AKU PERCAYA AKAN PERSEKUTUAN PARA KUDUS

I. Kita semua terikat dalam satu tubuh

body_of_christArtikel iman “persekutuan para kudus” adalah sebagai akibat dari pengertian Gereja sebagai perhimpunan semua orang kudus (lih. KGK 946). Rasul Paulus mengumpamakan perhimpunan ini sebagai satu Tubuh di dalam Kristus, di mana masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain (lih. Rm 12:5). Dengan demikian, apa yang dipunyai oleh satu anggota dipunyai juga oleh anggota yang lain. Milik yang paling berharga yang dipunyai oleh Gereja adalah Kristus sendiri yang menjadi kepala Gereja, Tubuh Mistik Kristus. Milik Kristus ini dibagi-bagikan kepada semua anggota secara nyata dan terlihat melalui sakramen-sakramen (lih. KGK 947; St. Thomas Aquinas, Symb. 10), terutama dalam Sakramen Ekaristi (lih. KGK 950, RC 1,10,24). Dalam Sakramen Ekaristi ini terlihat persekutuan para kudus secara nyata, baik Gereja yang sudah berjaya di surga, maupun Gereja yang sedang dimurnikan dalam Api Penyucian, maupun Gereja yang masih berziarah di dunia ini (lih. KGK 1370-1371). Kristus menghendaki kesatuan dari semua orang yang mengimani-Nya, kesatuan kawanan dengan Kristus sebagai Kepala inilah yang menjadi doa Kristus sebelum Dia menderita sengsara (lih. Yoh 17).

II. Persekutuan di dalam Kristus

Persekutuan para kudus bersumber pada Kristus. Jadi, ada persekutuan dalam hal-hal kudus (sancta), karena Kristus sendiri memberikan rahmat-Nya kepada anggota-Nya; dan persekutuan di antara umat beriman (sancti), karena Kristus sendiri yang mengikat seluruh umat beriman dalam satu tubuh.

1. Persekutuan dalam hal-hal kudus (sancta)

Hal-hal kudus ini mengalir dari Kristus sendiri. Hal ini termasuk: seluruh rahmat yang mengalir dari sakramen-sakramen; iman, pengharapan dan kasih; karisma-karisma; jasa Kristus yang tak terbatas; jasa yang berlimpah dari Bunda Maria dan para Santo-santa; serta buah-buah dari seluruh kebaikan dalam Gereja.

Sakramen-sakramen untuk mengkomunikasikan kebaikan Kristus

Akibat dari misteri Paskah, maka rahmat Allah mengalir secara luar biasa kepada umat Allah, terutama melalui sakramen-sakramen. Dalam sakramen-sakramen inilah maka terlihat jelas hubungan antara Kristus dengan seluruh anggota Gereja, terutama Sakramen Baptis dan Sakramen Ekaristi. Katekismus Gereja Katolik menuliskannya sebagai berikut:

KGK 950     Persekutuan dalam Sakramen-sakramen. “Buah-buah semua Sakramen diperuntukkan bagi semua umat beriman; dan Sakramen-sakramen itu bagaikan ikatan-ikatan kudus, yang menghubungkan umat beriman seerat-eratnya dengan Kristus; hal itu terutama berlaku untuk Pembaptisan, yang olehnya mereka masuk ke dalam Gereja seperti melalui pintu. ‘Persekutuan para kudus’ harus dimengerti sebagai persekutuan dalam Sakramen-sakramen… Walaupun nama itu [persekutuan] berlaku untuk semua Sakramen, karena mereka menghubungkan kita dengan Allah… namun ia lebih dikenakan kepada Ekaristi, karena ia mengakibatkan persekutuan ini” (Catech. R. 1,10,24).

