YESUS KRISTUS YANG DIKANDUNG DARI ROH KUDUS, DILAHIRKAN OLEH PERAWAN MARIA

I. Dasar Inkarnasi dari Kitab Suci:

  • Yoh 1:1-14– Sang Firman itu ada bersama-sama dengan Allah pada mulanya dan Sang Firman itu adalah Allah
  • Yoh 1:14– Sang Firman/ Sang Sabda itu menjadi manusia
  • Mat 16:13-17– Yesus adalah Mesias, Sang Putera Allah
  • Mat 28:18-19– Kristus telah diberikan segala kuasa
  • Yoh 3:16– Karena begitu besar kasih Allah akan dunia, Ia mengutus Putera-Nya ….
  • Yoh 14:6– Yesus adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup
  • Yoh 15:12-27– Yesus menjelma menjadi manusia agar menjadi teladan kekudusan bagi semua orang yang percaya dan mengikuti-Nya
  • Flp 2:5-11– Dalam nama Yesus, semua orang akan bertekuk lutut
  • 2Pet 1:3-4– Sang Sabda menjadi manusia untuk membuat kita mengambil bagian dalam kodrat ilahi.
  • 1Yoh 4:10 – Karena Tuhan mengasihi kita, Ia mengutus Putera-Nya yang Tunggal.

II. Dasar Inkarnasi dari Tradisi Suci:

  • St. Ignatius dari Antiokhia (35-117): “Ada seorang Tabib yang aktif, baik di dalam tubuh maupun jiwa …. Tuhan di dalam manusia, kehidupan sejati di dalam kematian, Anak Maria dan Anak Allah, yang pertama dapat menderita dan yang kemudian tidak dapat menderita, Yesus Kristus, Tuhan kita.” (Letter to the Ephesians, Chap.3)
  • St. Irenaeus (130-202): “[Gereja percaya] akan Allah, Bapa yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi …. dan akan Yesus Kristus, Putera Allah yang menjelma menjadi manusia untuk keselamatan kita; dan di dalam Roh Kudus, yang mewartakan rencana ilahi melalui para nabi…” (Against Heresies, Ch. I)
  • St. Klemens dari Aleksandria (150-215): “Sang Sabda ini adalah Kristus, penyebab keberadaan kita pada mulanya ….dan penyebab kesejahteraan kita. Sabda ini kini telah menjadi manusia – Pencipta segala rahmat…. telah diutus di jalan kita kepada kehidupan kekal … Ini adalah Sang Putera…, pernyataan Sabda yang sudah ada sejak awal mula dan sebelum awal mula. Sang Penyelamat, yang telah ada sebelumnya, kini telah muncul; sebab Sang Sabda yang telah ada bersama-sama dengan Allah dan yang melalui-Nya semua telah diciptakan, telah muncul sebagai Guru kita. Sang Sabda yang pada mulanya mengaruniakan kehidupan kepada kita sebagai Pencipta ketika Ia membentuk kita, mengajarkan kepada kita bagaimana untuk hidup dengan baik ketika Ia muncul sebagai Guru kita, sehingga sebagai Tuhan, Ia dapat mempimpin kita kepada hidup yang tanpa akhir. (Exhortation to Heathen, Chap I,7:1)
  • St. Gregorius dari Nissa (335-395): “Maka jika kamu bertanya dengan cara apa ke-Allah-an dicampurkan dengan kemanusiaan, kamu akan memperoleh kesempatan untuk pertanyaan awal tentang berbaurnya jiwa dengan tubuh. Tapi seandainya kamu tidak tahu caranya bagaimana jiwa bersatu dengan tubuh, jangan berharap bahwa pertanyaan lainnya itu harus berada dalam jangkauan pemahamanmu. Sebaliknya, seperti di dalam kasus persatuan antara jiwa dan tubuh, sementara kita memperoleh alasan untuk percaya bahwa jiwa adalah sesuatu yang berbeda dari tubuh – sebab tubuh jika terpisah dari jiwa, akan mati dan tidak aktif-, kita tidak memperoleh pengetahuan yang pasti tentang cara persatuan itu. Sehingga di dalam pertanyaan lainnya tentang persatuan antara ke-Allahan dan kemanusiaan, sementara kita menyadari bahwa terdapat perbedaan berkenaan dengan derajat kemuliaan antara kodrat ke-Allahan dan kodrat kemanusiaan yang fana, kita juga tidak dapat menangkap bagaimana elemen-elemen keilahian dan kemanusiaan dicampurkan bersama. Namun demikian, kita tidak dapat ragu bahwa Tuhan lahir di dalam kodrat manusia, oleh karena mukjizat -mukjizat yang telah disebutkan di atas.” (The Great Catechism, no.11)
  • St. Agustinus (354-430): “Tetapi ada orang-orang yang meminta penjelasan tentang bagaimana Tuhan dapat bersatu dengan manusia sedemikian sehingga menjadi seorang Pribadi Kristus, seakan-akan mereka dapat menjelaskan sesuatu yang terjadi setiap hari, yaitu bagaimana jiwa dapat bersatu dengan tubuh untuk membentuk seorang pribadi manusia. Sebab, seperti jiwa menggunakan tubuh seorang pribadi untuk membentuk manusia, maka Tuhan menggunakan seorang manusia di dalam seorang Pribadi untuk membentuk Kristus.” (Letters, no. 137:3)

III. Dasar Inkarnasi dari Katekismus Gereja Katolik:

  • KGK 457 – Sang Sabda menjadi manusia untuk mendamaikan kita dengan Tuhan
  • KGK 158 – Inkarnasi: supaya kita kita dapat mengenal kasih Allah
  • KGK 459 – Sang Sabda menjadi manusia untuk menjadi teladan kekudusan
  • KGK 460 – Inkarnasi – untuk membuat kita pengambil bagian di dalam kodrat ilahi
  • KGK 464- 469 – Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia
  • KGK 470- 477 – Bagaimana Putera Allah menjadi manusia

IV. Kepenuhan rencana Allah

Allah Tritunggal Maha Kudus telah mempunyai rencana keselamatan bagi umat manusia, sehingga ketika genap waktunya, Allah mengutus Anak-Nya (lih. Gal 4:4), yang dikandung dari Roh Kudus dan lahir dari seorang perawan – Perawan Maria. Maria mengandung Kristus Sang Putera Allah – bukan dari benih manusia, namun dari Roh Kudus. Dalam artikel ini, kita akan melihat tentang Inkarnasi, mengapa Tuhan memilih cara Inkarnasi untuk menyelamatkan manusia, dan bagaimana Tuhan telah mempersiapkan kedatangan Kristus ke dunia dengan begitu sempurna, termasuk mempersiapkan Maria sebagai Bunda Allah, sehingga Maria dapat menjalankan tugasnya sebagai Bunda Allah dengan baik.

