KRISTUS YANG TURUN KE TEMPAT PENANTIAN, PADA HARI KETIGA BANGKIT DARI ANTARA ORANG MATI

Apa yang dimaksud dengan Tempat Penantian?

Banyak orang bingung, ketika dikatakan bahwa Kristus yang sungguh Allah dan sungguh manusia, ternyata benar-benar wafat. Namun, kalau kita mengerti apa yang dimaksud dengan ‘wafat’, maka kita akan dapat memahami misteri ini. Yang dimaksud dengan wafat adalah keterpisahan antara tubuh dan jiwa. Jadi, ketika kita mengatakan bahwa Kristus – yang walaupun mempunyai kodrat Allah, namun mempunyai tubuh dan jiwa sebagai akibat dari kodrat manusia-Nya – wafat, maka yang terjadi adalah tubuh-Nya terpisah dengan jiwa-Nya. Hal ini sama seperti ketika manusia wafat, maka jiwanya akan terpisah dengan tubuhnya. Namun, karena Kristus mempunyai kodrat manusia dan kodrat Allah, yang terikat dalam kesatuan yang tak terpisahkan (hypostatic union), maka ke-Allahan-Nya tidak pernah meninggalkan tubuh-Nya yang ‘tertidur’ di makam, sebagaimana ke-Allahan-Nya tidak beranjak dari jiwa-Nya. Pertanyaannya, apakah yang terjadi dengan jiwa Kristus? Kredo menuliskan “Kristus turun ke tempat penantian” atau dalam bahasa Inggris dituliskan, “He descended into hell”.

Hell” di sini tidak dapat diartikan sebagai neraka – dalam pengertian penghukuman untuk selamanya bagi para terhukum -, namun harus diartikan dalam pengertian yang lebih luas. Kredo dalam Bahasa Indonesia telah menggunakan istilah “Tempat Penantian”. Penggunaan kata hell adalah sama seperti penggunaan kata Sheol [Ibrani] atau Infernus [Latin] atau hades [Yunani] di dalam Perjanjian Lama. Dalam Kitab Kejadian dituliskan, ketika Yakub mengira anaknya telah mati, maka dia berkata, “Aku akan berkabung, sampai aku turun mendapatkan anakku, ke dalam dunia orang mati [Sheol]!” (Kej 37:35; bdk. Kej 42:38). Katekismus Gereja Katolik menjabarkannya sebagai berikut:

KGK 633 Kitab Suci menamakan tempat perhentian orang mati, yang dimasuki Kristus sesudah kematian-Nya “neraka”, “sheol” atau “hades” (bdk. Flp 2:10; Kis 2:24; Why 1:18; Ef 4:9), karena mereka yang tertahan di sana tidak memandang Allah (bdk. Mzm 6:6; 88:11-13). Itulah keadaan semua orang yang mati sebelum kedatangan Penebus, apakah mereka jahat atau jujur (bdk. Mzm 89:49; I Sam 28:19; Yeh 32:17-32). Tetapi itu tidak berarti bahwa mereka semua mempunyai nasib sama. Yesus menunjukkan hal itu kepada kita dalam perumpamaan tentang Lasarus yang miskin, yang diterima (bdk. Luk 16:22-26) “dalam pangkuan Abraham”. “Jiwa orang jujur, yang menantikan Penebus dalam pangkuan Abraham, dibebaskan Kristus Tuhan waktu Ia turun ke dunia orang mati” (Catech. R. 1,6,3). Yesus tidak datang ke dunia orang mati untuk membebaskan orang-orang terkutuk dari dalamnya (bdk. Sin. Roma 745: DS 587), juga tidak untuk menghapuskan neraka (bdk. DS 1011; 1077), tempat terkutuk, tetapi untuk membebaskan orang-orang benar, yang hidup sebelum Dia (bdk. Sin Toledo IV 625: DS 485; bdk juga Mat 27:52-53).

Mengapa orang-orang yang telah dibenarkan oleh Allah sebelum misteri Paskah Kristus tidak dapat langsung masuk ke dalam Sorga namun harus menanti di Tempat Penantian, atau disebut juga Limbo of the Just atau Pangkuan Abraham atau Bosom of Abraham (lih. Luk 16:19-31)? Hal ini terjadi sebagai konsekuensi dosa asal, yang menyebabkan manusia tidak dapat melihat Allah muka dengan muka di dalam Kerajaan Sorga. Hubungan ini terjembatani dengan misteri Paskah Kristus. Dengan demikian, setelah misteri Paskah Kristus, maka orang-orang yang dibenarkan oleh Allah dapat masuk ke dalam Sorga, karena Kristus-lah yang membuka pintu Sorga bagi mereka.

