HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA VIGILI PASKAH 15 April 2017

Bacaan Ekaristi : Kej. 1:1-2:2 (Kej. 1:1,26-31a); Kel. 14:15-15:1; Yeh. 36:16-17a,18-28; Rm. 6:3-11; Mat. 28:1-10.

“Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu” (Mat 28:1). Kita bisa menggambarkan mereka ketika mereka melanjutkan perjalanan mereka … Mereka berjalan seperti orang-orang yang sedang pergi ke pemakaman, dengan langkah yang tidak menentu dan gontai, seperti orang-orang yang merasa sulit untuk percaya bahwa inilah bagaimana semuanya berakhir. Kita bisa menggambarkan wajah mereka, pucat dan berurai air mata. Dan pertanyaan mereka : Dapatkah Kasih benar-benar telah wafat?

Tidak seperti para murid, para perempuan hadir – sama seperti mereka hadir ketika Sang Guru menghembuskan nafas-Nya yang terakhir di kayu salib, dan kemudian, bersama Yusuf dari Arimatea, ketika Ia dibaringkan dalam kubur. Kedua perempuan yang tidak melarikan diri, yang tetap teguh, yang menghadapi kehidupan seperti apa adanya dan yang memahami rasa getir ketidakadilan. Kita melihat mereka di sana, di depan kubur, penuh dengan kesedihan namun sama-sama tidak mampu menerima hal-hal itu harus selalu berakhir seperti ini.

Jika kita mencoba membayangkan adegan ini, kita dapat melihat dalam wajah para perempuan sejumlah wajah lainnya : wajah para ibu dan para nenek, wajah anak-anak dan orang-orang muda yang menanggung beban yang memilukan dari ketidakadilan dan kebrutalan. Dalam wajah mereka kita bisa melihat tercermin semua orang yang, sedang berjalan-jalan di jalanan kota-kota kita, merasakan pedihnya kemiskinan yang mengerikan, dukacita yang lahir dari eksploitasi dan perdagangan manusia. Kita juga dapat melihat wajah mereka yang disambut dengan jijik karena mereka adalah para imigran, yang tercerabut dari negara, rumah dan keluarga. Kita melihat wajah-wajah yang matanya memperlihatkan suatu kesepian dan pengabaian, karena tangan mereka diperkerut dengan keriput. Wajah mereka mencerminkan wajah para perempuan, para ibu, yang menangis ketika mereka melihat kehidupan anak-anak mereka dihancurkan oleh korupsi besar-besaran yang melucuti mereka dari hak-hak mereka dan meremukkan impian-impian mereka. Dengan tindakan-tindakan keegoisan sehari-hari yang menyalibkan dan kemudian menguburkan pengharapan orang-orang. Dengan birokrasi yang melumpuhkan dan tandus yang berdiri di jalan perubahan. Dalam kesedihan mereka, kedua perempuan itu mencerminkan wajah semua orang yang, sedang berjalan-jalan di jalanan kota-kota kita, memperhatikan martabat manusia yang disalibkan.

Wajah para perempuan itu mencerminkan banyak wajah lainnya juga, termasuk mungkin wajah kalian dan wajah saya. Seperti mereka, kita bisa merasa terdorong untuk terus berjalan dan tidak memundurkan diri kita terhadap fakta bahwa berbagai hal harus berakhir seperti ini. Benar, kita membawa di dalam diri kita sebuah janji dan kepastian akan kesetiaan Allah. Tetapi wajah-wajah kita juga menanggung tanda luka, tanda begitu banyak tindakan ketidaksetiaan, tanda kita dan tanda-tanda orang lain, tanda dari upaya-upaya yang dilakukan dan perjuangan-perjuangan yang sia-sia. Dalam hati kita, kita tahu bahwa berbagai hal dapat berbeda tetapi, hampir tanpa menyadarinya, kita dapat bertumbuh terbiasa hidup dengan kubur, hidup dengan frustrasi. Lebih buruk lagi, kita bahkan bisa meyakinkan diri kita bahwa inilah hukum kehidupan, dan menumpulkan hati nurani kita dengan bentuk-bentuk pelarian yang hanya melayani untuk meredam pengharapan yang telah dipercayakan Allah kepada kita. Begitu sering kita berjalan seperti yang dilakukan para perempuan itu, berhenti di antara keinginan Allah dan kepasrahan yang suram. Tidak hanya Sang Guru yang wafat, tetapi pengharapan kita mati bersama-Nya.