V. Inkarnasi

1. Apakah Inkarnasi adalah suatu keharusan?

baby-jesusInkarnasi adalah merupakan puncak dari misteri karya keselamatan Allah. Tanpa kehilangan kodrat Allah, Putera Allah mengambil kodrat manusia dan masuk dalam sejarah manusia untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa. Maka Inkarnasi adalah suatu misteri terbesar yang dilakukan Tuhan. Misteri ini tidak dapat dipahami hanya dengan pemikiran manusia, karena hal ini menyangkut pikiran dan tindakan bebas yang dilakukan oleh Tuhan. Kini pertanyaannya adalah, apakah Inkarnasi merupakan suatu keharusan? St. Thomas Aquinas menjawabnya dengan “ya” dan “tidak”. ((St. Thomas Aquinas, ST, III, q.1, a.2)) Dapat dikatakan bahwa Inkarnasi bukanlah suatu keharusan yang mutlak, karena Tuhan juga dapat menyelamatkan manusia dengan cara yang lain. Namun, kita dapat mengatakan bahwa Inkarnasi adalah suatu keharusan yang relatif, karena itu adalah cara yang paling layak (the most fitting) dan sempurna (the most perfect) untuk membawa manusia kembali kepada Tuhan dari jurang yang tak terseberangi antara Tuhan dan manusia, yang diakibatkan oleh dosa. Karena kodrat Tuhan adalah sempurna, maka Tuhan mengambil cara yang sempurna – yaitu Inkarnasi – sebagai cara yang sesuai dengan kodrat-Nya.

2. Apakah Inkarnasi bertentangan dengan kodrat Tuhan?

Banyak orang  tidak mempercayai Inkarnasi, karena dua alasan utama, yaitu: (a) Tuhan tidak mungkin menjadi manusia; (b) Inkarnasi menurunkan derajat Allah. Namun, sebenarnya Inkarnasi justru membuktikan bahwa Tuhan yang adalah maha dalam segalanya, juga maha dalam kasih sehingga Ia mau menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia dari kehancuran akibat dosa.

Kalau kita percaya bahwa Tuhan adalah maha dalam segalanya, mengapakah kita membatasi kemampuan dan kehendak Tuhan untuk menjadi manusia? Memang Tuhan tidak dapat mempertentangkan diri-Nya, seperti Tuhan yang kudus tidak mungkin berdosa, karena dosa bertentangan dengan kekudusan. Namun, Allah yang menjadi manusia atau Inkarnasi tidaklah bertentangan dengan kodrat Allah, karena dalam Inkarnasi, Allah tidak berhenti menjadi Allah. Akan menjadi bertentangan kalau Allah berhenti menjadi Allah. Sebaliknya, dalam Inkarnasi, Allah tetap mempertahankan kodrat-Nya sebagai Allah walaupun pada saat yang sama Ia juga mengambil kodrat manusia, sehingga karenanya kodrat manusia diangkat oleh Allah ke derajat yang sungguh mulia.

Keberatan yang lain datang dari sebagian orang yang berpendapat bahwa tidak mungkin Tuhan menjadi manusia, karena hal tersebut sama saja dengan merendahkan derajat Tuhan yang Maha kuasa dan besar. Namun, misteri Inkarnasi membuktikan sebaliknya, bahwa dengan menjadi manusia, Tuhan telah menunjukkan bagaimana Ia mengasihi kita dengan kasih-Nya yang tidak terbatas, sehingga kita seharusnya lebih mengasihi Tuhan dengan segenap kekuatan kita.  Dalam keseharian kita, bukankah dibutuhkan kekuatan dan kebesaran hati bagi seseorang yang ‘dari kalangan atas’ untuk merendahkan diri dan ikut solider dengan orang-orang jelata? Bayangkanlah kebesaran Allah yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus dengan menjelma menjadi manusia! Ia yang mengatasi segala waktu, masuk ke dalam waktu, Ia yang luar biasa besar dan tiada terbatas mengosongkan diri hingga menjadi setitik sel (embrio) dalam rahim Bunda Perawan Maria. Kita juga dapat melihat bahwa ‘kebesaran’ seseorang yang mengundang rasa kagum, tiada berarti jika tidak diimbangi kasih, bukan?  Dalam kehidupan kita sehari-hari, mungkin kita melihat dengan kagum pada sosok artis atau aktor tertentu. Namun tentu saja kita akan lebih mengasihi orang tua kita dibandingkan dengan para aktor atau artis, bukan karena orang tua kita lebih cakap daripada aktor atau artis, namun karena orang tua kita telah mengasihi kita dengan kasih yang besar, yang terbukti dengan segala pengorbanan yang dilakukan mereka demi kebahagiaan kita.

3. Mengapa harus dengan Inkarnasi?

Sekarang, mari kita melihat mengapa Tuhan mengambil cara Inkarnasi, suatu cara yang sebenarnya ada di luar jangkauan akal budi manusia. Mari kita melihatnya dari dua sisi, yaitu dari sisi Tuhan dan dari sisi manusia. Dari sisi Tuhan, kita melihat bahwa Inkarnasi adalah cara terbaik yang dipakai Tuhan untuk (a) menyatakan kebaikan-Nya dan (b) menyatakan kasih, pengampunan, keadilan dan kebijaksanaan-Nya. Sedangkan dari sisi manusia, Inkarnasi menjadi cara untuk: (c) membebaskan manusia dari belenggu dosa; (d) mengembalikan harkat dan jati diri manusia; (e) memperkuat iman, pengharapan dan kasih; (f) menunjukkan bahwa Tuhan tidak hanya memberikan perintah namun juga jalan. Dari alasan-alasan ini terlihatlah bahwa Inkarnasi adalah cara yang sungguh luar biasa yang dilakukan Tuhan yang Maha luar biasa. Mari sekarang kita membahas satu persatu dari beberapa alasan Inkarnasi.

a. Inkarnasi sebagai cara Tuhan untuk menyatakan kebaikan

Kalau kita melihat dari perspektif Tuhan, kita akan melihat bahwa Inkarnasi adalah sesuatu yang sudah layak dan seharusnya, oleh karena sifat Tuhan sendiri. Sebab secara prinsip, segala sesuatu akan bertindak sesuai dengan sifat dan hakekatnya. Contoh: batu kalau dilepaskan akan jatuh, tanaman kalau diberi air dan sinar secukupnya akan tumbuh, manusia bertindak sesuai dengan akal budi dan keinginan bebasnya. Atau, seorang ibu akan mengasihi anaknya dan akan melakukan apa saja untuk kebahagiaan anaknya.