Mengapa Kristus Turun ke Tempat Penantian?

Dalam bukunya The Aquinas Catechism,[1] St. Thomas Aquinas menjelaskan bahwa ada empat alasan mengapa Kristus turun ke tempat penantian. Pertama, agar Kristus dapat menanggung seluruh hukuman dosa. Akibat dari dosa adalah kematian, yaitu keterpisahan antara tubuh dan jiwa. Kristus telah menebus kematian dengan wafat-Nya di kayu salib dan tubuh-Nya dimakamkan. Misi keselamatan Kristus bukanlah hanya menebus tubuh manusia, namun terutama untuk menebus jiwa manusia. Akibat dosa asal, jiwa-jiwa orang yang meninggal mulai dari manusia pertama sampai sebelum misteri Paskah terjadi, tidak dapat naik ke Sorga namun berada di tempat penantian. Untuk itulah Kristus juga datang ke tempat penantian menanggung hukuman dosa ini, seperti yang dikatakan dalam Mazmur: “ku telah dianggap termasuk orang-orang yang turun ke liang kubur; aku seperti orang yang tidak berkekuatan. Aku harus tinggal di antara orang-orang mati, seperti orang-orang yang mati dibunuh, terbaring dalam kubur, yang tidak Kau-ingat lagi, sebab mereka terputus dari kuasa-Mu.” (Mzm 88:4-5) Namun ada yang membedakan antara Kristus Yesus yang turun ke tempat penantian dengan jiwa-jiwa manusia. Kristus datang ke tempat penantian sebagai seseorang yang bebas yang mau menanggung hukuman dosa manusia, sedangkan manusia lain berada di tempat penantian sebagai jiwa-jiwa yang terbelenggu.

Kedua, Kristus membawa misi kasih kepada sahabat-sahabat-Nya. Syarat menjadi sahabat Kristus adalah terikat dalam kasih. Kristus telah mengunjungi sahabat-sahabat-Nya di dunia dengan datang ke dunia. Namun, ada orang-orang yang telah wafat di dalam kasih dan iman akan kedatangan Kristus, seperti Abraham, Ishak, Yakub, Musa, Daud, dll. yang belum dikunjungi Kristus. Kristus mengunjungi mereka dan menolong mereka dengan turun ke Tempat Penantian, seperti yang digambarkan dalam Kitab Sirakh: “Aku akan masuk ke bagian paling bawah dari bumi, dan akan melihat semua yang tertidur, dan akan memberikan pencerahan kepada semua yang berharap di dalam Tuhan” (Sir 24:25 dalam Vulg dan DRV).

Ketiga, untuk mengalahkan iblis secara total. Kalau sebelumnya kerajaan iblis diruntuhkan melalui kematian Kristus di kayu salib, maka rantai yang masih membelenggu jiwa manusia dipatahkan secara total dengan turunnya Kristus ke Tempat Penantian. Dalam Mat 12:29 dituliskan “Atau bagaimanakah orang dapat memasuki rumah seorang yang kuat dan merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu? Sesudah diikatnya barulah dapat ia merampok rumah itu.” (Mat 12:29). Dan sungguh memang Kristus telah menguasai rumah tersebut. Interpretasi bahwa Kristus yang mematahkan kuasa neraka telah dituliskan dalam homili oleh Melito dari Sardis (meninggal tahun 190) demikian: “Akulah [Kristus] yang memporakporandakan neraka, mengikat yang kuat, dan mengambil orang-orang dan membawa mereka ke Sorga yang tinggi” [2] Dengan demikian, Kristus telah mengalahkan segalanya termasuk yang berada di tempat penantian, seperti yang dituliskan oleh rasul Paulus, “supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi” (Flp 2:10).

Keempat, untuk membebaskan para kudus dari neraka (Tempat Penantian). St. Thomas menuliskan bahwa sama seperti Kristus telah menderita dan wafat agar manusia dapat memperoleh kehidupan, maka Kristus turun ke Tempat Penantian agar dapat membebaskan mereka yang berada di sana. Kompendium Katekismus Gereja Katolik 125 memberikan ringkasan sebagai berikut:

“Tempat penantian ini berbeda dengan neraka terkutuk. Ini adalah situasi semua manusia, baik benar maupun jahat, yang mati sebelum Kristus. Pribadi ilahi Yesus turun kepada orang-orang benar yang menanti-nantikan Penyelamat sehingga mereka akhirnya dapat melihat Allah. Ketika Yesus memusnahkan Iblis yang berkuasa atas maut (Ibr 2:14) melalui kematian-Nya, Yesus membebaskan  orang-orang benar yang menantikan Sang Penebus dan membuka pintu gerbang surga bagi mereka.”