Kristus memberikan diri-Nya demi keselamatan umat manusia melalui penderitaan dan kematian-Nya, sehingga barang siapa dilahirkan kembali di dalam Kristus akan mendapatkan keselamatan (lih. Yoh 3:6-7). Kelahiran kembali ini adalah Sakramen Baptis yang mencurahkan rahmat keselamatan yang mengalir dari misteri Paskah. Pencurahan Roh Kudus, yang terjadi setelah misteri Paskah Kristus, diberikan kepada umat beriman dalam Sakramen Penguatan. Dengan kekuatan Roh Kudus, maka misteri Paskah ini dihadirkan kembali dalam Sakramen Ekaristi, sehingga Kristus dapat memberikan keseluruhan diri-Nya kepada umat Allah. Rahmat pengampunan yang mengalir dari pengampunan Kristus di kayu salib mengalir dalam Sakramen Tobat dan juga Sakramen Pengurapan Perminyakan. Akhirnya perutusan yang diberikan oleh Kristus setelah kematian-Nya diwujudkan dalam Sakramen Imamat dan Sakramen Perkawinan.

Persekutuan dalam iman, pengharapan dan kasih

Salah satu tanda Gereja Kristus adalah kesatuan, yang dinyatakan dalam pengajaran. Itulah sebabnya persekutuan umat beriman juga diwujudkan dalam kesatuan ajaran iman, yang diwariskan dari generasi ke generasi oleh Gereja. Hal ini dimulai ketika jemaat perdana bertekun dalam pengajaran para rasul (lih. Kis 2:42). Karena pengharapan mengalir dari iman, maka dari persekutuan iman terbentuklah satu pengharapan. Persatuan akan iman dan pengharapan yang sama akan membawa pada persatuan kasih. Katekismus Gereja Katolik menjabarkan persatuan ini sebagai berikut:

KGK 953     Persekutuan dalam cinta. “Tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri” (Rm 14:7) dalam persekutuan para kudus. “Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersuka-cita. Kamu semua adalah Tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya” (1 Kor 12:26-27). Cinta “tidak mencari keuntungan diri sendiri” (1 Kor 13:5; bdk. 1 Kor 10:24). Perbuatan kita yang paling sederhana sekalipun, kalau dilakukan karena cinta, akan membawa keuntungan bagi semua orang. Ini terjadi dalam solidaritas dengan semua manusia, yang hidup dan mati, yang berdasarkan persekutuan para kudus. Tiap dosa merugikan persekutuan ini.

Persekutuan karisma-karisma

Dalam KGK dituliskan bahwa untuk membangun Gereja maka Roh Kudus memberikan karunia khusus di antara umat dari berbagai tingkatan (lih. KGK 951; LG 12), sehingga kita sebagai anggota tubuh Kristus juga turut menikmati dan mengambil manfaatnya (lih. 1Kor 12:7). Namun, bagi seseorang yang belum memperoleh karunia karismatik ini, tetaplah ia perlu mensyukuri karunia yang diberikan oleh Roh Kudus kepadanya.

Perbendaharaan kekayaan rohani

Dapat dikatakan bahwa Gereja mempunyai harta kekayaan rohani, yang bersumber pada jasa Kristus di kayu salib. Walaupun jasa ini sungguh tak terbatas, namun Rasul Paulus menekankan pentingnya partisipasi manusia untuk membangun jemaat, dengan mengatakan, “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat” (Kol 1:24). Yang secara sempurna menjawab panggilan ini adalah Bunda Maria, dan diikuti oleh para Santa-Santo. ‘Jasa’ mereka ini tergabung dalam pundi-pundi harta kekayaan rohani Gereja, bersama-sama dengan jasa pengorbanan Kristus. Karena apa yang dimiliki oleh sebagian anggota menjadi milik bersama semua anggota, maka seluruh anggota Gereja mempunyai hak untuk mendapatkan harta kekayaan ini. Distribusi kekayaan harta rohani ini dilakukan oleh Gereja, yaitu dengan indulgensi. Dengan indulgensi, Gereja memohon kepada Tuhan agar mengangkat siksa dosa sementara (seluruhnya atau sebagian) bagi kita yang berada di dunia ini maupun mereka yang berada di Api Penyucian, berdasarkan akan harta kekayaan Gereja dan kuasa yang diberikan oleh Kristus kepada Gereja-Nya.