Di dalam Tuhan, hakekat- Nya bukan hanya menjadi bagian dari-Nya, namun Tuhan adalah hakekat tersebut secara sempurna, seperti: Tuhan adalah Kebaikan, Kebenaran, Keindahan, dan Kasih. Kita juga dapat menerapkan prinsip penting yang lain, yaitu “bonum diffusivum sui” atau “kebaikan akan menyebar dengan sendirinya“, sama seperti panas yang akan menyebarkan hawa panasnya ke segala arah, atau lilin yang bercahaya dalam kegelapan. Dan kalau Tuhan adalah Kebaikan -dalam pengertian yang absolut dan sempurna- maka kebaikan ini akan tersebar dan mencoba menjangkau setiap orang. Pertanyaannya, bagaimana Tuhan dapat mengkomunikasikan kebaikan ini kepada manusia?

Cara pertama adalah dengan cara yang sempurna dan absolut, yang hanya ada dalam kehidupan Tritunggal Maha Kudus. Manusia hanya dapat berpartisipasi di dalamnya, dan partisipasi ini akan mencapai kesempurnaanya pada saat kita berada di surga. Kedua, adalah dengan cara yang terbatas, yaitu partisipasi dari semua makhluk ciptaan. Ini adalah pembuktian ke-empat dari St. Thomas Aquinas tentang keberadaan Tuhan. Ketiga, adalah dengan melalui rahmat pengudusan. Ini yang kita peroleh pada waktu Pembaptisan, di mana hakekat kita diangkat ke tingkat adi-kodrati, yaitu kita dapat berpartisipasi di dalam kehidupan Allah. Namun cara ini hanya dimungkinkan setelah Tuhan sendiri menjadi manusia, menanggung dosa manusia untuk menebusnya, dan memberikan jalan untuk bersatu dengan Tuhan kembali. Cara yang ke-empat adalah dengan cara yang yang paling agung dan mulia, yaitu dengan cara mengambil sifat kemanusiaan tersebut dan membuatnya menjadi satu kesatuan dengan diri-Nya. Cara yang terakhir inilah yang dilakukan oleh Tuhan dalam misteri Inkarnasi. Melalui Inkarnasi, Tuhan sendiri menjadi manusia, sama seperti kita, kecuali dalam hal dosa. Dengan cara ini, maka manusia tidak hanya berpartisipasi di dalam kehidupan Tuhan, namun Tuhan yang berinkarnasi telah membuat kemanusiaan menjadi satu dengan kepribadian Tuhan. Dengan menjadi manusia, Tuhan tidak hanya menyucikan kemanusiaan Yesus, tetapi seluruh umat manusia, karena sifat ke-Tuhanan yang melampaui semua manusia.

Oleh karena Tuhan baik dalam pengertian yang sempurna dan absolut, maka Tuhan akan mengambil cara yang paling sempurna dan luhur. Seperti halnya lilin kecil hanya mungkin menerangi satu ruangan kecil, namun sebaliknya matahari mempunyai kekuatan dan kemampuan untuk menerangi seluruh bumi, maka Tuhan selayaknya mengambil cara yang paling sempurna untuk menyampaikan kebaikan-Nya kepada manusia yaitu melalui misteri Inkarnasi. Inkarnasi adalah cara yang paling agung dan sempurna untuk menyampaikan kebaikan Tuhan.

b. Inkarnasi sebagai manifestasi kasih, pengampunan, keadilan dan kebijaksanaan Tuhan

Kita dapat memberikan argumentasi yang lain tentang kelayakan Inkarnasi, yaitu melalui sifat-sifat Tuhan yang lain, yaitu maha kasih, berbelas kasih, adil, dan bijaksana. Sudah selayaknya, Tuhan yang sempurna dan maha mulia mengkomunikasikan segala sifat-Nya dengan cara yang paling sempurna, yang terwujud dalam misteri Inkarnasi.

Yesus telah menunjukkan kesempurnaan belas kasihan dan kasih-Nya kepada umat manusia melalui penderitaan-Nya, yang mencapai puncaknya di kayu salib.  Karena kasih-Nya kepada umat manusia, Tuhan telah memberikan Anak-Nya yang tunggal untuk keselamatan umat manusia (Yoh 3:16).

Tuhan juga telah menunjukkan keadilan-Nya yang begitu besar dan tak terselami. Karena manusia tidak dapat membayar dan menghapuskan dosa yang telah dilakukannya, maka Tuhan sendiri, melalui Tuhan yang menjadi manusia, membayar semua dosa yang telah dilakukan manusia.

Mungkin ada yang bertanya, kenapa tidak cukup hanya dengan manusia meminta ampun kepada Tuhan? Mari kita lihat contoh dalam kehidupan kita, kalau kita membuat kesalahan kepada rekan sekerja, maka kita dapat meminta maaf secara langsung. Namun kalau kita dengan teman-teman membuat suatu hal yang begitu serius, misalnya membakar bendera negara lain, yang menjadi simbol dan harkat dari negara tersebut, maka tidak cukup bagi kita untuk meminta maaf secara pribadi. Karena yang dirugikan adalah suatu negara, yang harkatnya jauh lebih tinggi dari kita, maka permasalahannya tidak akan selesai kalau pribadi yang bersalah meminta maaf. Namun, kalau seseorang yang mempunyai harkat yang sama dengan negara tersebut, contohnya: menteri luar negeri, duta besar, atau presiden meminta maaf kepada negara yang dirugikan, maka masalahnya akan selesai dan keadilan dapat ditegakkan.