Gambaran yang indah tentang misteri ini dituliskan dalam ibadah harian dalam office of the reading pada Sabtu Suci, yang sebagian teksnya juga dikutip dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK 635) sebagai berikut:

“Hari ini kesenyapan besar telah terjadi di bumi, keheningan dan ketenangan yang agung. Keheningan yang agung karena Sang Raja tertidur. Bumi bergoncang dan tetap sunyi sebab Tuhan telah tertidur di dalam tubuh dan Ia telah membangkitkan semua orang yang telah tertidur sejak awal mula dunia … Ia telah pergi mencari Adam, bapa kita yang pertama, seperti mencari domba yang hilang. Sungguh ingin mengunjungi mereka yang hidup di dalam kegelapan dan di dalam bayang-bayang kematian, Ia telah pergi membebaskan dari duka cita Adam dari ikatannya dan Hawa, yang terbelenggu dengan dia- Ia yang adalah Tuhan mereka, namun juga adalah keturunan Hawa.
Tuhan pergi kepada mereka dengan membawa senjata kemenangan-Nya, salib-Nya. Ketika Adam, manusia pertama melihat Dia, ia memukul dadanya dengan takut dan berseru kepada semua: “Tuhanku bersama kalian semua.” Dan Kristus menjawab Adam: “Dan dengan rohmu”. Dan menyambut tangannya, Ia membangkitkan dia sambil berkata, “Bangunlah, kamu yang tertidur, dan bangkitlah dari kematian dan Kristus akan memberimu terang. Aku adalah Tuhan-mu, yang demi engkau telah menjadi keturunanmu, yang demi engkau dan keturunanmu kini berbicara dan memerintah dengan otoritas kepada mereka di dalam penjara: keluarlah, dan kepada mereka di dalam kegelapan: milikilah terang, dan kepada mereka yang tertidur: bangunlah.
“Aku memerintahkan kepadamu: Bangunlah, kamu yang tertidur, Aku tidak membuat engkau dipenjara di dunia bagian bawah. Bangkitlah dari kematian; Aku adalah kehidupan bagi orang mati. Bangunlah, O manusia, hasil karya tanganku, bangunlah, kamu yang dibentuk menurut gambaran-Ku. Bangunlah, mari kita pergi ….Bagi kamu, Aku Tuhanmu menjadi anakmu; untuk kamu, Aku Sang Pencipta mengambil rupa tubuhmu; menjadi seorang hamba, untuk kamu, Aku yang ada di atas langit turun ke bumi dan di bawah bumi, untuk kamu, manusia, Aku menjadi manusia tanpa bantuan, bebas dari antara orang mati, untuk kamu yang meninggalkan taman [firdaus], Aku telah diserahkan kepada orang-orang Yahudi dan disalibkan di sebuah taman.
“Lihatlah ludah di wajah-Ku, yang Kuterima karena kamu, agar dapat mengembalikan kamu kepada penghembusan ilahi yang pertama kali di saat Penciptaan. Lihatlah cambukan di pipi-Ku, yang Kuterima agar dapat membentukmu kembali dari bentukmu yang telah koyak (distorted), kembali kepada gambaranKu sendiri. Lihat cambukan di punggung-Ku, yang Kuterima agar dapat mengurai beban dosa-dosamu yang terletak di punggungmu. Lihatlah tangan-tangan-Ku yang terpaku pada pohon untuk maksud yang baik, demi kamu, yang telah menjulurkan tanganmu kepada pohon untuk maksud yang jahat.
“Aku tertidur di salib, dan sebuah pedang menembus rusuk-Ku, untuk kamu, yang tertidur di firdaus, dan melahirkan Hawa dari rusukmu. Rusuk-Ku menyembuhkan sakit rusukmu, tidur-Ku akan membebaskan kamu dari tidurmu di tempat penantian, pedang-Ku telah menahan pedang yang tertuju kepadamu. Tetapi bangunlah, mari kita pergi. Sang musuh membawamu keluar dari tanah firdaus; Aku akan mengembalikan kamu, tidak lagi di firdaus, tetapi di tahta kerajaan. Aku menahan kamu dari pohon kehidupan, yang adalah sebuah gambaran, tetapi sekarang Aku sendiri bersatu dengan kamu, Aku, yang adalah kehidupan.” (Homili tua pada hari Sabtu Agung).

