KATEKESE TENTANG KASIH ALLAH

oleh: St. Yohanes Maria Vianney

St. Yohanes Maria Vianney

Tubuh kita adalah wadah yang fana; ditakdirkan untuk mati dan diperuntukkan bagi cacing-cacing, tidak lebih! Namun demikian, kita membaktikan diri kita untuk memuaskannya, lebih daripada berusaha memperkaya jiwa, yang begitu berharga hingga tak dapat kita memikirkan suatu yang lain yang lebih berharga darinya, tidak, tidak ada! Karena kita tahu bahwa Tuhan, terdorong oleh nyala api kasih-Nya, tidak menciptakan kita serupa dengan binatang; melainkan Ia menciptakan kita serupa dengan gambar-Nya dan citra-Nya Sendiri, mengertikah kamu? Oh, betapa mengagumkannya manusia!

Manusia, yang dicipta karena cinta, tak dapat hidup tanpa cinta: entah ia mencintai Tuhan, atau mencintai dirinya sendiri dan mencintai dunia. Lihat, anak-anakku, imanlah yang kita butuhkan … Apabila kita tidak memiliki iman, kita buta. Ia yang tidak melihat, tidak mengenal; ia yang tidak mengenal, tidak mencintai; ia yang tidak mencintai Tuhan mencintai dirinya sendiri, dan pada saat yang sama mencintai kesenangan duniawi. Ia melekatkan hatinya pada hal-hal duniawi yang akan segera berlalu bagaikan asap. Ia tidak dapat mengenal kebenaran, atau pun kebajikan; ia tidak mengenal apa-apa selain kepalsuan, sebab ia tidak mempunyai terang; ia berada dalam kabut. Jika ia mempunyai terang, ia akan melihat dengan jelas bahwa segala yang ia cintai itu tak dapat memberinya apa-apa kecuali kematian kekal; suatu cicipan akan neraka.

Mengertikah kamu, anak-anakku, bahwa selain Tuhan, tidak ada yang pasti – tidak, tidak ada! Jika hidup, hidup itu fana; jika kekayaan, kekayaan akan musnah; jika kesehatan, kesehatan akan rusak; jika reputasi, reputasi akan pudar. Kita akan lenyap bagaikan angin… Segala sesuatu berlalu begitu cepat, segala sesuatu akan musnah. O Tuhan! O Tuhan!  jika demikian, betapa banyak mereka yang patut dikasihani, mereka yang melekatkan hatinya pada hal-hal duniawi! Mereka melekatkan hati mereka pada hal-hal demikian sebab mereka terlalu mencintai diri mereka sendiri; namun demikian mereka tidak mencintai diri mereka dengan cinta yang pantas – mereka mencintai diri mereka dengan cinta yang memuaskan diri mereka sendiri dan dunia, yang memuaskan ciptaan lebih daripada Tuhan. Itulah sebabnya mengapa mereka tidak pernah puas, tidak pernah tenang; mereka selalu gelisah, selalu tersiksa, selalu sedih. Lihat, anak-anakku, seorang Kristiani yang baik melakukan ziarahnya di dunia ini dengan naik kereta kemenangan yang indah; kereta ini ditarik oleh para malaikat dan dikendarai oleh Kristus Sendiri. Sementara, para pendosa yang malang menjadi penarik kereta dunia ini, dan iblis yang mengendarainya memaksanya maju dengan lecutan-lecutan cemeti yang hebat.

Anak-anakku, ketiga kebajikan ilahi: iman, harapan dan kasih mencakup segala kebahagiaan manusia di dunia. Dengan iman, kita percaya akan apa yang telah Tuhan janjikan kepada kita: kita percaya bahwa suatu hari kelak kita akan berjumpa dengan-Nya, bahwa kita akan menjadi milik-Nya, bahwa kita akan bahagia abadi bersama-Nya di Surga. Dengan harapan, kita merindukan kepenuhan janji-janji tersebut: kita berharap bahwa kita akan menerima ganjaran atas segala perbuatan baik kita, atas segala pikiran kita yang baik, atas segala hasrat dan kerinduan kita yang baik; oleh sebab Tuhan juga memperhitungkan bahkan kerinduan-kerinduan kita yang baik. Apa lagi yang kita inginkan agar bahagia?

Di surga, iman dan harapan tidak akan ada lagi, sebab kabut yang menghalangi akal budi kita akan dihalau; akal budi kita akan mampu memahami hal-hal yang tersembunyi dari dunia ini. Kita tidak lagi mengharapkan apa pun, sebab kita telah memiliki segalanya. Kita tidak lagi berharap memperoleh harta pusaka yang kini telah kita miliki … Tetapi kasih; oh, betapa kita akan mabuk olehnya! kita akan dibenamkan, lebur dalam samudera kasih ilahi, lebur dalam kedahsyatan cinta kasih Hati Yesus! jadi cinta kasih adalah suatu cicipan akan surga. Oh alangkah bahagianya kita andai saja kita tahu bagaimana memahaminya, merasakannya, mencicipinya! Yang menjadikan kita bersedih adalah karena kita tidak mengasihi Tuhan.

Ketika kita mengatakan, “Tuhan-ku, aku percaya, aku percaya teguh,” artinya tanpa ragu sedikit pun, tanpa sangsi sedikit pun… Oh, andai kita dirasuki oleh kata-kata ini: “Aku yakin teguh bahwa Engkau hadir di mana saja, bahwa Engkau melihatku, bahwa aku ada di bawah pandangan mata-Mu, bahwa suatu hari kelak aku sendiri akan memandang Engkau dengan jelas, bahwa aku akan menikmati segala hal baik yang telah Engkau janjikan kepadaku! Oh Tuhan-ku, aku berharap agar Engkau mengganjariku atas segala yang kulakukan untuk menyenangkan hati-Mu! Oh Tuhan-ku, aku mengasihi-Mu; hatiku diciptakan untuk mengasihi-Mu!” Oh, kebajikan iman ini, yang adalah juga kebajikan kasih, akan mencukupi segala sesuatu! Andai kita memahami kebahagiaan kita sendiri dalam mengasihi Tuhan, kita akan tinggal tetap tak bergerak dalam ekstasi….

Jika seorang raja, seorang kaisar, memanggil seorang hambanya menghadap dan berkata kepadanya, “Aku ingin membuatmu bahagia; tinggallah bersamaku, nikmati segala milikku, tetapi berhati-hatilah untuk tidak mengecewakanku barang sedikit pun,” maka bagaimana hambanya itu tidak akan dengan penuh perhatian, penuh kasih sayang akan berusaha dengan penuh semangat untuk menyenangkan hati rajanya. Nah, Tuhan menawarkan hal yang sama kepada kita… dan kita tidak peduli akan tawaran persahabatan-Nya, kita tidak mengindahkan janji-janji-Nya… Sungguh sayang!

sumber : “Catechism on The Love of God by Saint John Vianney”; http://www.catholic-forum.com. Diterjemahkan oleh YESAYA: http://www.indocell.net/yesaya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s