Pada saat manusia berbuat dosa, maka manusia telah melawan Tuhan, suatu martabat yang jauh lebih tinggi dan tak terbatas jika dibandingkan dengan manusia. Agar keadilan dapat kembali ditegakkan, maka seseorang yang mempunyai harkat yang sama harus mewakili manusia untuk mempersatukan kembali hubungan yang dirusak oleh dosa. Yesus, Tuhan yang menjelma menjadi manusia mengambil sifat manusia, sehingga Ia dapat mewakili manusia; namun karena Ia sekaligus juga adalah Putera Allah, maka Ia menjadi satu-satunya sosok yang mungkin untuk mempersatukan kembali hubungan antara Allah dan manusia.

Tuhan juga dapat mengkomunikasikan kebijaksanaan-Nya dengan cara yang paling sempurna, yaitu dengan mengutarakannya secara langsung kepada manusia, dengan cara dan bahasa yang dimengerti oleh manusia. Kita melihat bagaimana Yesus memberikan kebijaksanaan-Nya dengan perumpamaan dalam bahasa yang dimengerti manusia.

Dengan Inkarnasi, Tuhan menunjukkan kekuatan-Nya, dengan melakukan banyak mukjizat termasuk membangkitkan orang mati, terutama  Kebangkitan-Nya sendiri dari kematian.

Jadi kita melihat, bahwa dengan Inkarnasi, Tuhan telah memilih jalan yang paling sempurna untuk menyatakan kebaikan, kasih, belas kasihan, keadilan, dan juga kekuatan-Nya kepada umat manusia. Tuhan telah menawarkan dan memberikan jalan yang terbaik sehingga manusia dapat memperoleh keselamatan, yaitu persatuan kembali dengan Tuhan untuk selamanya.

c. Inkarnasi untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa

Tujuan utama dari Inkarnasi adalah untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa, sehingga manusia dapat bersatu kembali dengan Tuhan. Misteri ini, seperti yang telah dipaparkan di atas, membuka suatu misteri kasih Allah yang tak terbatas kepada manusia. Namun misteri ini juga menunjukkan sisi paling gelap dari dosa, yang manifestasinya terlihat dalam penderitaan Kristus. Jadi penderitaan Kristus di kayu salib menunjukkan akan besarnya kasih Tuhan, namun di saat yang sama, menunjukkan kegelapan/keburukan dosa.

Melihat dua hal tersebut di atas, maka manusia perlu menanggapinya dengan menghindari dosa dengan segala kekuatannya dengan cara bekerjasama dan bergantung kepada rahmat Tuhan yang mengalir dari penderitaan Kristus. Ini berlaku bagi kita masing-masing karena Yesus datang dan berkorban untuk menebus setiap kita dan dosa-dosa yang kita lakukan, agar kita dapat memperoleh keselamatan abadi.

d. Inkarnasi mengembalikan harkat dan jati diri manusia

Melalui misteri Inkarnasi, kebaikan Allah dinyatakan dan martabat manusia yang begitu tinggi diteguhkan, karena Tuhan sendiri berkenan menjadi manusia dan mengambil kodrat manusia dalam diri-Nya. Dengan ini, manusia seharusnya melihat Inkarnasi Kristus dengan penuh rasa syukur dan tertunduk dalam kerendahan hati, serta mencoba dengan segenap kekuatan untuk berusaha hidup kudus dengan cara mengikuti teladan Kristus.

Misteri ini menyadarkan kita, bahwa tanpa kedatangan Kristus ke dunia ini, kita semua akan masuk ke dalam api neraka. Pengertian yang mendalam tentang misteri Inkarnasi akan mencegah manusia untuk melakukan dosa yang sama dengan dosa Adam yaitu dosa kesombongan, yang membawa manusia kepada jurang kehancuran. Sama seperti kegelapan yang hanya dapat ditanggulangi dengan terang, maka kesombongan hanya dapat ditanggulangi dengan kerendahan hati. Kerendahan hati ini mencapai mencapai puncak kesempurnaannya pada misteri Inkarnasi Tuhan Yesus, karena Seorang Pencipta mengambil  kodrat ciptaan-Nya; Sang Pencipta merendahkan diri dalam keterbatasan ciptaan-Nya (lih. Flp 2: 5-11). Dan yang lebih luar biasa adalah, Sang Pencipta menyerahkan diri-Nya untuk wafat demi menyelamatkan ciptaan-Nya pada waktu ciptaan-Nya masih berdosa (Rom 5:8).

e. Inkarnasi memperkuat iman, pengharapan, dan kasih manusia

Aspek lain dari Inkarnasi adalah diperkuatnya iman, pengharapan, dan kasih umat manusia. Iman mensyaratkan manusia untuk memberikan dirinya – akal budi: pemikiran dan keinginan – secara bebas kepada kebenaran. Adakah cara yang lebih sempurna, agar manusia dapat memberikan diri kepada kebenaran selain daripada jika Kebenaran itu sendiri datang dalam rupa manusia untuk berbicara secara langsung kepada umat manusia, sehingga mereka dapat memahami-Nya? Yesus berkata, “Akulah Jalan, dan Kebenaran, dan Hidup” (Yoh 14:6). Apa yang lebih menguatkan manusia kalau dibandingkan dengan kehadiran Yesus, Sang Jalan, Sang Kebenaran, Sang Kehidupan dan Sang Terang, yang berbicara, membimbing, dan memberikan terang sehingga manusia dapat lepas dari belenggu kegelapan? Itulah sebabnya St. Agustinus mengatakan, “Agar manusia dapat berjalan dengan lebih yakin menuju kepada kebenaran, maka Kebenaran itu sendiri, Anak Allah, telah mengambil kodrat manusia, menetapkan dan mendirikan iman.” ((St. Agustine, De civitate Dei xi,2 ))

Inkarnasi juga menguatkan pengharapan. Karena obyek dari pengharapan adalah kebaikan di masa depan, maka Inkarnasi memberikan keyakinan akan pengharapan yang nyata. Inkarnasi, sebagai manifestasi kasih, memberikan pengharapan yang pasti akan kebahagiaan yang akan dialami oleh manusia, jika ia bekerja sama dengan rahmat Allah. St. Agustinus mengatakan “Tidak ada yang lebih diperlukan untuk menumbuh-kembangkan pengharapan kita selain menunjukkan kepada kita bagaimana Allah sungguh-sungguh mengasihi kita. Dan bukti apa yang lebih kuat tentang hal ini selain bahwa Anak Allah telah menjadi teman seperjalanan dengan kita dalam kodrat manusia.” ((St. Agustine, De Trinitate xiii)) Dengan demikian, Inkarnasi memberikan jalan yang pasti untuk membawa manusia kepada kebaikan di masa depan, yaitu kebahagiaan abadi di surga. Rasul Paulus mengatakan, “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1 Kor 2:9). Inkarnasi juga menunjukkan bahwa di dalam penderitaan, manusia tidak boleh kehilangan harapan; sebagaimana telah ditunjukkan oleh Kristus. Karena jika manusia setia menjalankan kehendak Bapa, maka akhirnya ia akan memperoleh kebahagiaan abadi di Sorga.