2. Persekutuan di antara para kudus (sancti)

Dalam persekutuan para kudus, maka yang menjadi fokusnya adalah Kristus, karena Kristuslah yang menjadi kepala Tubuh Kristus dan kasih Kristus yang menyatukan seluruh anggota Gereja, baik yang masih mengembara di dunia ini, yang sedang dimurnikan di dalam Api Penyucian dan yang telah berjaya di Sorga (lih. KGK 954). Gereja yang satu mempunyai tiga status namun saling berhubungan, karena tidak ada yang dapat memisahkan kita semua dari kasih Kristus, entah penderitaan dan juga kematian (lih. Rom 8:38-39), sebab Gereja sebagai satu Tubuh Kristus, tidak terpisahkan dari Kepala-Nya yaitu Kristus (lih. Ef 4:16). Maka Gereja yang telah berada di Sorga dapat mengambil bagian dalam pengantaraan Kristus, dengan mendoakan Gereja yang berada di Api Penyucian dan Gereja yang masih berziarah di dunia agar dapat mencapai Sorga. Gereja yang di Api Penyucian dapat menerima dukungan doa-doa dari Gereja di dunia dan di Sorga. Dan Gereja di dunia ini dapat saling membantu -antara anggota-anggotanya, mendoakan Gereja yang masih berada di Api Penyucian dan juga memohon dukungan doa dari Gereja yang telah berjaya di Sorga. KGK menuliskannya sebagai berikut:

KGK 954 Tiga status Gereja. “Hingga saatnya Tuhan datang dalam keagungan-Nya beserta semua malaikat, dan saatnya segala sesuatu takluk kepada-Nya sesudah maut dihancurkan, ada di antara para murid-Nya, yang masih mengembara di dunia, dan ada yang telah meninggal dan mengalami penyucian, ada pula yang menikmati kemuliaan sambil memandang ‘dengan jelas Allah Tritunggal sendiri sebagaimana ada-Nya’” (LG 49).
“Tetapi kita semua, kendati pada taraf dan dengan cara yang berbeda, saling berhubungan dalam cinta kasih yang sama terhadap Allah dan sesama, dan melambungkan madah pujian yang sama ke hadirat Allah kita. Sebab semua orang, yang menjadi milik Kristus dan didiami oleh Roh-Nya, berpadu menjadi satu Gereja dan saling erat berhubungan dalam Dia” (LG 49).

KGK 955 “Persatuan mereka yang sedang dalam perjalanan dengan para saudara yang sudah beristirahat dalam damai Kristus, sama sekali tidak terputus. Bahkan menurut iman Gereja yang abadi diteguhkan karena saling berbagi harta rohani” (LG 49).

KGK 956 Doa syafaat para kudus. “Sebab karena para penghuni surga bersatu lebih erat dengan Kristus, mereka lebih meneguhkan seluruh Gereja dalam kesuciannya; mereka menambah keagungan ibadat kepada Allah, yang dilaksanakan oleh Gereja di dunia; dan dengan pelbagai cara mereka membawa sumbangan bagi penyempurnaan pembangunannya. Sebab mereka, yang telah ditampung di tanah air dan menetap pada Tuhan, karena Dia, bersama Dia, dan dalam Dia, tidak pernah berhenti menjadi pengantara kita di hadirat Bapa, sambil mempersembahkan pahala-pahala, yang telah mereka peroleh di dunia, melalui Pengantara tunggal antara Allah dan manusia yakni: Kristus Yesus. Demikianlah kelemahan kita amat banyak dibantu oleh perhatian mereka sebagai saudara” (LG 49). “Jangan menangis, sesudah saya mati saya akan lebih berguna bagi kamu dan akan menyokong kamu secara lebih baik daripada selama saya hidup” (Dominikus, dalam sakratul maut kepada sama saudara seserikat; bdk. Jordan dari Sachsen, lib. 93). “Saya akan mengisi kehidupan saya di surga dengan melakukan yang baik di dunia” (Teresia dari Kanak-kanak Yesus, verba).