Apa yang dapat kita pelajari dari Kristus yang Turun ke Tempat Penantian?

Apa kaitan antara Kristus yang turun ke Tempat Penantian dengan kehidupan kita, umat beriman? Iman kita bukanlah merupakan pengajaran yang tidak berkaitan dengan kehidupan kita, namun sungguh erat berhubungan dengan kehidupan dan perjalanan spiritualitas kita. Dengan mempercayai pokok iman ini, maka kita akan semakin diteguhkan dan pada saat yang bersamaan kita menghindari sikap yang dapat menjauhkan kita dari Tuhan dan sedapat mungkin mengembangkan sikap yang semakin mendekati Tuhan. St. Thomas mengajarkan empat hal yang dapat kita pelajari dari pokok iman ini.[3]

Pertama, memperkuat pengharapan. Dengan Kristus turun ke Tempat Penantian dan membebaskan sahabat-sahabat-Nya, maka sudah semestinya dogma ini mengingatkan kita akan belas kasih Allah yang tidak pernah putus-putusnya kepada kita manusia, terutama kepada sahabat-sahabat Allah, yang terikat dalam kasih. Hal ini memberikan pengharapan kepada kita bahwa  dalam penderitaan sebesar apapun dan dalam kesulitan untuk menjalankan karya kerasulan, namun selama kita mengasihi Kristus, maka pada akhirnya kita akan dibebaskan dan akan diberikan mahkota di Sorga. Kitab Sirakh 34:14 menuliskan “Barangsiapa takut akan Tuhan akan hidup, sebab harapannya tertaruh pada Dia yang menyelamatkan.”

Kedua, kita perlu ‘takut’ dan menghindari dosa presumption. Walaupun Kristus telah menderita dan turun ke tempat penantian, namun Dia tidak menolong orang-orang yang mati dalam kondisi dosa berat, yang berada di dalam neraka, yaitu keterpisahan abadi dengan Allah. Dengan kata lain, tidak ada pertolongan untuk orang-orang yang meninggal dalam kondisi dosa berat. Kita mengingat apa yang dikatakan dalam Mat 25:46, “Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” Jadi, sudah seharusnya kita menghindari dosa berat dan tidak mengasumsikan bahwa Tuhan akan mengerti dan memaklumi dosa-dosa kita. Kita jangan melupakan bahwa Tuhan, selain maha kasih (1Yoh 4:8), Dia juga adalah maha adil (2Tes 1:6). Mazmur 116:5 merangkumnya menjadi “Tuhan adalah pengasih dan adil, Allah kita penyayang.”

Ketiga, untuk mengingatkan kita. Turunnya Kristus ke Tempat Penantian, seharusnya menjadi peringatan bagi kita. St. Thomas mengutip nabi Yesaya “Dalam pertengahan umurku aku harus pergi, ke pintu gerbang dunia orang mati aku dipanggil untuk selebihnya dari hidupku” (Yes 38:10). Orang yang sering ‘mengunjungi neraka’ selama hidupnya, justru tidak akan sampai jatuh ke neraka, karena pemikiran ini akan menghindarkannya dari dosa.

Keempat, agar kita mengikuti teladan kasih Kristus. Kristus telah memberikan teladan dengan turun ke Tempat Penantian untuk membebaskan sahabat-sahabat-Nya. Meniru teladan Kristus, sudah selayaknya kita juga turun ke ‘Tempat Penyucian” atau Purgatorium dengan doa-doa kita. Kita dapat membantu mereka dengan dengan doa-doa kita terutama dalam Ekaristi, berderma dan berpuasa. (lih. Tob 12:8-9)

Kristus yang sungguh bangkit

Gereja Katolik senantiasa mengimani bahwa kebangkitan Kristus adalah sungguh-sungguh terjadi dalam sejarah manusia. Katekismus Gereja Katolik (KGK 639-643) menyatakannya demikian:

1. Kebangkitan Kristus adalah hal yang sungguh terjadi secara historis.

KGK 639  Misteri kebangkitan Kristus adalah satu kejadian yang sesungguhnya, yang menurut kesaksian Perjanjian Baru menyatakan diri secara historis. Malahan Santo Paulus telah menulis kepada umat di Korintus sekitar tahun 56: “Yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; dan bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya” (1 Kor 15:3-4). Rasul Paulus berbicara di sini tentang tradisi yang hidup mengenai kebangkitan, yang ia dengar sesudah pertobatannya di depan pintu gerbang Damaskus (bdk. Kis 9:3-18).

