KELEMBUTAN HATI SEORANG ANAK PEMBAWA DAMAI (bagian-1)

Perjumpaan singkat penuh makna

Perjumpaan ku dengan seorang anak laki-laki berkulit terang, terjadi saat berpapasan di teras Gereja Paroki St. Yoseph Purwokerto seusai misa hari raya Hati Kudus Yesus (Jumat, 23 Juni 2017). Dia sedang berjalan sendirian dan aku segera mengulurkan tangan menyalaminya sembari menyapa “Halo Dik, siapa nih?”. Anak ini belum pernah kulihat sebelumnya. Dia membalas uluran tanganku dan menatapku sambil menjawab, “Namaku Dalu”. Sedikit penasaran, kutanya lagi, “Kamu sama siapa?” Dengan cepat dia menjawab, “Sama Ibu, lagi doa” (sambil menunjuk ke arah kapel Maria sudut belakang Gereja). “Ke sini naik apa?” tanyaku lebih lanjut karena hujan yang tadi lebat selama misa, masih menyisakan gerimis. “Naik becak” jawabnya singkat.

Dari logat bicaranya saat menjawab pertanyaanku, langsung kuduga dia ini berasal dari Jakarta. Tapi supaya lebih yakin, kutanyakan saja dari mana asalnya. Ternyata benar, dia menyebut dirinya berasal dari salah satu paroki di Jakarta dan saat ini sedang ikut Ibunya mudik ke rumah saudara di Purwokerto.

Tak lama kemudian seorang wanita datang dari arah belakang Gereja dan menghampiri kami. Rupanya dia adalah Ibunya Dalu. Terjadi percakapan singkat tentang kedatangan mereka ke Purwokerto untuk bersilahturahmi dengan keluarga yang sebagian besar Muslim. Dalu diajak mudik ke Purwokerto, tempat asal Ibunya. Dari keluarga besar mereka, ada 3 orang yang Katolik dan saat ini tidak tinggal di Purwokerto lagi. Sempat diceritakan pula bahwa Ibu ini alumnus SMP Bruderan dan menjadi Katolik. Masih teringat di memorinya, dia juga sering ke gereja St. Yoseph yang dulu menghadap ke jalan Kenanga.

Seorang anak pembawa damai yang di-bully

Ketika percakapan singkat itu sedang berlangsung, seorang Ibu warga Paroki Sanyos juga menyapa kami dan langsung kuperkenalkan dengan Dalu dan Ibunya. Beberapa saat kualihkan perhatian dari mereka untuk menyalami dan bertegur sapa singkat dengan umat lain yang juga baru selese ikut misa. Setelah itu, kulihat kembali ke arah Dalu yang sedang bercerita dengan Ibu warga Paroki Sanyos. Dalu ternyata sedang menangis. “Kenapa Dalu menangis?” tanyaku. Karena Dalu sedang menyeka airmatanya dan menata pernafasannya, maka Ibu dari Paroki Sanyos tadi mencoba memberi penjelasan, “Romo, adik ini tadi cerita pernah mendamaikan temannya yang berantem, tapi dia malah di-bully“. Kupegang bahunya sambil menenangkan dia. Setelah berhenti nangis, Dalu pun menceritakan lebih detil kejadiannya. Dia berniat baik untuk mendamaikan teman sekelasnya yang sedang berantem tapi justru mendapat balasan yang menyesakkan hati. Dia di-bully oleh temannya itu.

Aku tersentuh oleh kisahnya dan memberi peneguhan pada Dalu agar tidak bersedih. Kukatakan kepadanya, “Itu resiko dari perbuatan baik sebagai murid Yesus”. Dalu terlihat termenung mendengar kata-kata itu. “Dalu pengen jadi Romo?” tanyaku memecah keheningan sesaat itu. Dia cepat menjawab, “Nggak pengen”. “Lho kenapa ngga mau?” Dalu memberi alasan, “Aku ingin lanjutin keluargaku”. Aku hanya tersenyum. Bisa kumengerti kemudian alasan Dalu itu sangat masuk akal setelah Ibunya menceritakan bahwa Ayahnya sudah dipanggil Tuhan 3 tahun yang lalu. Apalagi, Dalu ini anak mereka satu-satunya. Percakapan singkat itu berlangsung tak lebih dari 10 menit. Mereka lalu berpamitan. Kuberi berkat tanda salib di dahi Dalu dan kuucapkan “terima kasih ya”.

Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai

Sepanjang malam kurenungkan peristiwa singkat perjumpaan dengan Dalu. Begitu mengesan: Dalu, seorang anak kelas 6 SD yang sudah yatim dan anak tunggal dari seorang Ibu yang menjadi editor freelance di Jakarta. Hatinya sangat lembut dan pendamai sehingga tidak tinggal diam saat melihat temannya berantem. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk segera mendamaikan mereka. Perasaannya cukup halus sehingga dia menangis ketika teringat kesedihannya di-bully oleh teman yang didamaikannya. Aku bisa mengerti perasaan sakit hatinya karena niat baiknya tidak dimengerti, namun justru mendapat balasan yang menyakitkan. Tapi Dalu tidak marah dan dendam pada temannya itu.

Siapkah hatiku tersakiti, bila tidak dimengerti dan niat baikku dibalas dengan sikap yang tidak mengenakkan? Apakah tetap ada kasih dan niat di hati untuk tetap membawa damai? Itulah pertanyaan yang kurenungkan dari peristiwa yang dialami Dalu.

Sebelum tidur, kubawa Dalu dalam doaku. Kuserahkan pada Hati Kudus Yesus agar memberi kehangatan kasih di hatinya sehingga dia bertumbuh menjadi pribadi yang penuh kasih. Semoga Dalu dapat tetap menjadi pembawa damai dan berkat bagi keluarga dan banyak orang. Sempat terlintas dalam pikiranku entah kapan bisa berjumpa lagi dengannya, padahal masih banyak inspirasi yang bisa kudapat darinya. Menyesal juga kami tidak sempat berfoto bersama. Tapi kuucapkan syukur atas perjumpaan singkat yang penuh makna itu. Perjumpaan dengan sebuah hati yang lembut dan cinta damai. Terima kasih Dalu, kau ajarkan padaku sebuah hati tulus pencinta damai dan mengingatkanku akan hati Yesus yang lemah lembut, rendah hati dan rela berkorban untuk membawa damai. Kuakhiri doaku dengan memohon, “Tuhan, jadikanlah hati kami seperti HatiMu dan jadikanlah kami pembawa damai. Amin”.

bersambung

*featured image: hasil penelusuran google.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s