Inkarnasi juga memperkuat kasih. Hakekat kasih adalah bergembira akan sesuatu yang baik yang ada pada diri orang yang dikasihi dan juga mengharapkan yang baik terjadi pada orang yang dikasihi. Dari definisi ini, kita dapat melihat bahwa Inkarnasi adalah perwujudan kasih yang sempurna, karena Tuhan masih melihat bahwa ada sesuatu yang baik dalam diri manusia, walaupun manusia telah berdosa. Tuhan juga mengharapkan yang terbaik terjadi pada kita, dengan memberikan Diri-Nya sendiri kepada kita manusia.

f. Inkarnasi menunjukkan bahwa Tuhan tidak hanya memberikan perintah, namun juga jalan

Waktu saya mau pergi ke perpustakaan, di salah satu pusat kota di Amerika saya tersesat. Kemudian saya berhenti dan bertanya kepada seseorang yang berada di depan salah satu pertokoan. Orang tersebut menerangkannya dengan fasih, seperti: dari sini belok ke kiri, kemudian setelah melewati dua lampu merah belok kanan, dan kira-kira 200 meter dari pom bensin belok kanan, dan belokan pertama terus belok kiri, dan kita-kira 200 meter dari situ, letak perpustakaan ada di sebelah kanan. Saya berterima kasih atas kebaikan orang itu, namun saya bingung, karena terlalu banyak belokan dan tanda yang harus saya ingat. Menyadari kebingungan saya dan tahu saya orang asing di situ, maka orang tersebut berkata “Mari, ikuti mobil saya, saya akan tunjukkan jalan untuk ke perpustakaan.” Mendengar perkataan tersebut, saya tersenyum lebar, karena tahu bahwa saya tidak akan tersesat lagi dan pasti akan menemukan perpustakaan yang saya cari.

Itulah yang terjadi dengan Inkarnasi, karena Inkarnasi membuktikan bahwa Tuhan tidak hanya memberikan perintah-perintah, namun Ia sendiri menjadi contoh untuk semua perintah dan kebajikan Ilahi, seperti: kasih yang sempurna, ketahanan untuk tabah dalam penderitaan, keadilan yang sempurna, kebijaksanaan yang sempurna, kesederhanaan, kelemahlembutan dan kerendahan hati. Karena Yesus telah menunjukkan jalan-Nya kepada manusia, maka manusia dapat mengikuti teladan-Nya. Dengan mengikuti teladan-Nya, manusia berpartisipasi di dalam kehidupan Ilahi, yaitu menjadi anak-anak angkat Allah di dalam Kristus, “We are sons in the Son of God” sebab oleh rahmatNya kita semua menjadi anggota Tubuh Kristus.

VI. Peran Perawan Maria dalam karya keselamatan

Setelah kita melihat tentang mengapa Tuhan menggunakan Inkarnasi untuk menyelamatkan manusia, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana Tuhan datang ke dunia, masuk ke dalam dimensi waktu dan tempat. Ternyata Tuhan menggunakan cara yang dapat dikatakan luar biasa namun sekaligus sungguh biasa. Tuhan menggunakan cara yang biasa, yaitu seperti layaknya manusia lahir, yaitu dari rahim seorang wanita – wanita yang telah dipilih oleh Allah untuk menjadi Bunda Allah, yaitu Bunda Maria. Cara ini sekaligus menjadi cara yang luar biasa, karena Putera Allah dilahirkan bukan dari benih laki-laki namun Ia dikandung dari Roh Kudus dan dilahirkan dari seorang perawan. Mari sekarang kita menganalisa beberapa hal berkaitan dengan peran Maria dalam karya keselamatan Allah, yaitu: (1) Apakah Maria layak mengemban peran sebagai Bunda Allah; (2) Bagaimana jika Maria menolak menjadi Bunda Allah?; (3) dan mengapa Putera Allah lahir dari seorang perawan?

1. Apakah Maria layak mengemban peran sebagai Bunda Allah?

Banyak teolog dan umat beriman mempertanyakan apakah Bunda Maria layak mengambil peran sebagai Bunda Allah yaitu peran yang mungkin merupakan peran yang terbesar setelah peran Kristus sendiri dalam karya keselamatan Allah. Di satu sisi, terlihat bahwa hal itu sepertinya tidak mungkin, karena Inkarnasi adalah benar-benar merupakan rahmat atau pemberian bebas dari Allah, dan tiada seorang manusia-pun yang layak untuk menerima pemberian ini. Namun, di satu sisi, banyak Bapa Gereja mengatakan bahwa kesucian, kerendahan hati dan kasih dari Maria membuat Maria layak (dalam pengertian tertentu) untuk menjadi Bunda Allah. Mengenai hal ini, Kitab Suci menuliskan, “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.” (Gal 4:4).

Untuk menjawab pertanyaan ini, maka terlebih dahulu kita perlu mendefinisikan kata “layak”. St. Thomas Aquinas membedakan kata layak dalam dua pengertian, yaitu yang disebut congruous merit dan condign merit. Kata condign merit merujuk kepada makna literal dari layak atau layak secara adil atau layak untuk mendapatkan imbalan atau layak untuk mengklaim sesuatu karena jasanya. Sebaliknya, congruous merit merujuk kepada kelayakan bukan dalam pengertian seseorang layak mendapatkan imbalan, namun satu hal yang membuat rahmat dan belas kasih Allah terjadi karena doa permohonan. ((ST I-II, q. 114, a. 2.)) Dari pengertian ini, maka Bunda Maria tidak pernah layak dalam pengertian condign merit, karena tidak seorang manusiapun layak untuk menjadi Bunda Allah. Hal yang sama dapat kita katakan bahwa tidak seorangpun layak (condign merit) untuk masuk Surga. Namun, Bunda Maria dikatakan layak secara congruous merit, menjadi Bunda Allah, karena kerendahan hati, kemurnian dan kasih Bunda Maria yang senantiasa bekerjasama dengan rahmat Allah.