Mendoakan jiwa di Api Penyucian dan memohon doa orang kudus

Sebagian saudara/i kita umat Kristen non-Katolik sulit untuk mengerti mengapa umat Katolik mendoakan jiwa-jiwa di Api Penyucian dan memohon doa-doa dari para kudus di Sorga. Beberapa prinsip berikut ini mungkin dapat membantu untuk menjawab keberatan-keberatan yang diajukan oleh mereka:

a.”… kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Kristus yang adalah Kepala. Daripada-Nyalah seluruh tubuh yang …diikat menjadi satu... menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih (Ef 4:16).

“Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus….. Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota….. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mukjizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata- kata dalam bahasa roh.” (1 Kor 12:12,14,24-28) Maka dari sini kita ketahui, bahwa Allah sendiri menetapkan beberapa orang dalam jemaat untuk bekerjasama dengan Kristus Sang Kepala dalam tugas Pengantaraan-Nya untuk membawa manusia kepada Allah Bapa.

b. Rasul Paulus berkata, “Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah” (1 Kor 3:9). Ayat ini menunjukkan bahwa walaupun Allah dapat berkarya sendirian saja untuk menyelamatkan manusia, namun pada kenyataannya, Ia melibatkan para rasul untuk menjadi kawan sekerja-Nya untuk membangun ladang Allah dan bangunan Allah.

c. Rasul Paulus mengajarkan, “Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat. Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.” (1 Kor 10:33- 11:1) Sebagai umat beriman, kita harus meniru/ menjadi pengikut Rasul Paulus: yaitu kita harus mengusahakan keselamatan orang banyak, yaitu dengan mengikuti teladan Kristus. Dalam hal ini tugas membawa orang lain kepada keselamatan, juga menjadi bagian dari tugas kita semua, bukan hanya urusan Yesus saja sebagai Pengantara yang satu- satunya.

d. “Bertolong- tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus!” (Gal 6:2) Allah menghendaki kita semua saling bertolong- tolongan dalam menanggung beban hidup ini, artinya kita harus saling mengasihi, saling membantu dan juga saling mendukung dalam doa. Tentu saja doa dalam hal ini tidak terbatas hanya di antara orang yang hidup di dunia ini, karena doa tidaklah terbatas tempat dan waktu.

e. “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Rom 8:38-39) Maka dari sini kita mengatahui bahwa hubungan kasih antar kita sebagai sesama anggota Kristus, tidak terputus oleh kematian. Lagipula, Yesus berjanji, bahwa barang siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan mati, melainkan memperoleh hidup kekal (Yoh 3:16; 11:25). Oleh karena itu, kita dapat memohon dukungan doa dari mereka yang sudah bersatu dengan Allah di surga, sebab merekapun di surga mempersembahkan doa- doa bagi kita kepada Allah (lih. Why 8:3-4).

Bapa Gereja mengajarkan persekutuan para kudus

Pengajaran akan pentingnya saling mendoakan karena semuanya terikat dalam kasih Kristus dalam satu Tubuh Mistik Kristus juga diajarkan oleh para Bapa Gereja dari abad-abad awal.