2. Kubur kosong menandai Kristus yang bangkit

KGK 640 “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit” (Luk 24:5-6). Unsur pertama yang kita hadapi dalam rangka kejadian Paskah ialah makam kosong. Ini tidak langsung dengan sendirinya menjadi bukti tentang kebangkitan. Bahwa jenazah Yesus tidak ada lagi dalam makam, dapat dijelaskan juga dengan cara lain (bdk. Yoh 20:13; Mat 28:11-15). Walaupun demikian, makam kosong itu adalah satu bukti yang sangat penting untuk semua orang. Penemuannya oleh para murid adalah langkah pertama menuju pengertian bahwa Yesus benar-benar telah bangkit. Ini merupakan alasan, pertama bagi wanita-wanita saleh (bdk. Luk 24:3.22-23) dan kemudian bagi Petrus (bdk. Luk 24:12). Murid “yang dikasihi Yesus” (Yoh 20:2) berkata, ketika ia masuk ke dalam makam kosong itu dan melihat “kain kafan terletak di tanah” (Yoh 20:6), maka ia “melihat dan percaya” (Yoh 20:8). Itu mengandaikan bahwa keadaan makam kosong itu (bdk. Yoh 20:5-7) telah meyakinkan dia, bahwa jenazah Yesus tidak diambil oleh manusia, dan bahwa Yesus tidak kembali lagi ke suatu kehidupan duniawi seperti Lasarus (bdk. Yoh 11:44).

3. Penampakan Kristus menunjukkan kebangkitan-Nya

KGK 641 Orang-orang pertama yang bertemu dengan Kristus yang telah bangkit (bdk. Mat 28:9-10; Yoh 20:11-18) adalah Maria dari Magdala dan wanita-wanita saleh, yang datang ke makam untuk meminyaki jenazah Yesus (bdk. Mrk 16:1; Luk 24:1), yang dengan tergesa-gesa (bdk. Yoh 19:31.42) dimakamkan pada hari Jumat Agung malam, karena hari Sabat sudah tiba. Dengan demikian, malahan untuk para Rasul (bdk. Luk 24:9-10), para wanita itu merupakan orang-orang pertama pembawa berita mengenai kebangkitan Kristus. Sesudah itu Yesus menampakkan diri kepada para Rasul, lebih dahulu kepada Petrus, lalu kepada kedua belas murid-Nya (bdk. 1 Kor 15:5). Petrus, yang sudah mendapat tugas untuk menguatkan iman saudara-saudaranya (bdk. Luk 22:31-32), dengan demikian melihat “Yang telah bangkit” itu sebelum mereka yang lain, dan berdasarkan kesaksiannya persekutuan itu mengatakan, “sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan Diri kepada Simon” (Luk 24:34).

4. Wafat dan kebangkitan Yesus menjadi inti pewartaan para rasul dan murid Kristus.

KGK 642 Segala sesuatu yang terjadi pada hari-hari Paskah ini, menjadikan para Rasul – dan paling khusus Petrus – pelayan pembangunan era baru, yang merekah pada hari Paskah pagi. Sebagai saksi-saksi dari Yang telah bangkit, mereka merupakan landasan Gereja-Nya. Iman umat pertama berdasarkan kesaksian manusia-manusia konkrit yang dikenal oleh orang-orang Kristen, dan kebanyakan dari mereka masih hidup di tengah-tengah mereka. Saksi-saksi kebangkitan Kristus ini (bdk. Kis 1:22) adalah terutama Petrus dan kedua belas murid, tetapi bukan hanya mereka: Paulus berbicara dengan jelas mengenai lebih dari lima ratus orang, kepada siapa Yesus menampakkan Diri sekaligus; Ia juga menampakkan Diri kepada Yakobus dan semua Rasul (bdk. 1 Kor 15:4-8).