St. Thomas melanjutkan bahwa ’congruous’ ini berdasarkan kesetaraan yang proporsional. ((ST I-II, q. 114, a. 3.)) Prinsip yang sama dapat kita lihat dalam Kitab Suci, yang mengajarkan “Doa orang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yak 5:16). Bukan berarti Tuhan berhutang dan mempunyai kewajiban untuk mengabulkan doa orang benar. Namun, doa orang yang benar – yaitu doa yang dilakukan dengan disposisi hati yang benar, dan mengalir dari iman, pengharapan dan kasih – secara proporsional layak (congruous merit)  untuk mendapatkan perhatian Tuhan. Dengan prinsip yang sama, maka Maria yang mempunyai tingkat kesucian, kerendahan hati, dan kasih yang begitu tinggi secara proporsional diangkat derajatnya ke tempat yang lebih tinggi lagi, yaitu menjadi Bunda Allah. Ini bukan karena dia layak untuk mendapatkan haknya (condign merit), sebab kesucian, kerendahan hati dan kasih yang begitu sempurna dari Bunda Maria juga adalah merupakan rahmat pemberian Allah. Tentang hal ini, St. Agustinus mengungkapkan dengan indahnya:

Siapakah engkau yang akan mengandung? Kapankah engkau layak untuk mendapatkannya? Darimanakah engkau mendapatkannya? Bagaimanakah Dia yang menciptakan engkau [Maria] dibentuk oleh engkau [Maria]? Dari manakah, saya bertanya, begitu besar rahmat untukmu? Engkau adalah seorang perawan, engkau kudus; engkau telah mengucapkan sebuah kaul. Engkau telah layak memperolehnya secara berlimpah, tetapi engkau telah menerimanya juga secara berlimpah. Tetapi, bagaimana engkau layak menerimanya? Biarlah malaikat menjawab. Katakan kepadaku, malaikat, kapan semuanya ini diterima oleh Maria? Saya telah mengatakannya, ketika saya menyapanya: Salam, penuh rahmat (Ave, gratia plena).” ((St. Agustinus, Sermo 291, De Sanctis))

Dengan kata lain, memang benar bahwa rahmat diberikan secara cuma-cuma kepada manusia, juga termasuk kepada Bunda Maria. Namun, karena itu adalah cuma-cuma, maka juga terserah kepada Allah untuk memberikan rahmat yang terbesar kepada Maria, karena perannya untuk mendatangkan Kristus ke dunia ini (LG 56; KGK, 490). Kemudian, rahmat bukanlah sesuatu yang terjadi hanya satu kali dan tidak terjadi terus-menerus. Keistimewaan Maria justru pada besarnya rahmat yang diberikan Allah kepada Maria dan bagaimana Maria senantiasa bekerjasama dengan rahmat Allah secara terus-menerus selama hidupnya, sehingga rahmat Allah dapat terus tercurah secara penuh. Allah yang Maha Tahu telah mengetahui hal ini sejak awal penciptaan dunia.

Selanjutnya tak dapat kita lupa bahwa rahmat Allah dicurahkan kepada manusia dan bukan kepada robot. Manusia mempunyai kemampuan untuk menerima atau menolak rahmat Allah. Dengan demikian, ada kerja sama antara rahmat Allah dan keinginan bebas manusia. Memberikan penekanan pada rahmat (grace) tanpa melihat aspek keinginan bebas manusia (free will) menjadikan manusia seperti robot. Sebaliknya, mengedepankan keinginan bebas tanpa rahmat Allah membuat seolah-olah manusia dapat menyelamatkan dirinya sendiri tanpa Allah. Maka, penekanan hanya rahmat saja tanpa kehendak bebas atau kehendak bebas saja tanpa rahmat, keduanya keliru.  Rahmat dan kehendak bebas harus bekerja sama dalam menuntun seseorang kepada keselamatan.

Maria tidak membanggakan dirinya sendiri, bahkan dia justru mengakui akan rahmat Allah yang tercurah kepadanya secara luar biasa kepadanya (lih. Luk 1:49). Namun, karena Allah sendiri yang memilih Bunda Maria sebagai Bunda Allah, maka kita semua seharusnya dapat melihat bahwa Bunda Maria dipilih secara istimewa oleh Allah, berdasarkan kebijaksanaan-Nya. Jadi, kalau Gereja Katolik dan beberapa pendiri gereja Protestan mengatakan bahwa Bunda Maria adalah figur yang istimewa, yang tertinggi dari seluruh umat manusia setelah Kristus, itu justru karena menghormati keputusan Allah yang memilih yang terbaik. Terbaik di sini jangan dilepaskan dari rahmat Allah, karena Gereja Katolik juga tidak mengajarkan bahwa seseorang dapat mencapai kekudusan tanpa rahmat Allah.

Dalam rangka mempersiapkan Maria sebagai Bunda Allah inilah, maka Allah sungguh mencurahkan rahmat-Nya yang begitu luar biasa – penuh rahmat / full of grace (lih. Luk 1:28), sehingga tidak ada lagi ruang untuk dosa. Inilah sebabnya para Bapa Gereja dan Magisterium Gereja mengatakan bahwa Maria telah ditebus sejak ia dikandung. Ajaran ini akhirnya didefinisikan dalam dogma “Maria Dikandung tanpa Noda Asal” pada tanggal 8 Desember 1854 oleh Paus Pius IX dalam Bulla Ineffabilis Deus (Tuhan yang Tak Terhingga) demikian:

“Dengan inspirasi Roh Kudus, untuk kemuliaan Allah Tritunggal, untuk penghormatan kepada Bunda Perawan Maria, untuk meninggikan iman Katolik dan kelanjutan agama Katolik, dengan kuasa dari Yesus Kristus Tuhan kita, dan Rasul Petrus dan Paulus, dan dengan kuasa kami sendiri: “Kami menyatakan, mengumumkan dan mendefinisikan bahwa doktrin yang mengajarkan bahwa Bunda Maria yang terberkati, seketika pada saat pertama ia terbentuk sebagai janin, oleh rahmat yang istimewa dan satu-satunya yang diberikan oleh Tuhan yang Maha Besar, oleh karena jasa-jasa Kristus Penyelamat manusia, dibebaskan dari semua noda dosa asal, adalah doktrin yang dinyatakan oleh Tuhan dan karenanya harus diimani dengan teguh dan terus-menerus oleh semua umat beriman.”