  • St. Klemens dari Aleksandria (150-215 AD): “Dengan cara ini, ia [orang Kristen yang sejati] selalu murni untuk berdoa. Ia juga berdoa di dalam kesatuan para malaikat, seperti telah mencapai tingkatan malaikat, dan ia tidak pernah berada di luar perlindungan mereka yang kudus; dan meskipun ia berdoa sendirian, ia mempunyai kumpulan para kudus yang berdiri bersama dengan dia [di dalam doa]”. (Clement of Alexandria, The Stromata (Book VII), Miscellanies 7:12, A.D. 208).
  • Origen (185-254 AD): “Tetapi bukan hanya Sang Imam Agung [Kristus] sendiri berdoa bagi mereka yang berdoa dengan tulus, tetapi juga para malaikat …. demikian juga jiwa-jiwa para orang kudus yang telah meninggal” (Origen, De Principiis (Book IV), Prayer 11, A.D. 233).
  • St. Siprianus dari Karthago (200-270 AD): “Mari kita mengingat satu sama lain di dalam keselarasan dan kesatuan suara. Biarlah kita yang di kedua pihak selalu saling mendoakan. Biarlah kita meringankan beban dan kesusahan dengan saling mengasihi, sehingga jika satu di antara kita, oleh pertolongan ilahi, dapat pergi lebih dulu, cinta kasih kita tetap berlanjut di dalam hadirat Tuhan, dan doa-doa kita bagi saudara-saudari kita tidak berhenti di hadirat belas kasihan Allah Bapa.” (Cyprian of Carthage, Epistle 7, Letters 56[60]:5, A.D. 253).
  • St. Efraim dari Syria (306-373 AD): “Engkau, para martir yang jaya, yang menanggung penganiayaan dengan suka cita demi Tuhan dan Sang Penyelamat, engkau yang mempunyai keberanian kata-kata terhadap Tuhan sendiri, engkau para orang kudus, berdoalah bagi kami yang lemah dan berdosa, penuh kemalasan, sehingga rahmat Kristus dapat turun atas kami, dan terangilah hati kami semua, sehingga kami dapat mengasihi Dia.” (Ephraim the Syrian, The Nisibene Hymns, Commentary on Mark, A.D. 370)
  • St. Basilius Agung (329-379 AD): “Oleh perintah Putera-Mu yang Tunggal, kami memberitahukan dengan kenangan para orang kudus-Mu …. oleh doa-doa mereka dan permohonan mereka, berbelas kasihanlah kepada kami semua, dan bebaskanlah kami demi nama-Mu yang kudus” (Basil the Great, Letter 243, Liturgy of St. Basil, A.D. 373).
  • St. Gregorius dari Nissa (325-386 AD): “[Efraim], engkau yang berdiri di altar ilahi [di Surga] …., ingatlah kami semua, mohonkanlah pengampunan dosa-dosa bagi kami, dan perolehan Kerajaan yang kekal [Surga]” (Gregory of Nyssa, On the Baptism of Christ (Sermon for the Day of Lights), Sermon on Ephraim the Syrian, A.D. 380).
  • St. Gregorius Nazianza (325-389 AD): “Ya, Aku sangat yakin bahwa doa syafaat [ayahku] lebih berdayaguna sekarang, daripada pengajarannya di hari-hari yang dahulu, sebab ia sekarang lebih dekat kepada Tuhan, kini bahwa ia telah menanggalkan belenggu tubuhnya dan membebaskan pikirannya dari tanah liat yang mengaburkannya, dan mengadakan pembicaraan secara gamblang dengan ketelanjangan sang akal budi yang tertinggi dan termurni ….” (Gregory Nazianzen, Oration 18:4) ;
