sampah-sampah masalah, gosip dan curhatan itu setelah dipilah di tong sampah kemudian bisa didaur ulang menjadi suatu pembelajaran yang bermakna bagi hidup kita. Kita bisa belajar dari sampah kehidupan itu agar makin bijaksana dalam bersikap dan bertindak. Tong sampah menjadi tempat memilah dan mendaur ulang masalah kehidupan dengan bantuan Sabda Tuhan sehingga dapat menjadi “pupuk penyubur iman”. Ternyata sampah tidak lagi menjadi masalah, tapi  berubah menjadi berkah.

Dari 4 poin di atas, kita diingatkan tentang bagaimana mengantisipasi kejadian yang mungkin akan kita alami. Seperti pada poin pertama yaitu saat kita banyak masalah, selain kita sendiri yang berusaha, siapa lagi yang mampu membersihkan tong sampah hati kita yang kotor dan berbau busuk?

Saat kita menerima curhatan atau gosip yang akan bikin heboh sekampung kalau diceritakan, bagaimana cara kita bisa mengerem mulut dan hati kita untuk tidak bercerita atau ngegosip?

Setahu saya ya – tanpa bermaksud menggurui atau sok tahu – solusi paling jitu agar hidup kita bisa seperti tong sampah yang bersih dan harum baunya adalah dengan berdoa, merenungkan Sabda Tuhan dan berusaha.

Percayakan semua beban masalah yang sedang kita hadapi kepada Tuhan dan dengarkan kehendakNya. Pasti Tuhan punya solusinya. Nah sembari nunggu solusi Tuhan turun menyelesaikan masalah kita, kita juga berusaha, karena kita tahu dan percaya bahwa solusi dari Tuhan akan turun bersama dengan usaha kita. Jangan pernah berpikir bahwa hanya dengan usaha sendiri tanpa bantuan Tuhan, semua masalah hidup kita bisa selesai..!! Juga jangan berpikir bahwa hanya dengan doa memasrahkan kepada Tuhan, semua masalah kita akan bisa teratasi tanpa usaha sama sekali..!! Kok enak bener, kamu yang punya masalah, Tuhan yang disuruh susah payah menyelesaikan masalahmu.

Ceritakan kepada Tuhan semua yang kamu alami hari ini, gosip-gosip dan curhatan yang kamu terima. Lalu dengarkan kehendak Tuhan. Niscaya kita akan menemukan berkah bagi hidup dan iman kita. Kita pun terbebas dari rasa ingin menggosip kepada sesama dengan hasil tidak baik. Juga kita percaya bahwa Tuhan akan turut serta menyelesaikan permasalahan orang yang digosipkan tersebut berkat doa dan usaha kita mendengarkan kehendakNya.

Mungkin kita pernah membaca pesan ini: “Orang beriman menaruh sampah pada tempatnya” dan “Bersih bagian dari iman”. Keduanya punya makna rohani yang dalam. Sebagai orang beriman, kita tidak sekedar “membuang sampah pada tempatnya”, tapi “menaruh sampah pada tempatnya”. Kata “membuang” menunjuk pada tindakan menyingkirkan sesuatu yang kita anggap tidak berguna, mengganggu, mengotori, dsb. Menurut Paus Fransiskus, kebiasaan ini dapat menjadi “budaya buang” yang menimbulkan masalah baru, seperti kerusakan ekologis, ketimpangan sosial (misalnya kebiasaan warga negara-negara Barat yang kerap menyisakan makanan dan membuangnya sama seperti “mencuri makanan dari orang miskin”), dsb. Sedangkan kata “menaruh” bermakna tindakan menempatkan sesuatu yang masih mempunyai nilai atau berguna. Kemudian kata “pada tempatnya” disadari oleh orang beriman bahwa tempat yang paling tepat untuk menaruh segala masalah kehidupan adalah pada doa, permenungan Sabda Tuhan dan segala usaha baik kita. Tempatnya bukan pada tindakan gosip, pelarian, membuang diri (putus asa), atau melempar masalah pada orang lain. Niscaya, sikap dan tindakan itu dihayati sebagai perwujudan iman untuk membersihkan diri, keluarga dan lingkungan kita dari sampah-sampah kehidupan yang tak terurus. Dengan doa, Sabda Tuhan dan usaha kita, sampah kehidupan dapat diolah menjadi bermanfaat bagi kehidupan dan pertumbuhan iman.

Saya jadi ingat lagu pujian yang judulnya “Kau Dipanggil Tuhan”

Reff: Kau dipanggil Tuhan, dijadikan duta, supaya hidupmu menyinarkan kasih-Nya,

1. Berat memang tugasmu, tetapi kau diberi rahmat

2. Sang Kristus memikatmu, tak ‘kan mampu kau menolaknya.

3. Dan doaku bagimu: Semoga teguh semangatmu.

Sudah, begitu dulu ya perbincangan kita. Mudah-mudahan ada manfaatnya. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membacanya. Sekarang silahkan dinikmati hidangan lebarannya.

Penulis:

herman angkawijaya
Herman A.
Iklan

One thought on “BELAJAR IMAN DARI TONG SAMPAH

  1. Bapak, ibu yg terkasih dlm Tuhan, renungan diatas merupakan hasil permenungan saya dan ditambah oleh Romo Kristiadji ..mudah-mudahan dpt bermanfaat menguatkan iman kita. ☺ Berkah Dalem.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s