2. Bagaimana jika Maria menolak menjadi Bunda Allah?

Dewasa ini, ada orang yang berspekulasi apakah Tuhan dapat mengganti Maria dengan wanita lain kalau Maria menolak untuk menjadi Bunda Allah? Memang kita dapat mempunyai spekulasi tentang banyak hal, termasuk kita dapat berspekulasi bahwa kalau Maria menolak, maka Tuhan dapat memilih orang lain menjadi Ibu Tuhan. Namun, satu kenyataan yang tak bisa dipungkiri, bahwa spekulasi ini tidaklah terbukti dan bahkan tidak mungkin kalau dianalisa secara lebih jauh. Sebenarnya, spekulasi tidak ada di dalam Tuhan, karena bagi Tuhan semua adalah begitu jelas/ transparan di hadapan-Nya, baik – masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Dengan demikian, rancangan Tuhan itu lengkap, memperhitungkan segala sesuatu, termasuk melihat bahwa Maria akan menjawab “ya”, walaupun Allah tetap menghormati kehendak bebas Maria.

Maka, dapat dikatakan bahwa sebelum dunia dijadikan, Tuhan tahu (karena Tuhan adalah maha tahu) bahwa Adam dan Hawa akan jatuh ke dalam dosa, dan kelak pada saat genap waktunya, maka Allah mengutus Putera-Nya, yang lahir dari seorang perempuan (lih. Gal 4:4). Dan perempuan yang sama, yang disebutkan oleh Rasul Paulus, juga disebutkan di dalam Kitab Kejadian, yaitu: “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini [RSV, KJV = the woman dan bukan this woman], antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” (Kej 3:15) Demikianlah, pada saat waktunya tiba, Tuhan mengutus malaikat Gabriel dan menyapa Maria dan menawarkan janji di dalam Kitab Kejadian kepada perempuan ini, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.” (Lk 1:30-31).

Dengan demikian, kita melihat, bahwa Allah telah mempersiapkan rancangan keselamatan bagi manusia, yang akan melibatkan para nabi di Perjanjian Lama; seorang wanita – yaitu Bunda Maria, dan seorang Penebus – yaitu Kristus. Mengingat bahwa Tuhan dapat mempersiapkan nabi Yeremia menjadi seorang nabi, maka apakah yang dapat menghalangi Allah untuk mempersiapkan Bunda Maria dengan lebih baik – mencurahkan rahmat yang terbesar kepada Maria lebih daripada semua rahmat yang pernah dicurahkan kepada manusia yang lain– mengingat tidak ada tugas yang lebih besar yang dapat dilakukan oleh manusia, selain daripada menjadi Bunda Allah, di mana kemanusiaan dari Sang Penebus-pun mengalir darinya. Jadi, pemilihan Maria sebagai Bunda Allah bukanlah tanpa persiapan dari Allah, sehingga seolah-olah hanya membuang undi dan kalau Maria menolak, maka Tuhan akan mengatakan, “O, tidak apa-apa, karena engkau menolak, Aku juga dapat memilih wanita lain untuk menjadi Bunda Allah…“

Spekulasi bahwa Bunda Maria dapat menolak Allah dan kemudian Allah dapat memilih wanita lain adalah tidak benar, karena mengindikasikan bahwa Allah tidak mempersiapkan Bunda Maria sebelumnya. Allah tidak mempersiapkan beberapa wanita cadangan kalau Bunda Maria menolak, melainkan sejak awal mula, di dalam kebijaksanaan-Nya, Allah telah memilih seorang wanita, Bunda Maria, untuk menjadi Bunda Allah. Justru karena Allah telah mempersiapkan Bunda Maria sedemikian rupa – termasuk melindungi Maria dari dosa asal – maka Maria dapat mengikuti keinginan Tuhan tanpa kehilangan keinginan bebasnya. Keinginan bebas dari Maria sedemikian bebas, tanpa dosa, sehingga dia dengan bebas akan senantiasa menjawab “ya” terhadap rencana Allah, walaupun kadang dia sendiri tidak/ belum mengerti secara keseluruhan rencana Allah. Allah telah mempersiapkan Bunda Maria dengan begitu sempurna, sehingga Bunda Maria menjawab “ya” tanpa pelanggaran terhadap keinginan bebasnya. Persiapan sempurna bagi Bunda Allah ini hanya dilakukan terhadap satu orang, yaitu Bunda Maria. Tidak ada spekulasi apapun tentang hal ini, karena rencana Allah tetap dan sempurna. Paus Pius IX menuliskan bahwa Tuhan telah mempersiapkan Maria untuk menjadi Bunda Allah dalam Bulla Ineffabilis Deus (Tuhan yang Tak Terhingga)  demikian:

Tuhan yang tak terhingga yang mana jalan-jalan- [Nya] adalah belas kasih dan kebenaran … telah melihat lebih dahulu dalam kekekalan, kemalangan menyedihkan dari seluruh umat manusia sebagai akibat dosa Adam, memutuskan, dengan rencana tersembunyi selama berabad-abad, untuk menyelesaikan pekerjaan pertama dari kebaikan-Nya dengan sebuah misteri, yang lebih agung melalui Inkarnasi Firman. Hal ini diputuskan-Nya agar manusia yang, bertentangan dengan rencana kerahiman Ilahi telah dipimpin ke dalam dosa oleh kejahatan tipu daya setan, tidak binasa; dan agar apa yang telah hilang dalam Adam yang pertama akan dipulihkan secara mulia di dalam Adam kedua. Dari sejak awal, dan sebelum waktu dimulai, Bapa yang kekal telah memilih dan mempersiapkan bagi Anak-Nya yang tunggal, seorang ibu yang mana Putera Allah akan berinkarnasi dan dari padanya, dalam kepenuhan waktu, Dia akan dilahirkan ke dalam dunia.” (Ineffabilis Deus)