    “Semoga kamu [Siprian], memandang ke bawah dari atas dengan penuh belas kasih kepada kami; dan bimbinglah perkataan dan hidup kami; dan gembalakanlah kawanan yang kudus ini, …., bahagiakanlah Sang Tritunggal Mahakudus, yang di hadapan-Nya engkau berdiri.” (Gregory Nazianzen, Orations 17 [24], A.D. 380).
  • St. Yohanes Krisostomus (347-407): “Ketika kamu merasa bahwa Tuhan mendidikmu untuk memurnikan kamu, janganlah kamu lari kepada musuh-Nya …. tetapi kepada sahabat-sahabat-Nya, para martir dan para orang kudus, dan mereka yang menyenangkan hati-Nya dan yang memiliki kuasa [di dalam Tuhan]”. (John Chrysostom, Homily 8 on Romans, Orations 8:6, A.D. 396);
    “Ia yang mengenakan pakaian ungu [yaitu seorang bangsawan] …. berdiri mengemis kepada para orang kudus untuk menjadi santo pelindungnya di hadapan Tuhan, dan ia yang memakai batu permata mengemis kepada sang pembuat tenda [Rasul Paulus] dan sang nelayan [Rasul Petrus] sebagai santo pelindungnya, meskipun mereka telah wafat.” (John Chrysostom, Homilies on Second Corinthians 26, A.D. 392).
  • St. Hieronimus (347-420 AD):”Kamu berkata dalam bukumu bahwa ketika kita hidup kita dapat saling mendoakan, tetapi sesudahnya ketika kita sudah wafat, doa seseorang tak lagi dapat didengar oleh yang lain …. Tetapi kalau para Rasul dan martir ketika masih hidup dapat berdoa bagi orang lain, saat mereka masih dapat disibukkan dengan urusan mereka sendiri, betapa lebih lagi mereka akan melakukannya [yaitu berdoa bagi orang lain], setelah mahkota, kemenangan dan kejayaan mereka?” (St. Jerome, To Pammachius Against John of Jerusalem, Against Vigilantius 6, A.D. 406.)
  • St. Agustinus (354-430 AD): “Bangsa Kristen merayakan bersama di dalam perayaan rohani, kenangan akan para martir, untuk mendorong agar para martir tersebut diteladani, dan agar bangsa itu dapat mengambil bagian di dalam jasa-jasa mereka dan dibantu oleh doa-doa mereka.” (St. Augustine of Hippo, The City of God (Book VIII), Against Faustus the Manichean, A.D. 400);
    “Jiwa-jiwa orang-orang saleh yang wafat juga tidak terpisahkan dari Gereja, yang bahkan sekarang ini adalah Kerajaan Kristus. Jika tidak, tidak akan ada kenangan akan mereka di altar Tuhan dalam penyampaian komuni Tubuh Kristus.” (St. Augustine of Hippo, The City of God (Book XX), 20:9:2, A.D. 419);
    “Adalah sebuah disiplin gerejawi, sebagaimana diketahui umat beriman, ketika nama-nama para martir dibacakan dengan lantang di tempat itu di altar Tuhan, di mana doa tidak dipersembahkan bagi mereka. Namun demikian, doa dipersembahkan bagi jiwa-jiwa yang sudah meninggal, yang dikenang.” (St. Augustine of Hippo, The City of God (Book XXII), Sermons 159:1, A.D. 411);
    “Di altar Tuhan kita tidak memperingati para martir dengan cara yang sama dengan yang kita lakukan kepada mereka yang telah beristirahat dalam damai dengan mendoakan mereka, tetapi agar mereka [para martir] dapat mendoakan kita, supaya kita dapat mengikuti jejak mereka.” (St. Augustine of Hippo, Tractate 84 (John 15:13), Homilies on John 84, A.D. 416).