“Maka terjadilah gempa bumi yang hebat” (Mat 28:2). Tanpa diduga, para perempuan itu merasakan getaran yang kuat, ketika sesuatu atau seseorang membuat bumi bergoncang di bawah kakinya. Sekali lagi, seseorang datang untuk memberitahu mereka : “Jangan takut”, tetapi sekarang menambahkan : “Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya”. inilah pesan yang, dari generasi ke generasi, diteruskan oleh Malam Kudus ini kepada kita : “Jangan takut, saudara dan saudari; Ia telah bangkit sama seperti yang telah dikatakan-Nya!”. Kehidupan, yang mati dihancurkan di kayu salib, sekarang dibangkitkan lagi dan berdetak lagi (bdk. ROMANO GUARDINI, Tuhan, Chicago, 1954, halaman 473). Detak jantung Tuhan yang Bangkit dianugerahkan kepada kita sebagai suatu karunia, suatu hadiah, cakrawala yang baru. Jantung yang berdetak dari Tuhan yang Bangkit diberikan kepada kita, dan kita diminta untuk memberikannya pada gilirannya sebagai sebuah kekuatan yang sedang mengubah, sebagai ragi kemanusiaan baru. Pada hari kebangkitan, Kristus menggulingkan batu kubur, tetapi Ia ingin juga memecahkan semua dinding yang terus kita kunci dalam pesimisme kita yang mandul, dalam menara gading kita yang dibangun dengan seksama yang mengasingkan kita dari kehidupan, dalam kebutuhan kita yang diwajibkan untuk keamanan dan dalam ambisi yang tak terbatas yang bisa membuat kita menodai martabat orang lain.

Ketika Imam Besar dan para pemimpin agama, berkolusi dengan orang-orang Romawi, percaya bahwa mereka dapat menghitung segala sesuatunya, bahwa kata akhir telah diucapkan dan bahwa terserah kepada mereka untuk menerapkannya, Allah tiba-tiba mendobraknya, menumbangkan seluruh peraturan dan menawarkan kemungkinan-kemungkinan baru. Allah sekali lagi datang menemui kita, menciptakan dan mengukuhkan sebuah masa baru, masa kerahiman. Inilah janji yang hadir sejak permulaan. Inilah kejutan Allah bagi umat-Nya yang setia. Bersukacitalah! Sebuah benih kebangkitan, sebuah tawaran kehidupan yang siap untuk dibangun tersembunyi di dalam kehidupan kalian.

Itulah apa yang pada malam ini kita dipanggil untuk mewartakannya : detak jantung Tuhan yang bangkit. Kristus hidup! Itulah apa yang mempercepat kiprah Maria Magdalena dan Maria yang lain. Itulah apa yang membuat mereka pulang dengan tergesa-gesa untuk memberitahu kabar tersebut (Mat 28:8). Itulah apa yang membuat mereka mengesampingkan kiprah yang sangat memilukan dan tampang sedih mereka. Mereka pulang ke kota untuk bertemu dengan orang-orang lainnya.

Sekarang bahwa, seperti dua perempuan, kita telah mengunjungi kubur, saya meminta kalian untuk pulang bersama-sama mereka ke kota. Mari kita semua menelusuri kembali langkah-langkah kita dan mengubah tampilan dalam wajah kita. Marilah kita pulang bersama-sama mereka untuk memberitahu kabar tersebut di semua tempat di mana kuburan tampaknya memiliki kata akhir, di mana kematian tampaknya satu-satunya jalan keluar. Mari kita pulang untuk mewartakan, berbagi, mengungkapkan bahwa benarlah : Tuhan hidup! Ia hidup dan Ia ingin bangkit lagi dalam seluruh wajah orang-orang yang telah menguburkan pengharapan, menguburkan impian, menguburkan martabat. Jika kita tidak bisa membiarkan Roh memimpin kita di jalan ini, maka kita bukanlah umat kristiani.

Lalu, marilah kita pergi. Marilah kita membiarkan diri kita dikejutkan oleh fajar baru ini dan oleh kebaruan yang hanya dapat diberikan Kristus. Semoga kita membiarkan kelembutan-Nya dan kasih-Nya membimbing langkah-langkah kita. Semoga kita membiarkan detak jantung-Nya menghidupkan kepingsanan hati kita.
_____

(Peter Suriadi – Bogor, 16 April 2017)

Sumber:

http://pope-at-mass.blogspot.co.id/2017/04/homili-paus-fransiskus-dalam-misa_16.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s