KGK 643.      Mengingat kesaksian-kesaksian ini, tidak mungkin menafsirkan kebangkitan sebagai sesuatu yang tidak termasuk tata fisik, dan tidak mengakuinya sebagai satu kejadian sejarah. Dari kesaksian-kesaksian itu, nyatalah bahwa iman para murid harus mengalami ujian yang luar biasa beratnya, yakni kesengsaraan dan penyaliban Gurunya, yang sudah Ia ramalkan (bdk. Luk 22:31-32). Para murid (setidak-tidaknya beberapa dari mereka) sekian digoncangkan oleh kesengsaraan itu, sehingga mereka tidak dengan begitu saja mempercayai berita mengenai kebangkitan. Injil-injil sama sekali tidak menunjukkan kepada kita satu umat dalam ekstase mistik, tetapi murid-murid yang terpukul (“dengan muka muram” Luk 24:17) dan terkejut (bdk. Yoh 20:19). Karena itu mereka tidak percaya kepada wanita-wanita saleh, yang kembali dari makam, dan menganggapnya “seakan-akan omong kosong” (Luk 24:11; bdk. Mrk 16:11.13). Ketika Yesus pada hari Paskah malam memperlihatkan Diri kepada kesebelas murid, “Ia mencela ketidak-percayaan dan kedegilan hati mereka, karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya” (Mrk 16:14).

Dari pernyataan di atas, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa: (1) Kristus memang sungguh wafat di kayu salib; (2) Setelah tiga hari, kubur-Nya kosong; (3) lalu Kristus menampakkan diri kepada para wanita, para murid, dan lebih dari lima ratus orang; (4) Kematian dan kebangkitan Kristus menjadi pewartaan para rasul.

Josephus, sejahrawan bangsa Yahudi yang hidup dari tahun 37-100, menuliskan demikian dalam bukunya Jewish Antiquities, 18.63-64: “Pada saat ini, hiduplah Yesus, seorang yang bijaksana. Karena ia adalah seorang pelaku perbuatan yang luar biasa, seorang guru dari orang-orang yang menerima kebenaran dengan senang hati. Dan ia mendapatkan pengikut baik di kalangan banyak orang Yahudi dan di antara banyak orang yang berasal dari Yunani. Dan ketika Pilatus, karena tuduhan yang dibuat oleh orang-orang terkemuka di antara kita, mengutuk dia untuk disalibkan, mereka yang telah mencintainya sebelumnya tidak berhenti mencintainya. Karena ia menampakkan diri kepada mereka pada hari ketiga, hidup lagi, sama seperti yang telah dibicarakan oleh para nabi Allah dan banyak hal-hal lain yang menakjubkan yang tak terhitung banyaknya telah dibicarakan tentang dirinya. Dan sampai hari ini suku Kristen, yang dinamai seturut namanya, tidak mati.”

Mengapa Kristus bangkit?

Setelah kita melihat dari sisi kebenaran secara historis, kini kita melihat secara khusus tentang tinjauan teologis dari kebangkitan Kristus. Dituliskan dalam Kitab Lukas “Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga” (Luk 24:46) St. Thomas Aquinas dalam Summa Theology (ST III, q. 53, a. 1) menjelaskan bahwa ada lima alasan mengapa Kristus bangkit.

Pertama, untuk menyatakan keadilan Allah. Kristus yang rela taat pada kehendak Allah, menderita dan wafat sudah selayaknya ditinggikan dengan kebangkitan-Nya yang mulia

Kedua, untuk memperkuat iman kita. Rasul Paulus menuliskan, “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” (1Kor 15:14) Dengan kebangkitan-Nya, maka Kristus sendiri membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan, dan membuktikan bahwa kematian-Nya bukanlah satu kekalahan, namun merupakan satu kemenangan yang membawa kehidupan.

Ketiga, untuk memperkuat pengharapan. Karena Kristus membuktikan bahwa Dia bangkit dan membawa orang-orang kudus bersama dengan-Nya, maka kita dapat mempunyai pengharapan yang kuat, bahwa pada saatnya, kitapun akan dibangkitkan oleh Kristus. Dan inilah yang menjadi pewartaan para rasul, seperti yang dikatakan oleh rasul Paulus “Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati?” (1Kor 15:12). Bersama-sama dengan Ayub, kita dapat berkata “Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku; mataku sendiri menyaksikan-Nya dan bukan orang lain. Hati sanubariku merana karena rindu.” (Ayb 19:25,27).

Keempat, agar kita dapat hidup dengan baik. St. Thomas mengutip Rm 6:4, “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” Dengan demikian, kebangkitan Kristus mengajarkan kita untuk senantiasa hidup dalam hidup yang baru, yaitu hidup dalam Roh.