III. Peran Maria dalam Gereja

Peran utama Maria di dalam Gereja adalah sebagai bunda Gereja. Dengan posisinya sebagai Bunda Kristus dan dengan keibuannya, maka dia dapat merangkul seluruh umat Allah agar dapat dipersatukan dengan kepala Gereja, yaitu Puteranya sendiri. Berikut ini adalah alasan mengapa Maria menjadi Bunda Gereja.

1. Maria adalah Bunda Kristus Sang Kepala Gereja

Tuhan telah memilih Maria sebagai Bunda Allah; sebab Kristus yang dikandung dan dilahirkannya adalah Allah. Itulah sebabnya di dalam Kitab Suci, Maria disebut sebagai Bunda Allah (lih. Luk 1:43, 35, Gal 4:4). Dengan melahirkan Kristus, Maria juga dapat disebut sebagai Bunda Gereja, karena Kristus sebagai Kepala selalu berada dalam kesatuan dengan Gereja yang adalah anggota- anggota-Nya yang memperoleh hidup di dalam Dia.

2. Maria adalah Hawa Baru yang melahirkan Kristus Sang Hidup yang memberi hidup kepada dunia

Maria adalah Bunda yang melahirkan Kristus Sang Hidup (Yoh 14:6) yang memberi hidup kepada dunia (Yoh 6:33), maka Bunda Maria juga secara tidak langsung berperan serta dalam memberikan Hidup kepada dunia. Maria adalah Sang Hawa yang baru, yang daripadanya lahir Sang Hidup, yang memberikan hidup yang kekal. Maka peran Maria sebagai Hawa yang baru mendukung peran Kristus sebagai Adam yang baru (lih. Rom 5:12-21). Para Bapa Gereja tak ragu untuk mengatakan bahwa Maria adalah “bunda mereka yang hidup” dan mengkontraskannya dengan Hawa, dengan menyatakan “maut melalui Hawa, hidup melalui Maria.” (Konsili Vatikan II, Lumen Gentium 56)

3. Maria tidak pernah terpisah dari Kristus dan Gereja

Oleh ketaatan Maria dan atas kuasa Roh Kudus, Kristus menjelma menjadi manusia dalam rahim Maria. Kristus mengambil apapun untuk pertumbuhan tubuh jasmani-Nya dari tubuh Maria. Selanjutnya, Gereja yang adalah Tubuh Kristus, dibentuk oleh Yesus dari darah dan air yang keluar dari sisi/ lambung-Nya, serupa dengan dibentuknya Hawa dari sisi/ tulang rusuk Adam. Dengan demikian, terlihatlah betapa tak terpisahkannya hubungan antara Yesus, Maria dan Gereja. Walaupun Kristus dilahirkan oleh Maria, namun tidak menjadikan Maria lebih utama dari Kristus; sebab yang menjadi Kepala Tubuh (Kepala jemaat) adalah Kristus (Kol 1:18; Ef 5:23). Dengan demikian, Maria adalah anggota Tubuh-Nya yaitu Gereja-Nya. Namun demikian, Maria adalah anggota yang istimewa, justru karena ketaatannya yang ‘mendahului’ anggota Tubuh-Nya yang lain; dan karena dengan ketaatannya ini rencana Allah tergenapi. Kesatuan antara Kristus, Bunda Maria dan Gereja, menjadikan Bunda Maria tidak terpisahkan dari Kristus dan Gereja; sehingga ia bukan saja menjadi Bunda Allah, namun juga adalah Bunda Gereja, yaitu Bunda umat beriman. Sebab setelah kenaikan Yesus ke surga, Bunda Maria membantu permulaan Gereja dengan doa-doanya, dan setelah ia sendiri diangkat ke surga, Bunda Maria tetap menyertai Gereja dengan doa-doanya.

4. Bunda Maria terdepan dalam perjalanan iman dan menjadi teladan bagi Gereja

Sebagaimana iman Abraham menandai permulaan Perjanjian Lama, iman Maria pada saat menerima Kabar Gembira menandai dimulainya Perjanjian Baru. Sebab seperti Abraham berharap dan percaya, saat tak ada dasar untuk berharap (lih. Rom 4:17) bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, demikian pula Maria, setelah menyatakan kaul keperawanannya (“Bagaimana ini mungkin terjadi, sebab saya tidak bersuami?”), percaya bahwa oleh kuasa Allah yang Maha Tinggi, ia akan menjadi ibu Sang Putera Allah (lih. Luk 1:35)