3. Mengapa Putera Allah lahir dari seorang perawan?

Tujuh abad sebelum  Bunda Maria mengandung, Tuhan telah memberikan nubuat melalui nabi Yesaya: “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” (Yes 7:14) Sebelum ayat 14, kita dapat melihat konteksnya, yaitu Allah, melalui nabi Yesaya berfirman kepada raja Ahas agar raja Ahas dapat meminta tanda yang paling sulit sekalipun. Di Yes 7:11 dikatakan: “Mintalah suatu pertanda dari TUHAN, Allahmu, biarlah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah atau sesuatu dari tempat tertinggi yang di atas.” Namun dikatakan bahwa nabi Ahas tidak berani meminta karena tidak mau mencobai Tuhan (ay. 12). Karena raja Ahas tidak mau meminta tanda, maka Allah sendiri yang memberikan tanda, yaitu tanda yang begitu luar biasa, yang melebihi tanda dari dunia orang mati maupun dari tempat tertinggi. Kalau dalam Kitab Suci bahasa Indonesia diterjemahkan bahwa tanda tersebut adalah “seorang perempuan muda akan mengandung”, maka apanya yang istimewa? Seorang muda yang bersuami tentu saja dapat mengandung. Namun, yang istimewa adalah, seperti yang diterjemahkan oleh beberapa versi yang lain – RSV, KJV, NASB, DRB – yang mengandung bukan hanya seorang perempuan muda, namun adalah seorang perawan. Ketika seorang perawan mengandung tanpa benih laki-laki, maka hal tersebut menjadi tanda yang begitu istimewa, sehingga anak yang dikandungnya dapat menyandang gelar Imanuel – Allah yang beserta kita. Mengapa Allah Putera memilih untuk dilahirkan oleh seorang perawan? Katekismus Gereja Katolik KGK 503-507 menjelaskan alasannya sebagai berikut: (a) menunjukkan prakasa absolut Allah; (b) peran Roh Kudus dalam Inkarnasi; (c) Yesus, Adam Baru dilahirkan dari Roh; (d) tanda iman Maria; (e) citra hakekat Gereja dan Gereja dalam arti penuh. Mari kita melihat teks dari Katekismus:

KGK 503.    Keperawanan Maria menunjukkan bahwa Allah mempunyai prakarsa absolut dalam penjelmaan menjadi manusia. Yesus hanya mempunyai Allah sebagai Bapa (Bdk. Luk 2:48-49.). Ia “tidak pernah asing bagi Bapa-Nya, karena manusia yang sudah ia terima – [Ia adalah Putera] kodrati Bapa menurut keallahan, [Putera] kodrati Bunda menurut kemanusiaan, tetapi ia adalah [Putera] Bapa yang sebenarnya dalam kedua-duanya” (Syn. Friaul 696: DS 619).

KGK 504.    Yesus dikandung dalam rahim Perawan Maria oleh Roh Kudus, karena Ia adalah Adam baru (Bdk. 1 Kor 15:45.), yang membuka ciptaan baru: “Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari surga” (1 Kor 15:47). Kodrat manusiawi Kristus dipenuhi oleh Roh Kudus sejak perkandungan-Nya karena Allah “mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas” (Yoh 3:34). “Karena dari kepenuhan-Nya” – Kepala umat manusia yang tertebus (Bdk. Kol 1:18.) – “kita semua menerima kasih karunia demi kasih karunia” (Yoh 1:16).

KGK 505.    Oleh perkandungan yang perawan, Yesus, Adam baru, memulai kelahiran baru, yang dalam Roh Kudus membuat manusia menjadi anak-anak Allah melalui iman. “Bagaimana hal itu mungkin terjadi?” (Luk 1:34; Bdk. Yoh 3:9.). Keikut-sertaan dalam kehidupan ilahi datang “bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah” (Yoh 1:13). Kehidupan ini diterima secara perawan, karena ia diberikan kepada manusia semata-mata oleh Roh. Sifat keperawanan dari panggilan manusia kepada Allah (Bdk. 2 Kor 11:2.) terlaksana secara sempurna dalam keibuan Maria yang perawan.

KGK 506.    Maria adalah perawan, karena keperawanannya adalah tanda imannya, “yang tidak tercemar oleh keraguan sedikit pun” (LG 63), dan karena penyerahannya kepada kehendak Allah yang tidak terbagi (Bdk. 1 Kor 7:34-35.). Berkat imannya ia dapat menjadi Bunda Penebus: “Maria lebih berbahagia dalam menerima iman kepada Kristus, daripada dalam mengandung daging Kristus” (Agustinus, virg. 3).

KGK 507.    Maria adalah perawan sekaligus bunda, karena ia adalah citra hakikat Gereja dan Gereja dalam arti penuh (Bdk. LG 63.): Gereja, “oleh menerima Sabda Allah dengan setia pula – menjadi ibu juga. Sebab melalui pewartaan dan baptis, Gereja melahirkan bagi hidup baru yang kekal-abadi putera-putera yang dikandungnya dari Roh Kudus dan lahir dari Allah. Gereja pun perawan, yang dengan utuh-murni menjaga kesetiaan yang dijanjikannya kepada Sang Mempelai. Dan sambil mencontoh Bunda Tuhannya, Gereja dengan kekuatan Roh Kudus secara perawan mempertahankan imannya, keteguhan harapannya, dan ketulusan cinta kasihnya” (LG 64).

VII. Yesus dan Maria dalam karya keselamatan Allah

Dari penjabaran di atas, kita dapat melihat bagaimana Allah sejak awal, telah mempunyai rencana keselamatan untuk manusia dengan cara Inkarnasi. Hubungan manusia dengan Allah yang terputus karena dosa Adam dan Hawa, dipulihkan dengan cara mendatangkan Adam kedua yang lahir bukan dari daging, namun dari Roh Kudus dan dilahirkan oleh Hawa kedua yang menjawab “ya” terhadap karya keselamatan Allah. Inkarnasi adalah karya puncak rancangan karya keselamatan Allah, yang telah dipersiapkan semuanya oleh Allah dengan sempurna, mulai dari para nabi sampai nabi yang terakhir – yaitu Yohanes Pembaptis. Kalau Allah telah mempersiapkan para nabi untuk mewartakan kedatangan Mesias, maka menjadi sungguh tepat kalau Allah juga mempersiapkan dengan lebih sempurna Bunda Maria, yang bukan hanya menjadi pewarta namun juga menjadi Bunda Allah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s