Kelima, untuk mentuntaskan karya keselamatan Allah. Karya keselamatan Allah tidak berakhir pada kematian Kristus di kayu salib, namun berakhir pada kemenangan Kristus, yaitu dengan kebangkitan-Nya. Rasul Paulus menuliskan “yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita.” (Rm 4:25)

Seperti apakah kebangkitan Yesus?

1. Tubuh kebangkitan Kristus bukanlah seperti hantu, namun tubuh-Nya yang sama yang disiksa dan disalibkan, hanya tubuh tersebut sudah dimuliakan.

KGK 645 Yesus yang telah bangkit berhubungan langsung dengan murid-murid-Nya: Ia membiarkan diri-Nya diraba (Bdk. Luk 24:39; Yoh 20:27). dan Ia makan bersama mereka (Bdk. Luk 24:30.41-43; Yoh 21:9.13-15). Ia mengajak mereka untuk memastikan bahwa Ia bukan hantu (Bdk. Luk 24:39), sebaliknya untuk membenarkan bahwa tubuh yang baru bangkit sebagaimana Ia berdiri di depan mereka, adalah benar-benar tubuh yang sama dengan yang disiksa dan disalibkan, karena Ia masih menunjukkan bekas-bekas kesengsaraan-Nya (Bdk. Luk 24:40; Yoh 20:20.27). Tetapi tubuh yang benar dan sungguh-sungguh ini serentak pula memiliki sifat-sifat tubuh baru yang sudah dimuliakan: Yesus tidak lagi terikat pada tempat dan waktu, tetapi dapat ada sesuai dengan kehendak-Nya, di mana dan bilamana Ia kehendaki (Bdk. Mat 28:9.16-17; Luk 24:15.36; Yoh 20:14.19.26; 21:4). Kodrat manusiawi-Nya tidak dapat ditahan lagi di dunia dan sudah termasuk dunia ilahi Bapa-Nya (Bdk. Yoh 20:17). Atas dasar ini, maka Yesus yang bangkit juga bebas untuk menampakkan Diri, sesuai dengan kehendak-Nya: dalam sosok tubuh seorang tukang kebun (Bdk. Yoh 20:14-15) atau “dalam satu bentuk lain” (Mrk 16:12) dari bentuk yang sudah terbiasa untuk para murid. Dengan demikian iman mereka mau dibangkitkan (Bdk. Yoh 20:14.16; 21:4.7).

2. Kebangkitan Yesus bukan berarti kembali ke kehidupan duniawi

KGK 646 Kebangkitan Yesus bukanlah satu kedatangan kembali ke kehidupan duniawi seperti yang terjadi pada pembangkitan-pembangkitan, yang Ia lakukan sebelum Paskah: puteri Yairus, pemuda Naim, dan Lasarus. Perbuatan-perbuatan ini adalah bukti kekuasaan Yesus yang mengherankan, tetapi orang-orang yang mengalami mukjizat itu, kembali ke kehidupan duniawi. Pada waktunya mereka mati lagi. Kebangkitan Kristus memang lain sifatnya. Dalam tubuh yang bangkit Ia keluar dari keadaan mati dan beralih ke suatu kehidupan lain, di luar batas waktu dan ruang. Tubuh Kristus dipenuhi dengan kekuasaan Roh Kudus pada saat kebangkitan; dalam keadaan yang dimuliakan itu, Ia mengambil bagian dalam kehidupan ilahi, sehingga santo Paulus dapat menggambarkan Kristus sebagai “Yang surgawi” (Bdk. 1 Kor 15:35-50).

Kebangkitan Yesus adalah karya Tritunggal Mahakudus

1. Ketiga Pribadi Allah bekerja bersama: Kebangkitan terjadi karena kuasa Allah Bapa yang membangkitkan Yesus, oleh karya Roh Kudus.

KGK 648 Kebangkitan Kristus adalah masalah iman: campur tangan transenden dari Tuhan sendiri dalam ciptaan dan sejarah. Di situ ketiga Pribadi ilahi bekerja bersama-sama dan serentak juga menyatakan sifat-Nya yang khas. Peristiwa itu terjadi oleh kekuasaan Bapa, yang “membangkitkan” Kristus, Anak-Nya (Bdk. Kis 2:24) dan menerima sepenuhnya kodrat manusia-Nya – bersama dengan tubuh-Nya – dalam Tritunggal. Yesus dinyatakan secara definitif “sebagai Putra Allah menurut Roh kekudusan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa” (Rm 1:3-4). Santo Paulus menekankan wahyu kekuatan Allah (bdk. Rm 6:4; 2Kor13:4; Flp 3:10; Ef 1:19-22; Ibr 7:16) oleh karya Roh yang menghidupkan kodrat manusia Yesus yang sudah mati dan mengangkatnya ke dalam keadaan mulia, ke dalam keadaan sebagai Tuhan.