Ketaatan iman Bunda Maria mencapai puncaknya pada saat ia mendampingi Kristus, sampai di bukit Golgota, di saat hampir semua murid-Nya meninggalkan Dia. Maria tegar berdiri di kaki salib Kristus, dan turut mempersembahkan Dia di hadapan Allah Bapa. Maria melihat sendiri kesengsaraan Putera-nya Yesus Kristus yang melampaui segala ungkapan, untuk menebus dosa-dosa manusia. Di kaki salib-Nya, Maria melihat sendiri apa yang nampaknya seperti pengingkaran total apa yang dikatakan oleh Malaikat Gabriel saat memberikan Kabar Gembira, “Ia akan menjadi besar … Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” (Luk 1:32-33). Namun di kaki salib itu, yang terlihat adalah penderitaan Putera-nya yang tak terlukiskan, “Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan … ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia …” (lih. Yes 53:3-5). Meskipun demikian, Bunda Maria tetap setia dan menyertai Kristus.

5. Yesus memberikan Maria agar menjadi ibu bagi murid-murid-Nya, yaitu Gereja-Nya

Sesaat sebelum wafat-Nya, Tuhan Yesus memberikan Bunda Maria kepada Yohanes, murid yang dikasihi-Nya. “Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya disampingnya, berkatalah Ia kepada  ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu” kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya, “Inilah ibumu!”/ Behold, your mother! Dan sejak itu murid itu [Yohanes] menerima dia [Bunda Maria] di dalam rumahnya.” (Yoh 19: 26-27) Kita ketahui bahwa pesan ini adalah salah satu dari ketujuh perkataan Yesus sebelum wafat-Nya dan pastilah ini merupakan pengajaran yang penting. Gereja Katolik selalu memahami ucapan tersebut, sebagai kehendak Yesus yang mempercayakan Ibu-Nya kepada kita semua para murid-Nya, yang diwakili oleh Rasul Yohanes. Sama seperti Yohanes Pembaptis menyebutkan sesuatu yang penting tentang Yesus dengan berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah”/ Behold, the Lamb of God (Yoh 1:29) untuk diterima sebagai kebenaran bagi semua umat beriman; maka Tuhan Yesus juga menyebutkan hal yang penting tentang Bunda Maria, dengan berkata kepada para murid-Nya,” Inilah ibumu!”/ Behold, your mother!, agar kita umat beriman juga dapat menerimanya sebagai kebenaran. Ya, Bunda Maria adalah ibu kita, sebab Tuhan Yesus memberikannya kepada kita umat beriman, untuk kita kasihi, kita hormati dan kita ikuti teladannya agar kita dapat masuk dalam Kerajaan Surga dan beroleh mahkota kehidupan (lih. Yak 1:12).

IV. Apa yang dapat aku lakukan untuk Gereja?

Semakin kita menyadari tentang Gereja, yang terbentuk dari persekutuan para kudus, maka seharusnya hal tersebut membawa pengaruh dalam kehidupan rohani kita. Pertama, kita mensyukuri bahwa kita menjadi anggota Tubuh Mistik Kristus, sehingga dapat menerima rahmat dari Kristus sebagai kepala Gereja dan juga segala hal yang baik yang dilakukan oleh segenap anggota Gereja. Kedua, kalau kita menyadari bahwa kita menjadi anggota Gereja dan setiap perbuatan kita dapat mencoreng atau membangun Gereja, maka sudah seharusnya kita melakukan hal-hal yang dapat membangun Gereja – terutama dengan perjuangan kita dalam kekudusan. Ketiga, persatuan dengan seluruh anggota Gereja seharusnya menimbulkan solidaritas bersama dengan seluruh umat Allah di dunia ini, di Api Penyucian dan di Sorga, sehingga kita dapat saling membantu, baik dengan doa maupun perbuatan kasih. Keempat, kalau kita menyadari bahwa Maria adalah Bunda Gereja, maka sudah seharusnya kita meneladani Maria, yaitu dalam mengasihi Kristus dan mengasihi sesama anggota Gereja, sehingga akhirnya kita dapat bersatu dengan seluruh umat beriman di dalam Kerajaan Sorga.

*sumber: katolisitas.org

image: penelusuran google

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s