2. Sejauh menyangkut Putera: Yesus bangkit dengan kuasa ilahi-Nya sendiri

KGK 649 Sejauh menyangkut Putera, maka Ia sendiri melaksanakan kebangkitan-Nya berkat kekuasaan ilahi-Nya. Yesus memaklumkan bahwa Anak Manusia akan menderita banyak dan juga akan mati; lalu Ia akan bangkit (bdk. Mrk 8:31; 9:9-31; 10:34). Pada tempat lain Ia mengatakan dengan jelas: “Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali… Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali” (Yoh 10:17- 18). “Inilah iman kita: Yesus telah mati dan telah bangkit” (1 Tes 4:14).

3. Berkat kesatuan kodrat ilahi yang menyertai tubuh dan jiwa Kristus,  saat keduanya terpisah karena kematian, maka keduanya disatukan kembali di saat kebangkitan-Nya.

KGK 650  Para bapa Gereja melihat kebangkitan itu dari sudut Pribadi Kristus yang ilahi. Pribadi ilahi ini tetap bersatu dengan jiwa-Nya dan badan-Nya, yang oleh kematian sudah dipisahkan satu dari yang lain: “Berkat kesatuan kodrat ilahi, yang tetap hadir dalam kedua bagian hakiki manusia, maka keduanya mempersatukan diri lagi. Dengan demikian kematian terjadi oleh pemisahan susunan manusiawi dan kebangkitan oleh penyatuan kedua bagian yang terpisah itu” (Gregorius dari Nisa res. 1) Bdk. juga DS 325; 359; 369; 539.

Apa arti dan nilai keselamatan dari Kebangkitan?

Katekismus Gereja Katolik (KGK 651) mengutip apa yang dituliskan oleh Rasul Paulus sebagai berikut: “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1Kor 15:17). Kebangkitan-Nya membuktikan bahwa pengajaran dan termasuk klaim bahwa Dia sungguh Allah mendapatkan bukti yang kuat. Hal ini diperkuat bahwa janji akan kebangkitan Kristus telah dinubuatkan sebelumnya. Rasul Paulus menyatakan, “Dan kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu, yaitu bahwa janji yang diberikan kepada nenek moyang kita, telah digenapi Allah kepada kita, keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus, seperti yang ada tertulis dalam mazmur kedua: Anak-Ku Engkau! Aku telah memperanakkan Engkau pada hari ini.” (Kis 13:32-33)

Dengan kebangkitan Kristus, maka terbukalah pintu masuk menuju kehidupan baru, yaitu hidup yang dibenarkan oleh Allah atau hidup yang penuh rahmat Allah. Dikatakan dalam Rm 6:4 “Supaya seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati… demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” Hidup yang baru, yaitu hidup di dalam rahmat, memungkinkan kita untuk dapat menjadi saudara Kristus dan menjadi anak-anak Allah di dalam Kristus. Dan kepercayaan akan besarnya rahmat Allah ini, membuka harapan baru kepada kita, bahwa pada saatnya nanti, kitapun akan dibangkitkan bersama dengan Kristus dan kemudian hidup berbahagia untuk selama-lamanya bersama dengan Kristus dalam persatuan abadi bersama Allah Roh Kudus dan Allah Bapa.

 


[1] St. Thomas Aquinas, The Aquinas catechism : a simple explanation of the Catholic faith by the Church’s greatest theologian, Manchester, N.H.: Sophia Institute Press, 2000, p.47-50.

[2] Melito of Sardis, On the Pasch 102, in the Liturgy of Hours, Office of Readings for Holy Saturday.

[3] St. Thomas Aquinas, The Aquinas catechism : a simple explanation of the Catholic faith by the Church’s greatest theologian, Manchester, N.H.: Sophia Institute Press, 2000, p.50-52.

Iklan

One thought on “KRISTUS YANG TURUN KE TEMPAT PENANTIAN, PADA HARI KETIGA BANGKIT DARI ANTARA ORANG MATI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s